RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 22 - Syarat


__ADS_3

" Lho, Pak Irgi?"


" Saya Arga Nona."


" Kamu salah orang. Ini Arga saudara kembar Irgi." Jelas Raka.


" Wah, jadi Pak Irgi punya kembaran yah? Maaf, aku baru tahu."


" Arga akan menjadi asistenku. Sementara kamu tetap jadi sekretarisku karena Irgi harus menyembunyikan identitasnya. Dia hanya akan mengikutiku dari jauh. "


Amara tersenyum dan mengangguk setuju, Dengen begitu, pekerjaannya akan sedikit terbantu dan tidak perlu lagi menyelesaikan pekerjaan di ruang CEO.


" Berarti ruanganku pindah kedepan kan Mas?"


Raka menarik nafas panjang.


" Kamu tetap diruanganku."


" Lho, Tapi kan meja sekretaris ada didepan lift.. Aku pindah ke depan ya mas.. please..."


" Ok, kalau begitu. Tapi ada syaratnya."


" Apa?"


" Kita bicarakan nanti di rumah..."


----------------------


Dion menemui Raka di kantornya dengan menunjukkan kartu nama yang diberikan Raka.


Dion terkesan dengan keberhasilan Raka. Sementara dirinya, masih harus berjuang keras untuk sukses.


Raka dan Dion berbagi cerita perjalanan hidup masing-masing.


Tok tok.. Amara masuk dan menyerahkan beberapa File pada Raka.


" Pak, ini File yang Anda minta tadi. Rapat di undur sampai besok."


" Ok, Terima kasih."


" Mbak Amara yah? Mbak Amara cucunya mbah Sarta yang di Pekalongan?"


" Iya, Bagaimana Anda tahu?"


" Oalah.. Saya Dion Mbak suaminya Sari. "


" Sari? Sari putrinya Pak de Retno?"

__ADS_1


" Iya betul Mbak."


" Kalian saling kenal?" Tanya Raka.


" Iya, Dion dan Istrinya tetangga kami di pekalongan. "


" Benarkah? Kebetulan sekali. Amara adalah istriku. " Ucap Raka pada Dion. Kali ini Dion yang terkejut.


" Mbak Amara sudah menikah?"Tanya Dion antusias.


Amara mengangguk.


" Konyol sekali, Istriku adalah tetangga sahabat lamaku. Hahaha" mereka larut dalam canda.


"Bagaimana kabar kalian sekeluarga?"


" Kami baik-baik saja Mbak, "


" Syukurlah, Dion, Saya pamit untuk melanjutkan pekerjaan. Sampaikan salam saya untuk Sari."


" Iya mbak, nanti saya sampaikan."


" Pak Raka, Saya Permisi.."


Raka mengangguk. Amara segera pergi meninggalkan keduanya.


Sepulang dari kantor, Amara menyiapkan makan malam untuk suaminya. Sementara Raka membersihkan diri di kamarnya.


" Ra... sudah beres? "


" Sudah Mas.. "


Amara mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Raka.


Raka senang melihat perubahan Amara. Sepertinya Amara sudah mulai membuka diri.


" Mas, boleh katakan sekarang apa syaratnya?" Tanya Amara tanpa basa basi.


" Ya, Syaratnya ... mulai malam ini dan seterusnya kita akan tinggal dalam satu kamar... satu ranjang..."


Amara terdiam beberapa saat


" Ada apa? Masih belum siap?"


" Tidak, Aku setuju Mas." jawab Amara dengan yakin.


Dalam hati Amara, ia merasa sudah saatnya ia membuka diri dan mulai menerima bahwa Raka suaminya. Raka berhak atas dirinya.

__ADS_1


" kamu serius?" Raka nyaris tak percaya.


Amara mengangguk.


Raka bergegas memindahkan sebagian barang-barangnya dalam kamar utama yang di tempati Amara.


Setelah selesai ia duduk di sisi ranjang sambil melihat ponselnya.


Sementara Amara membersihkan diri di kamar mandi.


Awalnya Amara sangat jengah. Ia berjalan perlahan.. sedikit ragu..


" Kamu kenapa Ra? Masih takut sama Mas?"


" Bukan begitu Mas..."


" Ya sudah sini.. duduk samping Mas. Tenanglah, Mas tidak akan memakan kamu."


Amara duduk di samping Raka.


Raka menunjukkan ponselnya pada Amara.


" Ini foto-foto kamu di perkebunan teh kemarin. Gimana hasilnya, cantik kan?"


Amara takjub melihat hasil foto yang diambil suaminya.


" Iya Mas.. bagus banget.."


" Mas Suka wanita yang difoto itu"


Amara menatap ke arah Raka


" DiSana, dia jadi orang yang berbeda. Ia tersenyum, tertawa, berlarian... Mas sangat suka"


Raka menggenggam tangan Amara


" Berjanjilah sama mas... Kamu akan terus seperti itu. Berani membuka diri... Ibu bilang dulu kamu orang yang periang.. Mas sudah janji sama ibu buat mengembalikan semua kebahagiaan kamu.. tolong bantu mas sayang.. "


Amara menyentuh pipi Raka. Air matanya menetes. Ia begitu terharu. Mengapa ada laki-laki seperti Raka yang bersedia menerima ketidakwarasannya. Mengapa ada laki-laki seperti Raka yang tahan menghadapi sikapnya.


" Mas jangan nyerah dengan sikapku ya.." Amara terisak.


" Mas akan bersabar sampai kamu siap jatuh cinta. Tidak peduli berapa lama mas harus mengemis cinta kamu Amara...."


" Terima kasih Mas.. Terima kasih.." Amara memeluk Raka.


Keduanya Larut dalam dekapan yang memberi kenyamanan.

__ADS_1


__ADS_2