RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 24 - Janji


__ADS_3

Pulang dari kantor, Raka dan Amara langsung kembali ke rumah.


" Mas, apa tidak mencurigakan kita tinggal di rumah mewah? menggunakan mobil mewah? Takutnya ada yang diam-diam mengikuti kita."


" Mas sudah minta Arga mengatur semuanya. Kamu bawa yang di perlukan saja. Malam ini juga kita pindah ke apartemen di dekat kantor cabang. Jadi kita kekantor menggunakan motor.. "


Amara segera menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.


Setelah makan malam, Amara dan Raka langsung menuju Apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka sementara.


" Ini tempat tinggal kita untuk sementara. Kamu gak masalah kan?" Tanya Raka.


" ini bagus kok mas, nyaman. Bahkan lebih bagus dari tempat tinggalku dan Ibu dulu. "


" Kamarnya di atas. Kamu istirahat dulu. Mas masih ada kerjaan." Raka beranjak membawa laptopnya.


Pukul 10 Raka menyusul istrinya ke kamar. Amara belum tertidur dan masih memainkan ponselnya.


" Kamu belum tidur?"


" Belum mas.."


Melihat Amara yang senyum-senyum sendiri, Raka mendekat.


" Kamu lagi chat sama siapa?"


" Sama Zain... "


Raut wajah Raka berubah. Amara yang menyadari hal itu langsung meletakkan ponselnya.


" Mas butuh sesuatu?"


" Tidak ada. Tidurlah..."


Raka mulai membaringkan tubuhnya disebelah istrinya dan menghadap kesisi lain.


" Mas... Mas marah ya?"


" Tidak.. "


" kenapa tidurnya menghadap kesana?"


" Mas takut menghadap ke kamu.."


" Takut kenapa??"


Raka berbalik menghadap Amara.


" Mas takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu."


Dan


Cup


Ciuman Raka mendarat dibibir Amara. Baru sesaat menikmati bibir manis istrinya, Raka baru teringat Amara yang masih belum siap segera melepas ciumannya.


" Maaf.. Tidurlah.."


Amara berbalik membelakangi Raka. Air matanya menetes begitu saja


Maafkan aku mas.. aku membuat mas menderita...


***

__ADS_1


Mentari muncul di ufuk timur, Raka dan Amara bersiap ke kantor. Selama sarapan keduanya saling diam. Hanya menunjukan tatapan dan suara hati masing-masing yang tertahan.


Raka memakaikan helm pada istrinya.


" Maafin mas soal semalam. Mas tidak bisa menahan diri melihat bibir manismu..."


" Tidak apa Mas..." Amara tersenyum.


Raka terkejut. Ia pikir Amara akan marah karena ciuman semalam.


" Ayo berangkat !! Kita harus datang lebih awal sebelum karyawan yang lain."


Keduanya menaiki sepeda motor untuk berangkat ke kantor. Raka memacu kendaraannya dengan cepat. Amara refleks memeluk Raka.


" Mas, Jangan ngebut..."


Raka tersenyum. Bukannya memperlambat, Raka malah menambah kecepatannya. Amara semakin erat memeluk Raka.


Tak lama mereka sampai di kantor. Raka melepaskan helm Amara.


" Mas.. Kalau ngebut lagi aku pulangnya jalan kaki ajah.." Amara cemberut.


" iya.. iya.. kalau gak gitu kamu gak mau meluk Mas.. "


" Mass...!!" Amara mengerucutkan bibirnya.


" Bibirnya dikondisikan.. Nanti Mas cium nih.." Raka terlihat gemas.


" Hmm...Hmm.. Pagi-pagi ke kantor mau ngapain?" Tegur security kantor.


" Numpang pacaran pak..." Jawab Raka.


" Maaf Pak, apa karyawan lain belum ada yang datang?"


" Belum.. sekitar setengah jam lagi biasanya. Cuma Pak Gunawan yang biasanya sudah datang jam segini."


" Pak Gunawan itu Manager umum di kantor ini... "


Raka dan Amara memasuki kantor. Amara ke toilet, Sementara Raka langsung masuk ke ruangannya.


Ia terkejut mendapati Gunawan Manager umum sedang di sana.


" Pagi Pak... Maaf sedang apa bapak di meja saya?" Tanya Raka.


Gunawan terkejut.


Sial, padahal sedikit lagi.


