
Waktu menunjukan pukul 2 siang. Raka dan Pak Wijaya tiba di kediaman Amara. Setelah mengucap salam, Tak lama seorang wanita paruh baya menjawabnya dan mempersilahkan masuk. Bu Rima, ibu Amara, Membawa teh hangat dan makanan ringan untuk tamu-tamunya.
"Silahkan di cicipi.."
" Terima kasih Rima.. Maaf sudah merepotkan kamu.. Perkenalkan, Ini Nak Raka Pradipta... dan Nak Raka, ini Bu Rima, ibunya Amara.." kata pak Wijaya.
" Pradipta? Oh, perusahaan besar tempat Amara bekerja sekarang yah?" Potong bu Rima.
'Pradipta.. Bukan hanya namanya.. Tapi wajahnya juga mirip Dipta kami....' Bu Rima menatap Raka.
" Iya benar, Maksud kami kesini......"
Pak Wijaya menjelaskan dengan rinci maksud dan tujuan Raka yang ingin meminta restu untuk menikahi Amara. Bu Rima terkejut sekaligus senang mendengarnya. Tapi...
" Tapi Nak Raka, Amara itu..." Bu Rima ragu.
" Androphobia? Saya sudah tahu mengenai soal itu. Bagi saya, itu bukan masalah besar.. " imbuh Raka
" Saat ini yang saya butuhkan hanya restu dari ibu. Tolong, izinkan saya melindungi dan membahagiakannya..." Pinta Raka sambil mencium tangan Bu Rima.
Bu Rima terharu dengan permohonan Raka. Tapi dihatinya bimbang. Ada ketakutan dihatinya. Apakah kelak Amara akan menerima dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri... Sebagai seorang ibu, tentu ia ingin putri semata wayangnya itu bahagia..
" Ibu restui kamu Nak, Tapi bagaimana cara ibu bicara dengan Amara? Selama ini, Ibu tidak pernah memaksa Amara dalam hal apapun.. "
" Katakan pada Amara bahwa Nak Raka dan Amara sudah dijodohkan sejak lama oleh mendiang Ayahnya. Dengan begitu ia akan menerima dan Menjalankan sebuah amanah dari ayahnya."jelas pak Wijaya.
" Ini semua demi kebaikan Amara, kita semua ingin melihat Amara bahagia kan?" Pak Wijaya meyakinkan.
" Soal Cinta?" Tanya bu Rima.
__ADS_1
" Perlahan-lahan, walaupun harus dengan mengemis cintanya Amara, akan saya lakukan, sampai dia rela memberi seluruh hidupnya untuk saya bu..." tutur Raka.
Bu Rima sangat tersentuh. Lelaki ini begitu ingin membahagiakan Amara.
Pada Akhirnya bu Rima setuju dengan rencana ini. Walaupun terpaksa ia harus membohongi Amara, tapi ini satu-satunya peluang untuk melihat Amara kembali normal dan menemukan kebahagiaannya.
" Besok, saya akan melamar Amara secara resmi. Sekaligus besok penentuan tanggal pernikahannya ." Ujar Raka.
" Tentu saja, Saya akan menyambutmu besok Nak... "
Raka dan Pak Wijaya Pamit.
" Tunggu... "
" Wijaya.... Apa kau juga berpikir...." Bu Rima berbisik Pada Pak Wijaya.
Pak Wijaya mengangguk.
Sekembalinya Raka ke kantor, Raka mengumumkan kepada semua karyawan bahwa besok kantor diliburkan karena alasan tertentu.
Semua karyawan bingung, tidak biasanya kantor libur selain hari libur nasional.
" Tapi pak, rancangan kami hampir selesai.. bisakah kami menyelesaikannya besok? " kata zain.
" Tidak ada yang lembur... lagi pula dead line proyek ini di undur. Kabar baiknya saya dan perusahaan Jaya sudah perpanjangan kontrak. Kamu dan Amara bisa menetap di perusahaan ini." Imbuh Raka.
" Bahkan perusahaan Jaya sebentar lagi akan menjadi anak perusahaan ini. Jadi, semua yang diperusahaan jaya pun akan berada di bawah naungan saya." Tambah Raka.
Semuanya tersenyum. Tidak menyangka proyek kali ini membuat ceo begitu tertarik sampai mengambil perusahaan Jaya sebagai anak perusahaannya.
__ADS_1
Amara begitu bahagia...
" Akhirnya Zain.. kita bisa bekerja dan menetap di perusahaan besar ini... Ya tuhan, mimpi apa aku semalam... "
Raka ikut tersenyum melihat Amara..
Sesaat mata mereka saling pandang...
" Ehmmm.. ehmmm..." Irgi menyadarkan keduanya.
--------------------------------
Pukul 9.30 Raka bersiap. Raka meminta Pak Wijaya turut menghadiri acara lamaran tersebut sebagai wali dirinya. Pak Wijaya tahu, Raka tidak memiliki keluarga.
Raka di dampingi Irgi dan pak Wijaya memasuki kediaman Amara.
"Ibu, kenapa aku harus pakai pakaian seperti ini? Hari ini kan aku libur, aku mau pakai pakaian santai saja..."
" Hari ini, ibu kedatangan tamu spesial.."
Tak lama, ada yang memberi Salam...
"Nak, tolong buka pintunya!"
" Baik bu..."
Amara sangat terkejut melihat kedatangan Pak Wijaya dengan CEO Pradipta. Amara heran, Bagaimana ibunya bisa mengenal Pak Raka.
Amara masih mematung di depan pintu.
__ADS_1
" Bolehkah kami masuk Nak? " Tanya pak wijaya.