
" Itu memang mobil Tuan Raka." Cetus Irgi.
" Gak.. Ini gak boleh terjadi.. Irgi.. bawa aku menemui Mas Raka... Bawa aku ke tempat itu sekarang... Aku yakin Mas Raka masih hidup.. Kumohon....!!" Amara menangis histeris.
Ia tidak peduli anggapan orang-orang di kantor. Ia hanya ingin bertemu suaminya. Dan memastikannya selamat.
" Nona tenang dulu... Kita tunggu kabarjika itu memang benar mobil Tuan... Saya akan menghubungi Arga.. "
Amara tidak meperdulikan ucapan Irgi. Ia berlari keluar ruangan dan menuju lift. Disaat seperti ini semuanya terasa lambat. Lift tak kunjung terbuka. Amara memilih melewati tangga untuk sampai ke lantai dasar.
Mbak Putri, Lili juga Zain dan Irgi menyusul Amara. Mereka juga turun melewati tangga.
" Nona.. Tolong jangan seperti ini... Gedung ini cukup tinggi... Kita turun menggunakan lift saja..."
Amara menuruti kata-kata Irgi. Amara berlari ke arah lift yang terbuka. Namun langkahnya terhalang beberapa karyawan yang lalu lalang disana.
Pintu lift tertutup.
Amara tersungkur. Lututnya melemas sehingga tak mampu menopang tubuhnya lagi. Dipikirannya dipenuhi Raka. Membayangkan bagaimana kondisi suaminya sekarang.
Pintu lift terbuka kembali.
" Amara...."
Amara menatap sosok yang memanggilnya dari dalam lift.
" Mas Raka...." Amara menghambur dalam pelukan Raka. Tangisannya semakin kuat begitu juga pelukannya.
Rasa takut kehilangan, dan kerinduan mengharu jadi satu. Amara tak lagi memikirkan apa kata karyawan lain dikantor yang melihatnya.
Raka membiarkan Amara mendekapnya lama. Karena
iapun merasakan hal yang sama.
Kalau saja tadi ia tidak segera loncat dari mobil, Mungkin saat ini ia sudah tidak bisa lagi melihat wajah cantik istrinya.
Raka selamat dari musibah tersebut. Namun mobilnya terjebak timbunan tanah longsor. Beberapa orang lelaki berpakaian serba hitam membantu Raka untuk keluar dari lokasi kejadian.
Amara melepas pelukannya dan menatap lekat wajah tampan suaminya. Raka mengusap air mata Amara lalu mengecup keningnya lama.
Semua karyawan yang melihatnya terkejut. Apalagi berita heboh pagi tadi belum ada kejelasan.
" Apa ada yang terluka?" Amara sibuk meneliti tubuh suaminya.
" Aku baik-baik saja.. kau tak perlu cemas..."
Raka tidak memakai jas. Hanya kemeja putih yang kotor dengan tanah.
Amara memejamkan matanya. Ia merasa sangat bersyukur atas keselamatan Raka. Masa bodo dengan omongan para karyawan. Masa bodo dengan foto dan panggilan mertua di telpon itu. Amara hanya ingin melihat pria yang di cintainya tetap hidup.
Tubuhnya melemah, Amara kehilangan kesadaran.
Raka terkejut. Irgi, Mbak Putri dan Zain mendekat.
" Sayang bangun.. Kamu kenapa?"
__ADS_1
Lagi-lagi karyawan yang melihat itu dibuat terkejut dengan panggilan sayang yang keluar dari mulut bosnya.
Raka menggendong Amara dan membawanya ke ruangan kesehatan di kantor.
Dokter memberinya infus.
" Nona ini kekurangan nutrisi. Mungkin akhir-akhir ini pola makannya tidak teratur. Selain itu, Barang kali banyak tekanan juga di pikirannya.."
" Saya sudah memberikannya suntikan obat. Biarkan ia beristirahat."
" Terima kasih dok.."
Raka memandang tubuh istrinya yang tergolek lemah.
Mbak putri menghampiri Raka.
" Amara chat saya tadi.. ia belum sempat sarapan Pak.. Ditambah lagi pikiran soal beredar foto ijab qabul Pak Raka. " Mbak Putri menjelaskan.
" Foto apa?"
