
Irgi meminta izin masuk ke ruangan CEO untuk menanda tangani berkas.
" Irgi,ada laporan apa tentang Amara?"
"Seperti yang tuan tahu dari pak Wijaya, Nona Amara masih single. Ia hanya hidup berdua dengan ibunya. Sementara kakek dan neneknya... "
" Dia merupakan cucu keluarga Ratmadja." Irgi berbicara dengan hati-hati.
" Ya, Aku juga sudah tahu. Aku akan menemui ibunya besok. persiapkan semuanya!"
" Tapi Tuan.." sanggah Irgi
" Kenapa? Tidak biasanya kau menyela perintahku?" Tanya Raka.
" Maaf tuan, ada beberapa hal yang sangat penting tentang Nona Amara. Aku baru saja menerima laporan dari orang yang memata-matai Nona Amara.."
Dahi Raka mengkerut. Ia terlihat penasaran.
" Nona Amara, Mengidap Androphobia tuan.."
" Androphobia? Bagaimana bisa?"
Raka sangat terkejut dengan hal tersebut.
" Iya tuan.Tapi masih sedikit ringan, karena Nona Amara hanya takut dan terlihat cemas saat di sentuh pria. Jika hanya berinteraksi atau sekedar jabat tangan ia masih bisa menguasai diri."
__ADS_1
" penyebabnya masih kami selidiki. Dan karena hal itu pula, Nona Amara tidak sedang menjalin bahkan belum pernah berhubungan dengan laki-laki manapun. Ia hanya akrab dengan Zayn.." sambung Irgi.
" Aku harus tanya pak Wijaya. Dari obrolannya kemarin, sepertinya dia tahu penyebabnya. " Raka.
***
Raka mendatangi Pak Wijaya di kantornya.
" Silahkan masuk Tuan... Ada yang bisa saya bantu?"
" Pak Wijaya, Maaf sebelumnya saya tidak sempat mengabari anda. Ada yang ingin saya Bicarakan..."
" Tentang apa Tuan?"
" Panggil saya Raka saja pak.. Saya ingin membahas soal Amara..."
" Saya sudah memutuskan akan menemui ibu dari Amara. Saya tidak suka bermain-main atau menjalin hubungan yang tidak pasti.. "
Pak Wijaya mengangguk mencoba mencerna perkataan Raka.
" Apa ini tidak terlalu cepat Nak?"
" Tidak Pak.. Walaupun terkesan mendadak, saya sudah memikirkan ini masak-masak. dan yang ingin saya tanyakan.. Apakah benar Amara mengidap Androphobia?"
" Ternyata diam-diam Nak Raka sudah menyelidikinya ya? "Pak Wijaya tersenyum melihat keseriusan Raka.
__ADS_1
" Karena memang saya sudah mencarinya bertahun-tahun... Dan sekarang, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.."
" Amara memang mengidap Androphobia, tapi dokter bilang, kasusnya tidak terlalu serius dan masih bisa di sembuhkan dengan beberapa terapi.. "
" Boleh saya tahu penyebabnya? Saya tahu saat SMA dulu pernah melihatnya beberapa kali , Amara tidak seperti itu.."
" ya, kejadian itu bermula saat mendiang Ayahnya mengalami kebangkrutan. Ayahnya terlibat kasus penggelapan dana dan semua harta miliknya disita bank. Hal itu yang membuat penyakit jantungnya kumat."
" Ayah Amara dirawat di rumah sakit, Amara terpaksa mencari pinjaman untuk biaya rumah sakit ayahnya. Tanpa sepengetahuan ibunya, Amara mendatangi kawan-kawan ayahnya, termasuk saya. Tapi saat itu, saya tidak bisa membantunya, karena saya baru saja membuka perusahaan ini.. saya menyuruhnya menemui rekan kerja ayahnya Pak Tedi pemilik Welly group."
" Pak Tedi berjanji akan mengurus semua biaya rumah sakit ayah Amara dan memerintahkan Amara mengambil cek di apartemennya. Beruntung saat itu saya yang mengantarnya dan Ponsel Amara tertinggal di mobil. Saya perintahkan supir saya menyusul Amara ke Apartemen pak Tedi dan mendapati Amara yang berteriak minta tolong."
Raka terlihat geram..
" Karena supir saya lama tidak kembali, Saya menyusul dan melihat Supir saya sedang dipukuli pak Tedi. Dan Amara dengan pakaian yang sobek mendekap tubuhnya di pojok ruangan.. "
" Saya langsung berteriak minta tolong dan segera menelpon polisi. Amara selamat dari pemerkosaaan itu. Namun kondisi psikisnya sedikit terganggu.. Rasa Trauma membuatnya mengidap Androphobia. "
Raka tidak menyangka Amara memiliki masa lalu yang begitu kelam. Tak beda jauh dengan dirinya yang sampai sekarang masih Trauma jika mengingat semua yang menimpanya di panti asuhan dulu.
" Saya akan berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit rasa trauma nya. Saya tetap akan menikahinya." Kata Raka mantap.
" Apa Nak Raka sudah membicarakan ini dengan Amara?"
" Tidak pak. Saya tahu, Amara pasti akan menolak." Jawab Raka sendu.
__ADS_1
" Saya ada rencana. Kalau memang Nak Raka bersedia...."
Raka menyetujui rencana Pak Wijaya, dan langsung pergi menuju rumah Amara untuk bertemu ibu Amara.