
" Boleh kami masuk Nak?" Tanya pak Wijaya.
" Oh.. Maaf.. Mari, Silahkan Pak... "
Bu Rima menyambut dengan ramah. Lalu memerintahkan Amara mengambil Makanan dan minuman yang tadi sudah disiapkan ibunya.
Raka mencium tangan Bu Rima. Amara melihatnya dari dapur, ibunya tampak sangat akrab dengan Raka.
Setelah berbasa basi, bu Rima lalu memanggil Amara dan mulai menjelaskan semuanya.
" Kesini Nak, ada yang ingin kami bicarakan padamu !"Kata bu Rima.
Amara duduk disebelah ibunya.
" Amara sayang, Kamu dan Nak Raka sudah saling mengenal kan?"Tanya ibunya.
" Sudah bu.."
Bu Rima mengambil nafas panjang...
' Maafkan ibu Amara sayang.. ibu terpaksa berbohong demi kebaikanmu Nak...' kata bu Rima dalam hati.
" Mendiang ayahmu sebelum meninggal telah menjodohkanmu. Ia berpesan agar kamu bisa memenuhi amanahnya."
"Maksud ibu?"Tanya Amara penasaran.
" Ayahmu telah menyiapkan calon suami untukmu. Nak Raka lah orangnya. Jadi hari ini, Nak Raka kesini untuk melamarmu sekaligus menentukan tanggal pernikahan kalian..."
" Tapi .. Bagaimana bisa? Ayah tidak bicara apapun padaku waktu itu..."
" Ayahmu tahu, saat itu kamu masih shock. Itu sebabnya ia tidak mau menambah beban pikiranmu." Jelas ibunya.
" Betul Nak Amara, ini surat yang dititipkan mendiang ayahmu. Dia memintaku memberikannya padamu jika waktunya sudah tepat." Kata pak Wijaya sambil menyerahkan surat itu.
Disurat itu memang tertulis bahwa Amara harus menikah dengan Raka Pradipta. Terdapat tanda tangan dan foto saat ayahnya menulis surat itu.
" ini memang tulisan ayah.. tanda tangannya juga.. " kata Amara.
__ADS_1
Amara masih tidak menyangkanya. Dalam diam, Ia menatap surat itu... Matanya tampak berkaca- kaca..
"Kenapa Ayah lakukan hal ini? Aku masih belum siap..." Lirih Amara dalam hatinya.
" Apa kamu mau memenuhi amanah ayahmu nak? " tanya Bu Rima perlahan..
Amara hanya terdiam..
"Bu, bolehkah saya bicara dulu dengan Amara?" Tanya Raka.
" Silahkan, bicaralah.. kami ke balkon dulu"
Bu Rima, pak Wijaya, dan Irgi pergi kebalkon.
" Maaf, mungkin ini terlalu mendadak.."
Raka membuka percakapan.
" Jika kau keberatan menjalankan amanah ayahmu, Aku akan batalkan perjanjian pernikahan ini dengan ayahmu.. Tolong tunjukkan dimana makam beliau. Aku ingin meminta maaf karena tak dapat memenuhi perjanjian ini...." lanjut Raka.
Amara tertegun dengan ucapan Raka.
Ternyata Raka malah merasa bersalah dan ingin meminta maaf pada Ayahnya.
" Tidak Pak.. Aku tidak keberatan.. sudah menjadi Kewajibanku sebagai anak melaksanakan amanah ayah... hanya saja aku... "jawab Amara ragu.
" Aku sungguh tidak memaksamu.." Potong Raka.
" Baiklah, aku sudah tahu jawabannya.. biar nanti aku yang katakan pada pak Wijaya dan ibumu.. "
Bu Rima, Pak Wijaya dan Irgi kembali..
" Bu,Maafkan saya.. Nampaknya Amara terlihat sangat kebe...."Raka memulai namun ucapannya dipotong Amara.
" Aku terima lamaran ini. " Kata Amara dengan suara lantang.
" Silahkan tentukan tanggal pernikahannya... !"
__ADS_1
Raka tersenyum.
" Alhamdulillaah, Syukurlah.. ibu pikir kamu akan menolak..."
" Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi.. " kata Raka.
" apa tidak terlalu cepat Nak?" Tanya Bu Rima.
" Hanya akad nikah bu, kalau untuk resepsi aku akan menundanya sampai Amara siap." Jawab Raka.
" Baiklah... "
" Rima kamu tenang saja, masalah persiapan pernikahan, saya yang akan urus.. kamu cukup beritahukan saja kepada keluarga terdekatmu..."
Pak Wijaya memang sudah berjanji pada mendiang Rahardi ayah Amara. Ia akan siap membantu sahabatnya Rima dan putrinya semampunya.
Pak Wijaya Pamit, Raka memerintahkan Irgi untuk mengantar Pak Wijaya pulang.
"Bu, saya juga pamit pulang.. terima kasih telah memberi saya kesempatan ini... " kata Raka pada bu Rima.
Bu Rima mengusap kepala Raka dengan lembut sambil tersenyum..
" Tentu saja Nak, ibu percaya kamu bisa bahagiakan Amara nanti... "
Amara mengantar Raka sampai depan.
"kalau kamu ragu dengan keputusanmu katakan saja.. "
Amara menggeleng.
" Ya sudah, aku pamit.. sampai ketemu besok.. "
" Iya Tuan, Hati-hati... "
Setelah Raka pergi, Amara masuk ke kamarnya dan mulai menangis meratapi hidupnya.
Rasa takut menyeruak pikirannya.
__ADS_1
" Aku masih belum bisa menjadi wanita normal.. bagaimana aku bisa menjalani rumah tangga.. ???"
Amara terus merutuki dirinya... Lelah menangis ia tertidur.