
Amara sedikit panik.
'Gawat Kalau sampai Mas Raka kesini dan memberi tahu teman-teman tentang pernikahan ini'
" Eh snow white.. hellooo" panggil Zain sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Amara.
Amara yang tersadar langsung bangkit dari duduknya.
" Emm.. Maaf ya, Aku pamit duluan."
" Gak bisa... Makanan lo belum abis" Zain coba menahan dan Amara terpaksa duduk kembali.
" Aku udah kenyang Zain.. "
" Ah kamu gak seru nih... kita kan masih kepo soal Mas Bos? " Timpal Lili.
" Mas Bos?"
" Iya Mas Bos yang dari tadi nelponin lo berkali-kali. " ujar Zain.
" Oh itu.. itu.. nanti ajah ya ceritanya.." Amara gugup.
" emang siapa sih Mas Bos Ra?" Tanya mbak Putri.
" Eum.. anggap ajah someone special in my life... udah yah kepo nya. Aku harus...."
belum sempat Amara pergi, Raka sudah menghampiri mereka.
" Amara !!!!! "
' Aduh.. Kenapa Mas Raka cepat sekali sampainya sih??'
Amara berdiri sambil menggigit bibir bawahnya dan menengok ke arah suara yang sudah sangat dikenalnya.
" Iya Pak Raka..."
Raka tersenyum dan menyapa semuanya.
" Hai semua, Boleh saya bergabung?"
" Waahh.. Pak CEO... Silahkan Pak.. suatu kehormatan bagi kita bisa duduk satu meja dengan Anda." Jawab Bara yang menyediakan kursi kosong di samping Amara.
" Terima kasih... Tolong jangan panggil saya seperti itu. Ini bukan di kantor. Anggap saja saya rekan kalian" Ujar Raka mencoba mengakrabkan diri.
" Ok deh Pak... Mau pesen apa? Kebetulan kita patungan makan seafood nih.." Jawab Lili
" Ditambah lagi porsinya. Saya ikut makan dengan kalian. Dan makanan ini biar nanti saya yang bayar."
" Asyiikkk.. Seru nih ada Mas Bos .. Terima kasih Mas Bos traktirannya.." Zain berseru.
" Mas Bos? Maksud kamu siapa?" Tanya Raka.
__ADS_1
" Ehh.. Saya kira Mas Bos itu panggilan kesayangan Amara buat Pak Raka. Ternyata bukan ya?" Zain pura-pura keliru untuk memancing Amara.
" Zain.. " Wajah Amara memerah menahan marah dan malu.
" soalnya dari tadi ada yang nelponin Amara nama kontaknya Mas Bos.." Zain meneruskan.
Raka tersenyum menahan tawanya. Raka tahu yang di maksud Mas bos itu dirinya.
' oh jadi istriku menyimpan nomor ponselku dengan nama Mas Bos..'
" Emang Mas bos siapa Ra?" Tanya Raka meledek.
" Eum.. itu.. "
" someone special in my life... begitu katanya tadi pak..." Zain menirukan perkataan Amara tadi.
Rona wajah Amara semakin memerah. Menandakan rasa malu yang sangat.
" Someone special? Saingan saya berat dong..." Ujar Raka.
" Em.. Maksud Pak Raka?"Tanya Amara.
" Udah Pak Raka.. Gas teross jangan kasih kendor... kita dipihak pak Raka. Ya kan friends.." Zain menyemangati Raka.
" Betul Pak.. dari pada Pak Raka di goda terus sama si Bianca mulut mercon.. " ujar Lili.
" Tenang saja.. Saya gak tertarik dengan spesies yang seperti itu"
" kalau mau senyum, senyum ajah kali Ra.. jangan di tahan." Goda Mbak Putri.
" Mbak kok ikut ngecengin aku sih.. Lagian kalau akunya sama Pak Raka. Nanti Bu Andinnya mau di kemanain?" Sindir Amara
Mendengar hal itu Raka tak kuasa menahan tawanya.
" Andin? Oh jadi ini yang bikin kamu gak jawab setiap ku panggil tadi."
" Kenapa bahas disini sih?" Gumam Amara perlahan. Kakinya sengaja menendang perlahan kaki Raka. Karena sedikit terbawa suasana, Amara justru menendang dengan sedikit kencang.
Raka meringis " Aduh.. "
"Kenapa Pak?"
" Tidak apa. Ayo makan. Setelah ini saya harus bawa teman kalian ini untuk lembur..." Raka tersenyum.
" Dibawa ke pelaminan juga saya setuju pak.." Kelakar Zain.
" Bulan ini kamu naik gaji Zain.. kamu udah bikin saya senang hari ini." Imbuh Raka.
" Serius Pak?"Tanya Zain senang.
" Saya gak pernah main-main.."
__ADS_1
" Kita-kita juga dong Pak..." Pinta Bara.
" Baiklah. Tapi ada syaratnya."
" Apa syaratnya Pak?"
" Kalian semua jagain Sekertaris saya yang cantik ini. Kalau sampai ada orang yang macam-macam apalagi sampai ada yang menggodanya kalian lapor saya. Gimana mau gak?"
" Setuju" jawab mereka bersamaan.
" Pak Raka..." lagi-lagi Amara mengusik kaki Raka. Raka mengaduh.
Sebelah tangannya mengusap kakinya.
" Sakit juga ya... " gumamnya perlahan tapi terdengar Amara.
" Kamu mantan pemain sepak bola ya? Tendangannya mantul.."
Bisik Raka ditelinga Amara.
Setelah selesai menikmati hidangan Raka dan Amara pamit untuk kembali ke kantor.
Diperjalanan Amara kembali mendiamkan Raka.
" Ra, Kamu masih marah?" Tanya Raka memecahkan keheningan.
Melihat tidak ada jawaban dari istrinya, Raka menepikan mobilnya.
" Aku gak marah Mas..."
" Kenapa diam saja? Andin masih menungguku di kantor, Aku janji akan menemaninya makan malam ini..."
" Kalau begitu antarkan aku pulang saja. Aku gak mau jadi orang ketiga diantara kalian."
"Aku belum selesai bicara... Apa kamu butuh penjelasan soal Andin?"
" Aku gak mau tahu soal itu. Dan aku gak berhak tahu apapun yang berhubungan dengan Mas..."
Raka tertegun dengan ucapan Amara. Ia maju mendekati Amara dan mengatur adjuster seat kursi mobil Amara. Sontak Amara terkejut karena tubuhnya jadi berbaring sedangkan Raka berada diatasnya.
Raka tiba-tiba mencium dan ******* dengan kasar bibir Amara, Puas bermain dengan bibir istrinya turun kebagian leher dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.
Amara sedikit melenguh dan mendorong Raka.
" Mas hentikan.. Mas!!!!!!!!!"Teriak Amara.
" Kamu bilang gak ada hak? Yang baru saja terjadi apa cukup untuk mengingatkan kamu bahwa aku suami kamu. Aku berhak atas kamu dan kamupun berhak atasku."
Amara terisak. Ia tak menyangka ucapannya membuat Raka sampai seperti ini.
" Mas tolong jangan seperti ini, Aku minta maaf... Jangan membuatku takut.. ku mohon.." Amara melirih karena tubuhnya mulai gemetar.
__ADS_1