
" Amara..." Panggil Zayn.
" Lihat chat grup!!" Sambung Zain yang sedikit terengah karena berlari menghampiri sahabatnya.
Amara membuka ponselnya. Dan melihat pesan di grup perusahaan.
" Apa-apaan ini?"
Beredar Video saat Amara menampar Direktur Humas. yang mengejutkan Caption yang tertulis disana.
Perempuan ini menampar Direktur Humas Pradipta Corp. Karena ditolak mentah-mentah saat mencoba menggoda.
" Lo baik-baik ajah kan Ra?" Tanya Zain.
Amara hanya terdiam.
" Nona tenang dulu... Saya akan bereskan masalah ini. Tuan mempercayakan Nona pada Saya. "
" Hmmm.. " Amara memberi kode agar Irgi tidak berkata lebih. Sebab masih ada Zain disitu.
" Bisa kalian tinggalkan saya sendiri... " Pinta Amara.
Irgi dan Zain pergi meninggalkan Amara.
" Pak Irgi.. Gimana nih?"
" Tolong panggilkan Tuan Davit dan Tuan Alfha ke ruang rapat sekarang. Kita selesaikan disana."
***
Di ruang rapat, Irgi mulai meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.
Irgi juga menunjukkan kamera cctv yang merekam kejadian dengan lengkap.
" Sudah jelas. Disini Nona Amara tidak bersalah. Dia tidak menggoda siapapun apalagi Pak Davit. Saya meluruskan masalah ini bukan untuk menyudutkan siapapun. " Ucap Irgi tegas.
Semua tahu, Irgi dan saudara kembarnya bukan hanya sekedar asisten untuk Raka. Mereka hampir seperti bayangan Raka. Itu sebabnya hampir tak ada yang berani melawan atau mencela kata-katanya.
" Mohon maaf Pak.. Boleh kami tahu hubungan Nona Amara dengan Tuan Raka?" Tanya Pak Alfa.
Menurutnya, tidak mungkin seorang asisten bos rela turun tangan meluruskan masalah sepele karyawan jika bukan bosnya yang meminta. Hal itu membuat rasa penasaran Pak Alfa.
" Soal itu saya tidak bisa jawab. Itu menyangkut hak privasi Nona Amara. Dan... Pak Davit ada yang ingin di sampaikan?"
" Benar. Saya sudah menjelaskan perihal pembatalan rapat Dewan Direksi. Jelas bukan kesalahan Amara." Timpal Tuan Alfa.
" Tapi Amara sudah keterlaluan. Ia menampar Pak Davit di depan umum." Ucap salah satu Admin grup yang ikut menyebarkan berita tersebut.
" Pak Davit yang keterlaluan. Bisa-bisanya mengatakan Amara melakukan hal serendah itu demi jabatan. Saya tahu sahabat saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Zain meradang.
" Maaf.. Saya salah. Saya termakan hoax digrup soal Skandal CEO dengan sekretarisnya waktu itu. "
" Baik. Buat video permintaan maaf dan sebarkan di grup. Tuan Raka akan kembali 2 hari lagi. Pastikan tidak ada masalah apapun yang terjadi di kantor. Persiapkan rapat dewan direksi sebelum Tuan kembali."
***
Setelah Irgi dan Zain pergi Amara menuju ke ruangan Raka. Kali ini ia sangat merindukannya. Amara bersandar di pintu ruangan Raka menatap kursi suaminya.
" Mungkin benar kata Kakek.. Aku sangat mencintai Mas Raka. Aku tidak bisa jauh darinya lebih lama lagi.. "
Amara keluar dari ruangan Raka dan kembali ke mejanya untuk bekerja.
Banyak file menumpuk di mejanya. Biasanya jika pekerjaan sedang banyak, ada Raka yang selalu menyemangatinya dengan berbagai macam godaan.
Rentetan pesan yang pernah dikirim Raka masih tersimpan rapi dalam gawai miliknya.
__ADS_1
Amara membaca salah satu pesan yang membuat bibirnya mengukir senyum.
Selesaikan pekerjaanmu dengan cepat. Jika tidak, aku akan menciummu di depan semua karyawan.
Pesan tersebut mampu mengembalikan semangat Amara untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
--------------------
Tiga hari setelah nya, Tuan Davit semakin gencar mendekati Amara. Selain karena merasa bersalah, Tuan Davit juga merasa sedikit tertarik karena Amara bukanlah gadis yang mudah di dekati sehingga timbul rasa penasaran.
Jam makan siang tiba. Saat hendak keluar untuk makan siang, Davit menghampiri Amara.
" Ada apa Tuan Davit? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Amara.
" Emm.. Saya... Ingin meminta maaf sekali lagi.."
"Bukankah saya sudah bilang saya memafkan Anda? Kalau tidak ada lagi, saya permisi. Teman-teman saya sudah menunggu." Amara beranjak pergi.