" Ini Pak.. " Mbak putri menunjukkan ponselnya.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar.
" Saya titip Amara sebentar kalau ada apa-apa tolong beritahu saya."
" Baik Pak.. Saya akan jaga istri bapak..."
Raka mengerutkan keningnya. Pasalnya tidak ada yang mengetahui hubungan mereka selain Pak Rahmat, Si kembar Arga dan Irgi dan Zain.
" Kalian berdua ikut saya..."
" Apa saja yg terjadi dengan istri saya selama saya pergi?"
Zain dan Irgi menceritakan semuanya. Raka menghubungi Tuan Ratmadja.
☎" Ada apa Nak? Apa kau terluka?"
☎" Tidak...Aku baik-baik saja.. tapi orang itu... "
☎" Dia juga sudah baik-baik saja. Mereka orang-orang suruhanku yang kuperintahkan untuk melindungi kamu."
☎" Terima kasih banyak... Emm.. Kakek tahu soal foto yang tersebar di media?"
☎" Itu semua pengalihanku. Agar Adyaksa tidak mencurigaimu. Kakek sudah memerintahkan orang kepercayaan Kakek untuk mengatasinya. Tenanglah... Kau urus bagianmu. Sisanya biar aku yang atasi."
☎" Baik...."
Raka mengakhiri panggilan dan segera kembali ke ruang kesehatan untuk melihat Amara bersama Zain.
" Amara sudah sadar Mbak?"
" Belum Pak.. "
" Kembalilah bekerja. Saya akan bawa Amara pulang. Bersikaplah setenang mungkin jika ada yang mencari tahu soal hubungan saya dan Amara."
__ADS_1
" Baik.. Kami permisi..."
" Tunggu!!! Zain.. Dua hari kedepan kamu cuti. Sekarang juga Antarkan Papamu ke kediaman keluarga Ratmadja. Ada kejutan untuknya. Tuan Ratmadja juga sudah menyiapkan kendaraan. Kau berangkatlah lebih awal. "
" Ratmadja? Oh.. keluarganya Amara yang di Yogyakarta. Saya gak tahu alamat lengkapnya Pak "
" Papamu pasti tahu.. Kau tanyakan saja padanya."
****
Raka membawa Amara pulang ke rumah. Tak lama kemudian, Amara tersadar.
" Sayang... Maafkan..."
Amara meletakkan telunjuknya di bibir Raka.
" Mas bisa peluk aku?"
Raka segera merengkuh tubuh istrinya. Amara menangis menumpahkan kegundahan hatinya selama ini dalam dekapan Raka.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Mas akan jawab semua."
" Mas menepati janji untuk kembali padaku... Aku tidak butuh penjelasan lagi. Selama Mas ada didekatku itu sudah cukup. Maaf jika aku egois.. "
Melihat suaminya selamat dari bahaya, Amara melupakan kekecewaan dan rasa penasarannya.
" Terima kasih sayang, Aku tahu semua usahamu untuk tetap percaya kepadaku sangat berat. Kita ke rumah Kakek. Biar Mas jelaskan semua disana."
Amara mengangguk.
" Kita makan dulu. Kakek sudah siapkan kendaraan untuk mempersingkat waktu kita kesana."
Di saat makan, Amara terdiam memandang Raka.
" Kenapa memandangku terus?"
" Emm... "
" Apa aku tampan?"
Amara mengangguk. Raka tersenyum mengacak-ngacak rambut Amara.
" Katakan.. Apa yang kau pikirkan?"
" Emm.. Tidak ada..." Jawab Amara dengan wajah datar.
" Sayang, jangan membuatku penasaran. "
" Aku tidak menyembunyikan apapun. Seperti yang Mas lakukan." Lirih Amara.
Raka sadar, selama ini ia memang tidak membiarkan Amara tahu semua tentang kehidupannya. Ia hanya menceritakan beberapa kisah perjalanan hidupnya.
Raka belum menceritakan hubungan keluarganya dan keluarga Amara. Dan juga kebetulan lain yang masih disembunyikannya.
" Mas Pernah janji untuk menceritakan semua... "
__ADS_1
" Ya.. Kamu akan tahu semuanya hari ini.. Kita ke rumah Kakek sekarang.."
***