
Pukul 03.00 meski sang surya belum menyapa. Erat sebuah dekapan membangunkan Amara.
Berbeda dengan hari suram yang lalu, kali ini akan selalu ada wajah tampan yang ia lihat pertama kali saat membuka mata.
Akan selalu ada wangi maskulin yang menjadi aroma terapi dalam tidurnya.
Melihat wajah Raka, Amara teringat ******* lembut semalam.
Amara tak menyangka akan berjalan sejauh ini. ia pikir akan selamanya hidup dalam ketakutan.
Merasa ada yang memandang wajahnya, Raka membuka matanya perlahan. Amara malu karena ketahuan diam-diam sedang memandang wajah suaminya.
" Pantas wajahku dingin.. Putri saljuku sudah bangun? Jam berapa sekarang?"
"Emm.. Masih Jam 3 pagi Mas.. tidur lagi saja.. Aku mau ke kamar mandi"
Kembali dari kamar mandi Amara duduk dan badannya bersandar pada kepala ranjang.
Kepala Raka beralih kepangkuan Amara.
Entah dapat keberanian dari mana Amara menyentuh dahi Raka dan membelai rambut Raka.
Kenyamanan yang tak pernah Raka rasa saat tangan Amara membelai rambutnya. Raka memejamkan kedua matanya.
Perasaan yang semakin membuncah tak terbendung. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan untuk siapapun.
" Amara..." Panggil Raka.
" Iya.." Amara menundukkan kepalanya ke arah wajah Raka. Lalu tangan Raka menekan tengkuk Amara dan mulai menciumnya.
Raka terlihat kesulitan menahan diri di dekat Amara. Bagaimanapun Raka seorang laki-laki normal.
" Maafkan Mas terlalu lancang. Akhir-akhir ini aku sulit menahan diri. Tapi aku masih menghormati keinginanmu jika belum siap..." Raka melirih dan bangkit dan duduk disebelah istrinya.
Amara tertunduk.
" Mas, bisakah Mas terus berbuat lancang padaku. Tanpa perlu menunggu aku siap?"
Raka terkejut dengan ucapan Amara.
"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan Amara? Apa kau tidak akan membenciku jika aku memaksamu?"
Ia menggeleng.
Raka merasa senang, Raka menarik Amara dalam dekapannya.
Raka mengecup kening istrinya, lalu turun kepipinya dan mulai ******* bibir ranumnya.
__ADS_1
Raka mengalihkan kecupannya kearah leher dan bagian dada Amara.
Drrttt..drrrttt...drrttt..
Sebuah panggilan diponsel Raka, memaksanya menghentikan aksinya.
Amara menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Meski ia tak lagi merasa takut seperti dulu.
' Cukup, Aku harus kendalikan diriku.'
" Arga, mengganggu saja!!!!!" umpat Raka yang terlihat kesal melihat ponselnya.
" Dijawab saja Mas, takut penting.." pinta Amara.
Raka menjawab panggilan telepon Arga.
" Hallo, Ada apa?"
" Tuan, maaf mengganggu. Soal masalah kantor cabang yang tuan tangani sudah beres. besok tuan bisa langsung menyelesaikannya. "
" Bagus, katakan pada mereka akan ada inspeksi mendadak dari kantor pusat!!! Ada lagi? Kau benar-benar menggangguku!!!"
" Maaf Tuan!! Tuan sendiri yang meminta saya melaporkan hal rahasia jam tiga pagi. " sergah Arga.
" Baiklah, Ada hal penting apa?"
"Soal keluarga Ratmadja..."
Raka keluar kamar dan mulai membicarakan soal perusahaan keluarga Ratmadja.
Setelah selesai dengan telepon dari Arga, Raka kembali ke kamar.
Sayangnya, Amara sudah tertidur.
Raka hanya tersenyum dan mengecup kening istrinya.
Pagi tiba.
Raka dan Amara bersiap berangkat ke kantor cabang. Hari ini Raka akan mengakhiri permainannya di sana.
Raka dan Amara kembali dengan penampilannya semula. Pak Rahmat menjemput mereka dan mengantar Amara ke kantor cabang.
" Sayang, Aku akan menemui Arga dulu. Kamu laporkan sitkon di kantor cabang agar tidak ada yang curiga. "
" Iya Mas. Hati-hati..."
Raka mengecup kening Amara dan menaiki mobil bersama pak Rahmat.
__ADS_1
Amara masuk ke kantor disana sudah ada mbak Yasmin, jeny dan beberapa karyawan lain.
" Mbak, maaf aku telat..." kata Amara melangkahkan kaki mendekati Yasmin.
" Belum telat kok. Ayo siapkan berkas-berkas. Hari ini ada inspeksi mendadak dari kantor pusat. Setengah jam lagi kita berkumpul di loby kantor untuk menyambut CEO dari pusat. "
Semuanya bersiap di meja masing-masing.
Yasmin menghampiri Amara.
" Nona, Apa Tuan akan mengakhiri sandiwaranya hari ini?" Bisik Yasmin pada Amara.
Amara tersenyum dan mengangguk.
" Benar. Tak ada yang curiga soal ini kan mbak? "
" Tidak Nona..."
Yasmin tersenyum puas. Dalam hatinya merasa sangat bersyukur pada akhirnya kecurangan atasannya bisa terbongkar.
Karyawan dan jajaran staf berkumpul di loby.
Mobil Raka datang.
Di ikuti mobil polisi di belakangya.
Raka membawa polisi dan memerintahkan mereka agar segera menangkap Direktur Hendrawan dan manager umum Gunawan.
Tak ada yang mengenali Raka dengan tampilan aslinya. Hendrawan dan Gunawan mencoba membela diri. Ia mulai menyalahkan karyawan baru bernama Arka dengan memeriksa beberapa file di komputer Arka.
" Tuan lihat sendiri kan saya dan pak Hendrawan tidak terlibat hal ini." Kilah Gunawan.
" Oh, jadi kalian menyalahkan karyawan bernama Arka dalam hal ini? " Selidik Raka.
Raka langsung menunjukkan video yang diambilnya kemarin.
" kenapa terkejut? Kalian gagal menjadikan Arka kambing hitam?" Ucap Raka dengan nada tinggi.
Raka memakai kacamata dan mengoleskan krim rambut.
" kalian kenal siapa saya?"
Terdengar kasak kusuk beberapa orang yang mulai paham dengan situasi yang sedang terjadi.
Terlihat semburat ketakutan diwajah Hendrawan dan Gunawan. Keduanya berlutut dan memohon maaf.
" Maafkan kami Tuan Raka. Kami akan mengembalikan uang yang kami ambil dari perusahaan ini." Hendrawan memelas.
__ADS_1
" Bawa mereka selesaikan sesuai hukum yang berlaku. Sita seluruh hartanya untuk mengganti kerugian karyawan lain."
Raka menunjuk Yasmin sebagai manager umum di sana. Sedangkan posisi direktur akan digantikan dari karyawan pusat.