
Raka keluar ruangan meninggalkan mereka. Ia menyandarkan tubuhnya di sebuah pilar. Matanya kosong menatap kedepan.
Seseorang mendekatinya.
" Kenapa kau keluar?"
" Bukan urusanmu." Jawab Raka ketus.
Tuan Dipta tersenyum. Lalu menghela nafas.
" Ternyata bukan hanya wajah kita saja yang mirip. Sifatmu pun sama sepertiku dulu."
" Jangan pernah samakan aku denganmu. Karena kebodohanmu di masa lalu tidak akan pernah ku lakukan."
" Mas Raka...."
Raut wajah Raka berubah setelah mendengar Amara memanggilnya. Tanpa ragu-ragu Amara memeluk Raka, dimatanya penuh rasa bersalah karena telah menampar Raka.
" Kenapa peluk-peluk?"
Amara melepaskan pelukannya.
" Mas maafkan aku.. Mas boleh hukum aku kalau Mas mau.. "
Raka hanya menggelengkan kepalanya. Amara melihat ke arah Pria di sebelah Raka yang sedang tersenyum.
" Hmm.."
Amara baru menyadari ada orang lain yang memperhatikannya.
" Maaf Tuan, Apa Tuan tamu Kakek?"
" Tidak Nak. Aku sahabat karib ayahmu. "
Amara memperhatikan wajah pria itu. Mirip sekali dengan Raka.
" Wajah anda mirip suami saya. Apa kalian kerabat?"
" Benarkah? Sebetulnya saya..."
" Bukan apa-apa.. Ayo masuk" Raka memotong ucapan Tuan Dipta dan hendak membawa Amara kembali ke dalam. Baru beberapa langkah, Seseorang memanggil.
" Pak Bos.. Amara..."
" Zain?? Kenapa kesini?" Amara heran.
" Pak Bos yang minta bawa bokap kesini."
Pak Wijaya keluar dari mobil dan lama terpaku menatap sosok Tuan Dipta.
__ADS_1
" Wijaya!!!" Panggil Tuan Dipta seraya mendekat.
" Dipta...Apa aku tak salah lihat? Kau masih hidup?"
" Memangnya kau ingin aku mati?"
Tuan Dipta memberi tinjuan kecil di lengan Pak Wijaya seperti yang biasa ia lakukan dulu saat masih muda.
Pak Wijaya memeluk Tuan Dipta.
" Hey... Kau tidak merindukanku Wijaya?"
" Hardi? Ba.. Bagaimana bisa??" Pak Wijaya kembali terkejut.
" Kenapa? Kau menginginkan aku mati juga?"
" Ah Brengsek kalian!!!" Umpatan yang keluar dari mulut Pak Wijaya malah membuat mereka saling merangkul.
Zain dan Amara terlihat heran menyaksikan keakraban tiga orang pria yang tak lagi muda itu.
" Apa hubungan mereka bertiga Mas?" Tanya Amara.
" Mereka bertiga bersahabat sejak dulu. Bahkan almarhum ibuku, adalah sepupu Pak Wijaya."
"Kita saudaraan dong Pak..
Emm Sebentar... Nama Ibu Pak Raka Bu Arini bukan?Apa profesinya dulu seorang guru TK?" Selidik Zain sambil mengingat seseorang.
" Mama sering menceritakannya dulu... Tapi Mama bilang Bu Arini, suami dan putranya sudah tewas saat kecelakaan."
" Tidak.. 20 tahun lalu aku dititipkan beberapa hari dipanti asuhan untuk menghindari kejaran kawanan mafia yang mengincar Ayahku. Saat mereka akan menjemputku, kecelakaan itu terjadi. Sebelumnya, Ayahku berhasil diculik mereka. Sementara ibuku kabur dan melanjutkan perjalanan bersama sopir untuk menjemputku. Naas, diperjalanan mereka mengalami kecelakaan karena rem mobil yang tidak berfungsi..."
" Sopir Ibu jenazahnya tidak lagi utuh. Sehingga mereka menyangka itu adalah Ayahku. Sementara Ibu meninggal karena kehilangan banyak darah. Ibuku sedang mengandung saat itu. benturan keras saat kecelakaan membuatnya mengalami pendarahan hebat. Akhirnya meninggal. Dan... " Raka menunjuk ke arah Tuan Dipta.
" Pria itu tetap hidup sementara Ibuku harus menanggung kematian dirinya dan janinnya bersamaan. "
" Siapa Pria itu??" Tanya Zain.