" Saya sedang mengontrol semua kerjaan karyawan disini. Saya dengar beberapa komputer disini bermasalah..."


Dari gelagatnya, Raka mengetahui niat licik manager tersebut .


Aku tahu, kamu akan memasukkan bukti-bukti pencucian uang ke komputer saya. Licik sekali. Beraninya menjadikanku kambing hitam.


" Iya, silahkan di lanjutkan pak.. Saya mau ke toilet sebentar."


Raka bukan ketoilet. Ia mengambil ponselnya untuk merekam perbuatan manager tersebut.


Amara yang hendak masuk ke ruanganpun di tahan Raka.


" Berhasil.. Mulai sekarang gue Aman. Semua bukti kecurangan gue dan pak Hendrawan sekarang berpindah pada anak baru itu."


Gunawan tersenyum puas. Raka menyimpan ponselnya. Lalu mendorong Amara agar merapat dekat lemari dokumen.

__ADS_1


Posisi Raka dan Amara berhadapan. Kedua tangan Amara berada di dada Raka. Terdengar jelas deru nafas Raka.


Ya tuhan, kenapa posisinya seperti ini?


Raka masih melihat kearah ruangannya. Gunawan keluar dari sana. Ia tidak melihat Raka dan Amara yang bersembunyi di dekat lemari dokumen.


Setelah di rasa cukup aman, wajah Raka menghadap ke Amara. Amara langsung memalingkan wajahnya kesisi lain.


Raka tersenyum. Ia mengecup kening Amara.


" Sudah aman.. ayo masuk.."


Karyawan lain mulai berdatangan. Dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.


---------------------


Jam kantor selesai. Semua karyawan bersiap untuk pulang.


Yasmin salah seorang senior memanggil Amara dan Raka.


" Amira, Arka.. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian... bisa minta waktunya? Tapi tidak disini.."


Amara dan Raka berpandangan.


Lalu Raka mengangguk.


" Kita ngobrol di kafe saja mbak.."


Sampai di kafe mereka memesan kopi. Yasmin memulai obrolannya.


Beberapa obrolan Yasmin menunjukkan rasa tidak puas atas kepemimpinan Hendrawan.


" Ngomong-ngomong, Apa yang ingin Mbak tanyakan pada kami?" Tanya Raka.


" Terus terang, Saya penasaran sama pertanyaan kamu saat makan siang kemarin..."


" Pertanyaan yang mana mbak?"


" Soal gaji karyawan. Karena masalah itu bersifat intern. Jadi dari mana kamu tahu?"


" Soal itu...." Amara terlihat bingung.


"Apa kalian orang yang dikirim dari kantor pusat?"


Raka sudah menyelidiki semua karyawan di devisi keuangan. Dan tidak ada satupun yang terlibat soal pencucian uang yang dilakukan manager dan direkturnya.


" Saya Raka Pradipta. Dan ini istri saya Amara. Kami menyamar untuk membuka rencana busuk Hendrawan dan Gunawan."


Yasmin terkejut. Ia tidak menyangka berhadapan langsung dengan CEO Pradipta corp.


" Tuan Raka?" Yasmin langsung tertunduk.


" Iya mbak Yasmin.. Tidak usah seperti itu. Saya harap mbak merahasiakan hal ini sampai saya mengumpulkan cukup bukti untuk menjebloskan mereka kedalam penjara."


" Tentu saja Tuan.. saya akan merahasiakannya.."


" Panggil Arka saja mbak.. takutnya mbak keceplosan panggil tuan didepan karyawan lain. " ujar Amara.


" Baiklah.. Oh iya, sebetulnya saya ada beberapa file rahasia yang mungkin bisa menjadi bukti kecurangan Pak Hendrawan dan Gunawan. " Yasmin mengeluarkan USB dari tasnya.


" Saya sudah lama ingin melaporkan hal ini ke pusat. Tapi tidak berani. Sebelumnya ada yang mengancam pak Gunawan dan ingin melaporkan pada kantor pusat. Orang itu menghilang sampai sekarang belum di ketemukan. Jadi saya mengurungkan niat saya. "


" Terima kasih mbak.. Kami janji akan menyelesaikan permasalahan ini secepatnya."

__ADS_1


" Saya juga akan menyita seluruh harta Hendrawan dan Gunawan untuk membayar semua hak-hak karyawan yang di ambil keduanya." Janji Raka.


" Saya pegang janji Tuan. Terima kasih banyak...."


__ADS_2