
Sebelum Arga kembali, Mereka menyusun rencana untuk menghadapi Adyaksa. Serta mencari tahu motif kejahatannya selama ini.
Malamnya, Pak Hardi menemui Bu Rima yang masih mengurung diri di kamar. Ada Amara yang sedang membujuknya untuk makan.
" Nak... Biar Ayah yang membujuk Ibu mu.. "
Amara meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk pauk, lalu beranjak meninggalkan Ibu dan Ayahnya.
" Bu, Makanlah..." Pak Hardi melayangkan satu suapan ke mulut Bu Rima.
" Jelaskan semuanya!!!!" Pinta Bu Rima. Pak Hardi meletakkan piring tersebut diatas nakas.
" Aku tahu, Kau kecewa. Aku pergi disaat kalian butuh aku. Tapi semuanya di luar kendaliku. Aku pikir aku sudah kembali kepangkuan ilahi. Ternyata penyakitku tidaklah parah. Yang memperparah kondisiku adalah dokter suruhan Adyaksa. "
" Ia memberikan suntikan yang membuat jantungku berhenti berdetak selama beberapa jam. Adyaksa berhasil membawaku dan menyembunyikanku di suatu tempat. Tempat itu lebih dari sebuah penjara. Bertahun-tahun aku dikurung disana tanpa tahu keadaan kalian."
" Beruntung aku bertemu Dipta. Dulunya Dipta bagian dari mereka. Entah apa penyebabnya ia di tuding sebagai pengkhianat Dipta juga menjelaskan bagaimana Adyaksa dan kawanan mafia itu mengahancurkan keluarganya. "
" Kenapa tidak mencoba kabur?"
" Sudah... Ratusan kali aku mencobanya, mereka berhasil menangkapku lagi. Terakhir, mereka mengancamku akan menghabisi kalian jika aku mencoba meninggalkan tempat itu. "
" Aku tahu penderitaanmu membesarkan Amara sendiri. Namun aku tak berdaya disana. Aku seperti orang gila, sering dianiaya, Sulit mendapatkan makanan. Aku bertahan demi kalian. Aku tidak ingin nyawa kalian terancam karena aku."
"Jangan di lanjutkan Yah... Aku tidak kuat mendengarnya." Bu Rima merasakan sesak.
" Sejak dulu, kau selalu menyelesaikan masalahmu dengan airmata. Menangislah... Jika setelahnya, beban dihatimu menjadi ringan. "
Bu Rima memeluk suaminya. Melepas rasa rindu yang beberapa tahun ditahannya.
***
Zain dan Pak Wijaya beristirahat dikamar tamu yang sudah disediakan. Sementara Tuan dan Nyonya Ratmadja masih berbincang dengan Tuan Dipta.
Olivia kembali ke kamarnya setelah sebelumnya meminta maaf karena salah paham pada Raka.
Amara membawakan secangkir teh untuk Raka yang mulai sibuk dengan laptopnya di kamar.
__ADS_1
" Mas ini..."
" Terima kasih. Letakkan saja di nakas. " Jawab Raka acuh.
" Mas masih marah ya.. Aku dan Oliv kan sudah minta maaf.."
" Gak marah." Matanya masih mengarah pada laptop.
Raka sengaja menggoda Amara.
Merasa tak di gubris, Amara pergi.
" Mau kemana kamu? Ini sudah malam.." Tanya Raka.
" Cari yang segar-segar. Disini panas!!!" Jawabnya Ketus.
***
Amara mengenakan pakaian renang dan mulai membenamkan tubuhnya kedalam kolam renang yang terletak di lantai teratas rumah Opanya.
Amara menggerakkan tubuhnya dan mulai menyusuri kolam dari sisi kesisi. Rambut basahnya menambah kesan sexi bagi siapa saja yang melihatnya.
Raka meneguk kasar salivanya melihat aktifitas istrinya di dalam air.
" Mas kenapa kesini?" Amara menyilangkan tangan di dadanya.
" Cari yang segar-segar. Kenapa ditutup? Untungnya yang kesini aku, Kalau orang lain bagaimana?"
Amara melirik ke arah handuk kimononya yang berada di dekat Raka. Raka bergegas mengambilnya dan mendekat ke arah Amara.
" Sudah malam, jangan terlalu lama di air. Kau bisa sakit lagi..."
Raka mengulurkan tangannya. Amara ragu-ragu untuk keluar dari Air, karena ia memakai pakaian renang yang cukup terbuka.
" Mau sampai kapan kau menatapku? Ayo naik!" Ajak Raka.
Amara menunduk lalu meraih tangan Raka untuk naik ke permukaan.
__ADS_1
Raka dengan lembut memakaikan handuk pada Amara. Tangannya membelai rambut istrinya yang basah. Sementara mata mereka saling menatap.
Raka mendekatkan wajahnya pada telinga Amara.
" Malam ini, kau begitu menggoda. Kau juga sangat..."
Amara berbalik memunggungi Raka. Kakinya hendak melangkah menjauh, tapi tubuhnya tertahan karena rengkuhan Raka.
" Sexy " bisik Raka ditelinga istrinya. Kemudian mengecup dan memberi gigitan kecil di daun telinga Amara.
Amara berbalik. Wajah cantiknya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah suaminya. Raka menyatukan dahinya dan dahi Amara.
" Kali ini kau tidak bisa lari lagi sayang, Aku sudah katakan akan mengambil apa yang sudah menjadi hakku saat kembali. Bisakah kau memberikan itu sekarang?"
Amara tak bisa berkata-kata.
Raka menggendong Amara ala bridal style ke kamarnya.
" Kau belum menjawab pertanyaanku sayang. Apa kau bersedia memberikan tubuhmu untukku?"
Karena lama tak ada jawaban, Raka berpikir istrinya masih belum siap.
" Tak apa jika kau belum siap. Aku akan menunggu lagi. Aku tidak ingin memaksamu."
Raka merebahkan dirinya di atas kasur. Amara berlari ke kamar mandi.
Ia memejamkan matanya lama.
Raka menghela nafas. Nampaknya ia masih harus bersabar untuk menjamah istrinya. Beberapa saat kemudian, Amara keluar dari kamar mandi.
" Aku siap Mas, Lakukanlah!!!"
Amara menarik tali dan membuat handuk kimononya terbuka yang memperlihatkan tubuh polosnya.
Raka memandang mata istrinya. Melihat ketulusan terpancar disana.
Raka yang sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya, langsung menarik dan menindih tubuh istrinya.
__ADS_1
Malam itu untuk pertama kalinya Raka mendapatkan hak penuh sebagai suami dari wanita yang sangat di cintainya.