" Pradipta Nagaswara. Dia Ayahku..."
Amara dan Zain terkejut dengan pengakuan Raka. Mereka tidak menyangka, Ayah mereka merupakan sahabat karib sejak dulu.
***
Bu Rima termenung di kamarnya. Nyonya Ratmadja mencoba mengajaknya berbicara.
" Apa yang kau pikirkan? Suamimu masih hidup.. Hardi kita kembali Nak..."
" Apa Ibu tahu bagaimana rasanya dipermainkan takdir? Kenapa baru sekarang Mas Hardi kembali? Kemana dia dulu saat aku kesulitan membesarkan putriku seorang diri? Sekarang, saat keadaan membaik, dia datang seolah tanpa dosa.."
__ADS_1
" Jangan menyalahkan takdir Nak... Cobalah berdamai dengan hatimu. Berikan Hardi waktu untuk menjelaskan semuanya. "
" Ibu tidak tahu apa saja yang sudah ku lalui tanpanya. Ibu tidak tahu bagaimana aku menjalani semuanya... Aku bahkan nyaris kehilangan kewarasan putriku Amara.. Kalau bukan karena Raka, mungkin sampai sekarang Amara masih hidup dengan kegilaannya."
" Apa maksudmu?"
" Selama ini Amara mengidap Androphobia. Sejak kejadian naas yang hampir menimpanya waktu itu. Ia ingin menyelamatkan nyawa ayahnya. Membantu biaya pengobatan Mas Hardi dengan meminjam uang pada Tuan Tedy pemilik Welly Group. Tapi Pria terkutuk itu hampir memperkosa Amara yang saat itu masih dibangku SMA. "
Nyonya Ratmadja memegang dadanya. Ia begitu terkejut dengan apa yang pernah menimpa cucunya.
" Ibu tidak apa-apa?"Tanya Bu Rima yang khawatir dengan kondisi Nyonya Ratmadja.
" lanjutkan ceritamu.. aku tidak apa-apa.."
" Amara selamat dari pemerkosaan tersebut karena Wijaya dan supirnya berhasil menyelamatkannya. Tapi trauma itu membuat Amara dihantui rasa takut pada setiap laki-laki"
" Dia selalu mengatakan tidak ingin menikah. Dia benci semua laki-laki.. Bahkan setelah apa yang menimpanya, Ayahnya malah pergi meninggalkannya."
Nyonya Ratmadja memeluk Bu Rima.
" Maafkan Ibu.. Seandainya dulu Ibu dan Bapak memperlakukan kalian dengan baik. Kalian tidak perlu menderita.. Ibu benar-benar menyesal Nak.. "
Tuan Ratmadja mendengar percakapan dari luar kamar. Ia menyandarkan tubuh tuanya di dinding dengan sebelah tangannya disangga tongkat.
" Aku akan menebus semua kesalahanku pada kalian...." Tuan Ratmadja memejamkan matanya.
" Pa.. "
" Hardi.."
Hardi memeluk Tuan Ratmadja.
" Kenapa kau tidak membenciku saja. Kau dengar sendiri.. Istri dan anakmu telah banyak melalui penderitaan karena aku. Aku tidak pantas mendapatkan maafmu..."
" Tidak Pah.. Ini kesalahan Hardi.. Hardi durhaka pada Papa.. Hardi selalu melawan Papa.. tidak pernah mendengarkan Papa.. Keluargaku menderita karena dosa-dosaku.. "
Tuan Ratmadja menggelengkan kepala. Wajah tua nan garang itu banjir dengan airmata. Air mata penyesalan.. juga kebahagiaan. Bahagia bisa berkumpul bersama anak cucu dan menantunya.
" Bujuklah Istrimu. Buat dia mengerti. Kita mulai semua dari awal. "
***
Raka, Amara, Zain dan Arga berkumpul di halaman belakang.
" Arga.. Sudah ada kabar dari saudaramu?"
" Irgi masih menanganinya. Tuan Dion mencari anda. Dia mengkhawatirkan kondisi anda. "
" Setelah kembali ke Jakarta aku akan menemuinya. Kau boleh kembali lebih dahulu. Bantu Irgi dan bungkam semua yang mencari tahu tentang berita pernikahanku. Soal berita yang tersebar di Media, Kakek yang akan mengurusnya. "
__ADS_1
" Baik Tuan.. Saya permisi.. "