" Tunggu!!"
Amara tidak menghiraukan Davit dan segera menuju ke restoran seberang kantor tempat Zain dan kawan-kawan janjian untuk makan siang.
Davit mengikuti Amara. Lalu mencoba bergabung bersama Amara dan teman-temannya makan.
" Boleh saya bergabung?" Tanya Davit.
" Tumben banget... " Zain ketus.
" Saya akan traktir kalian sebagai bentuk permintaan maaf saya pada Amara."
" Tidak perlu... Kami disini sudah memiliki voucher makan siang gratis untuk 4 kali makan."
Kali ini Mbak Putri yang menjawabnya.
Setelah Davit pergi, Zayn terus mengoceh melihat kelakuan Davit yang merasa bersalah pada Amara.
Saat sedang makan lagi-lagi ponsel Amara berdering.
Zain langsung merebutnya dan terlihat nama pemanggil.
"Mas Bos"
" Mas Bos lagi?!!!"
Amara segera mengambil kembali ponselnya dan segera menjauh dari sana untuk menjawab panggilan tersebut.
" Mas Bos siapa sih Zayn?" Tanya Lili.
" Tebak ajah sendiri." Jawab Zayn santai.
" Apa mungkin Pak Raka?"
" Ingat gak waktu kita makan bareng Pak Raka.. Pak Raka bilang.. itu saingan berat Pak Raka." Bara.
" Lalu siapa dong..."
' Bodohnya kalian.. Jelas-jelas itu Pak Raka.' Gumam Zain dalam hati.
***
Amara menjawab panggilan dari Raka. Baru beberapa detik panggilan tersambung, Amara mengakhiri panggilannya.
📲 Sayang.. Maaf Mas baru bisa menghubungi kamu. Mas dipulau terpencil. Disini tidak ada jaringan. Sekarang Mas sedang dalam perjalanan pulang.
' Tuan Raka.. Mertua anda memanggil...'
__ADS_1
Terdengar suara lain yang memanggil Raka.
Deg
' Mertua? Mertua yang mana? Ibu tidak berada di sana. Apa Mas Raka punya istri lain?'
📲 Sayang.. Kamu masih disitu kan? Hallo... Hallo..
Tut tut tut
Amara memejamkan matanya. Ia berusaha menjernihkan pikirannya dari apa yang di dengarnya tadi.
"Berjanjilah untuk selalu percaya padaku. Apapun yang nanti akan kamu dengar ataupun kamu lihat."
Terlintas dalam ingatannya kata-kata dari Raka sebelum pergi.
' Kali ini aku akan mempercayai kamu... Tolong jangan kecewakan Aku...'
***
" Ra, kok bengong disitu?" Panggil Zain menyadarkan Amara dari lamunannya.
" Ah.. Iya..."
" Udah kangen-kengenannya?" Tanya Zain.
" Ck.. "
Amara tidak melanjutkan makan siangnya dan memilih segera kembali ke kantor.
Hari itu pekerjaan Amara berjalan lancar tanpa gangguan.
***
Esok harinya, karyawan dihebohkan kembali dengan beredarnya foto CEO mereka yang sedang berjabat tangan dengan seseorang. Didekatnya ada satu set perhiasan dan seperangkat alat shalat.
Bahkan berita ini sudah menyebar ke publik. Banyak media yang memuat berita pernikahan diam-diam yang dilakukan pemilik Pradipta Corp.
Amara yang belum sempat sarapan, bermaksud membeli makanan di cafetaria kantor bersama Mbak Putri.
Ia mendengar obrolan beberapa karyawan.
" Gak nyangka. Ternyata Pak Raka pergi bukan untuk Business trip. Tapi merried.. " Ucap salah satu karyawan.
" Betul tuh. Ini editan bukan sih?"
" Ini asli.. Lihat tanggal dan jam nya ajah ada tuh... Tadi aku lihat ada beberapa wartawan. Sepertinya berita ini sudah tersebar di publik"
Amara termenung. Ia mengurungkan niatnya dan kembali keruangannya lalu melihat ponsel. Hatinya terhenyak melihat foto tersebut.
Disudut foto tertera tanggal dan jam berapa foto itu di ambil.
' Foto ini diambil beberapa hari yang lalu... Dan ditelfon kemarin... Panggilan mertua... Jadi benar, Mas Raka menikah lagi....'
Amara terduduk lesu. Ia tidak mengerti situasi yang terjadi.
" Ra.. Ra.. Lo udah lihat foto Pak Raka?" Tanya Zain.
" Itu gak benar kan Ra? Gue tahu Pak Raka itu su.. suami lo..." Zain sedikit berbisik.
" Zain...."
Air mata Amara masih tertahan.
Sedangkan dadanya terasa sesak.
__ADS_1