RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 25 - Taman Kota


__ADS_3

" Saya pegang janji tuan.. Terima kasih banyak..."


" Mbak, kalau nanti ada yang ingin di beritahukan langsung datang saja. Ini kartu nama saya. Dan ini alamat tinggal kami sementara."


" Baik Tuan.. "


" kalau begitu kami duluan ya mbak... " pamit Amara.


" Iya Nona, hati-hati. Saya juga sudah dijemput suami di depan. "


Diparkiran kafe , suami Yasmin sudah menunggu. Terlihat Yasmin mencium tangan suaminya dan dibalas kecupan dikeningnya. Suami Yasmin berprofesi sebagai driver online.


Amara dan Raka memandang kemesraan pasangan suami istri tersebut.


" Mbak Yasmin So sweet banget, jadi iri" tanpa sadar mulut Amara bergumam.


Berharap gumam nya tak terdengar Raka.


" Kalau iri, kesini cium tangan Mas... biar mas kecup kening kamu..." Goda Raka.


Amara tersipu malu.


" Ayo pulang Mas.. Tapi jangan ngebut ya !!!" Amara mengalihkan pembicaraan.


" Siap Sayang!!!"


Diperjalanan tangan kiri Raka menarik tangan Amara untuk memeluknya. Amara gugup.


" Mas.. " Amara khawatir Raka akan memacu kendaraannya dengan cepat lagi.


" Peluk saja, Mas gak ngebut kok.."


Amara mengulurkan dua tangannya. Ia memeluk Raka. Kali ini bukan karena refleks ketakutan.


Sesekali Raka mengecup tangan Amara yang memeluknya.


Amara merasakan kenyamanan dan kehangatan. Begitu juga Raka.


Rasanya ia ingin menghabiskan hari dalam pelukan kekasihnya terus.


---------------------


Pukul 20.00 Amara membawa secangkir kopi dan cemilan menghampiri Raka yang menatap laptopnya di ruang TV.


Raka terlihat serius.


" Mas, Apa ada masalah serius di kantor?"


" Tidak ada. Arga bisa di andalkan.


ini soal usb yang di berikan mbak Yasmin."

__ADS_1


" File ini bisa jadi bukti yang sangat kuat untuk menjebloskan mereka ke penjara." Lanjut Raka.


" Bagus Mas... Berapa kerugian perusahaan akibat perbuatan mereka?"


" Tidak banyak kerugian kantor.. tapi kerugian karyawan mencapai tiga puluh Milyar. Sudah hampir setahun lebih mereka memangkas pendapatan karyawan. Sialnya, Aku begitu bodoh tidak mengetahui hal ini dari awal. "


" Belum terlambat, Kita masih bisa memperbaiki keadaannya mas. " Amara mencoba menenangkan Raka.


" Kalau cuma perusahaan yang dirugikan aku gak masalah Ra.. tapi ini hak banyak orang. Aku juga pernah sangat susah dulu. "


"Sekarang Mas tenangin diri dulu. Jangan gegabah. Mas jangan melakukan tindakan atau mengambil keputusan dalam keadaan marah. " Lanjut Amara.


" Kamu benar. "


-------------------------


Dikamar Raka terlihat gusar. Ia berulang kali menelpon seseorang. Amara hanya mendengar sebagian percakapannya.


" Bagus, Tetap lakukan seperti yang saya katakan. Minggu ini juga masalah ini harus selesai"


Setelah menutup telponnya ia menghampiri Amara.


" Sayang, kok belum tidur?"


" belum ngantuk, baru jam setengah sembilan mas. "


" Keluar sebentar yuk, Cari udara segar. " Ajak Raka.


Raka membawa Amara ke taman kota.


" Ramai juga ya mas.. aku pikir kalau malam taman ini di tutup..."


" Memangnya kamu tidak pernah kesini kalau malam?"


" Sejak tinggal di Jakarta aku tidak pernah keluar malam. Selain lembur"


Raka dan Amara berkeliling melihat keindahan taman pada malam hari. Banyak muda mudi pamer kemesraan.


Tak sedikit dari mereka yang berciuman di depan umum. Amara sedikit jengah melihatnya.


Ia kembali teringat ciuman Raka kemarin malam.


" Mas.. Bisa pulang sekarang? Sepertinya sebentar lagi hujan.."


Raka mengangguk.


Baru setengah perjalanan, hujan turun dengan deras diiringi petir. Raka menepikan motornya dan berteduh di sebuah warung yang sudah tutup dipinggir jalan.


" Kalau tahu akan turun hujan, Mas tadi bawa mobil. Mas telpon Arga dulu untuk mengirim mobil kesini."


Amara mengusap rambutnya yang sedikit basah, Raka melepas jaket dan memakaikannya pada Amara.

__ADS_1


" Maaf ya, Kamu jadi kehujanan harusnya mas tidak membawamu keluar..." sesal Raka


Amara tersenyum


" Aku seneng kok Mas.. beneran.. "


Melihat senyum istrinya yang menggemaskan, Raka mengacak-ngacak rambut Amara perlahan.


" Jangan senyum.. nanti mas peluk nih..."


Amara sesekali memainkan percikan air hujan dengan tangannya. Raka mendapat telpon dari Arga yang mengatakan mobil jemputan akan sedikit terlambat karena hujan yang semakin lebat.


Hujan turun semakin deras. Kali ini dengan angin yang bertiup. Langit berkilat mengeluarkan gemuruh dentuman keras. Raka khawatir melihat Amara yang mulai ketakutan.


DUARRRR!!!!!


Amara menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia berlari mendekat pada Raka. Raka langsung menariknya dalam dekapan dan membawanya duduk di bangku panjang di warung itu.


Raka menaikan kedua kakinya ke bangku dan duduk dibelakang Amara.


Amara salah tingkah dengan posisinya yang sangat dekat dengan Raka. Tapi tak peduli dengan hal itu, Amara yang ketakutan mendengar suara petir lagi malah mengangkat kakinya dan berbalik mengahadap Raka.


Wajahnya persis didepan wajah Raka.


Dengan cepat Raka mendorong tengkuk Amara dan menghujami bibir Amara dengan ******* lembutnya.


Cukup lama mereka berciuman. Amara yang merasa hampir kehabisan nafas langsung melepas dan berbalik membelakanginya.


Amara tak kuasa menahan debaran jantungnya. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini.


Raka mendekapnya dari belakang.


" Maaf sayang.... " ucap Raka membenamkan wajahnya di ceruk pundak Amara.


" Tidak perlu minta maaf mas.. "


" Kamu takut petir?" Tanya Raka masih mendekap Amara dan mengecup bawah telinga Amara.


" Sedikit.." ringis Amara merasa geli.


" Aku lebih takut sama Mas Raka kalau lagi ngomel depan Karyawan..." Canda Amara yang membuat Raka menggelitik Amara.


" Kapan Mas marahin karyawan di depan kamu?"


" Oh, Berarti dibelakangku Mas sering marahin karyawan yah?"


" Mas bukan bos yang tukang marah-marah lho. " Raka membela dirinya sendiri.


" Iya iya. Lagi Jaim nih. " Ledek Amara lagi.


Ditengah canda tawa mereka, Arga datang membawa mobil dan mengantar bos dan istrinya kembali ke Apartemen sementara motor Raka dibawa salah satu anak buahnya.

__ADS_1


Merasa lelah, Raka dan Amara langsung tertidur.


__ADS_2