
Amara menyudahi ceritanya. Raka masih menatapnya sendu.
" Ehmm.. Mas Raka... Aku sudah selesai ceritanya lho..." Ujar Amara membuyarkan lamunan Raka.
" Oh.. Maaf.. Aku tidak tahu soal hubunganmu dengan mereka.. dan secara lancang mengundangnya. Aku pikir ini bisa jadi kejutan untukmu..." Raka tertunduk.
" Mas Raka berhasil kok.. Aku betul-betul terkejut dengan ini. Mungkin kalau Aku atau ibu yang mengundang, mereka tidak akan sudi menghadiri pernikahan cucunya sendiri.."
" Apa kau membenci mereka?" Tanya Raka.
" Tidak sama sekali... Aku harap mereka sudah berubah..."
Raka membawa Amara pulang ke rumahnya. Disana sudah ada Bu Rima, pak Wijaya dan Irgi yang sedang menunggu.
" Kalian sudah pulang... "
" Iya bu, Maaf terlambat tadi kami mampir untuk makan siang dulu."
Irgi menghampiri Raka.
" Tuan, semua barang-barang Bu Rima dan Nona Amara sudah saya bereskan seperti perintah tuan.."
" Ok. Sementara aku tidur di kamar tamu. Biar Amara di kamar utama."
Deg deg deg.. Amara langsung tertunduk mendengar kata kamar. Sebelumnya ia tidak terpikir soal ini sama sekali. Bagaimana nanti ia bisa tidur dengan seorang laki-laki dalam satu kamar?
Amara baru saha beristirahat sebentar, terdengar suara mobil di luar.
" Nak Raka sepertinya ada yang datang..."
" Biar Aku saja yang bukakan pintunya bu..." Amara.
__ADS_1
Saat pintu dibuka, Amara langsung mengenali wajah mereka. meskipun Amara tidak pernah bertemu dengan keduanya, tapi ia sering melihat wajah Kakek dan Neneknya di Figura yang dipasang Ayahnya.
Sementara Nyonya Ratmadja langsung menatap wajah cucunya.
Linangan air mata nampak tertahan di matanya. Tangannya gemetar membelai wajah seorang gadis cantik yang mengingatkannya pada mendiang Putra kesayangannya.
" Cantiknya putrimu Hardi... "
Nyonya Ratmadja memeluk Amara. Cucu yang tak pernah di anggapnya ada.
Tuan Ratmadja hanya termenung mengamati prilaku istrinya.
" Tuan dan Nyonya Ratmadja Silahkan masuk.. " Undang Raka.
Pandangan Tuan Ratmadja teralihkan dengan kehadiran sosok Raka.
' Dipta... Kenapa pemuda ini mirip sekali dengan Dipta..'
Setelah berkenalan, Raka membawa keduanya masuk ke dalam. Amara masih mematung tak percaya.
Bu Rima hanya memperhatikan mereka dari dalam.
Di ruang tamu, Nyonya Ratmadja masih terus disisi Amara. Kerinduan pada mendiang putranya seolah terobati dengan melihat wajah Amara.
Bu Rima menghampiri mertuanya sambil tertunduk. Semula, ia ragu untuk menyalami keduanya.
Flashback on
Kilas balik di masa lalu membuatnya diam membeku. Saat Rahardi membawa Istri dan Putrinya ke Rumah besar Ratmadja, Tuan Ratmadja menolak kehadiran menantu dan cucunya. karena ia merasa tidak pernah merestui hubungan Hardi dan Rima.
Rima hendak menyalami tangan Tuan Ratmadja, Yang ia dapat malah cacian.
__ADS_1
" Tangan ini tidak sudi dijabat oleh wanita tidak tahu malu sepertimu. Bawa pergi anakmu itu kalian hanya akan membawa penderitaan untuk Hardi selama hidupnya."
Flashback off
Bu Rima memejamkan matanya, Berusaha melupakan luka lama rasanya terlalu sulit.
Tapi membuka lembaran baru itu akan lebih baik.
Kali ini tuan Ratmadja membiarkan Bu Rima menyalimi tangannya. Entah untuk formalitas atau penerimaan.
" Bagaimana kabar Ibu dan Bapak?" Tanya Bu Rima hati-hati.
" Kami baik.. Kau hebat Rima.. Bisa membesarkan putrimu dengan baik meskipun tanpa Hardi."
Suasana berubah canggung.
" Eee.. Tuan, Anda mungkin lelah, silahkan beristirahat dahulu di kamar yang sudah di persiapkan..." ucap Amara hati-hati.
" Putri siapa kau?" Bentak Tuan Ratmadja.
Semua terkejut dengan pertanyaan Tuan Ratmadja.
" Bapak Apa-apan. Tentu saja dia putri Hardi. Dia cucu kita.. Apa kau tak lihat wajahnya?" Nyonya Ratmadja terlihat kesal pada suaminya.
" Kalau benar dia Putri Hardi, mengapa dia tidak memanggilku Kakek? Wajar kan jika aku mengira dia Putri orang lain.."
Semuanya tersenyum lega.
" Kakek... " panggil Amara lirih menahan isak tangis.
" Pada akhirnya butuh puluhan tahun untuk mendapatkan gelar Kakek dari kalian...." Tuan Ratmadja mendekap Cucunya. Air mata yang selama ini tertahan akhirnya pecah tak terbendung.
__ADS_1