
Pagi yang cerah, Amara dan rekannya Zain mulai bekerja di kantor perusahaan milik Raka, keduanya disambut dengan baik.
Sebelumnya, Irgi memberitahukan kepada semua staff untuk memperlakukan dengan baik rekan kerja dari perusahaan Jaya. Agar tidak mengganggu konsentrasi keduanya dan bisa bekerja dengan optimal. Setelah kontrak ini berakhir dan sukses, semua staff dijanjikan kenaikan gaji.
Raka tiba di kantornya. Diam-diam ia memperhatikan Amara dari ruangannya. Amara dan Zain terlihat sedang membahas rancangan yang akan mereka buat. Dibantu beberapa staff perusahaan milik Raka.
--------------------------
Hampir dua minggu berlalu, Amara dan Zain sudah terbiasa beradaptasi dengan lingkungan kerja di tempat Raka. Sesekali Amara berpapasan dengan Raka. Tapi, hanya saling senyum.
" Nona Amara, Anda ditunggu diruang CEO !!"
Panggil Irgi pada Amara.
Amara segera masuk keruangan Raka.
" Tuan, memanggil saya?" Tanyanya perlahan.
" Hari ini saya ada janji dengan pak Wijaya. Tapi Irgi tidak bisa mendampingi saya karna ia harus mewakilkan saya bertemu klien di Singapura. Apa kamu bisa temani saya bertemu pak Wijaya?"
" Tentu saja Tuan, dengan senang hati."
"Baiklah, saat jam makan siang, kamu tunggu saya di lobi!"
-------------------------
Jam makan siang tiba, Raka segera menuju lobi. Dilihatnya Amara telah menunggunya.
" Kamu sudah siap?"tanya Raka
" Sudah Tuan.."
Raka dan Amara menuju mobil. Terlihat Amara yang bingung akan duduk di mana.
" Masuklah, duduk disebelah saya." tegur Raka.
__ADS_1
" Eee..Baik Tuan.." Amara gugup.
Diperjalanan keduanya saling terdiam. Masing- masing sibuk dengan pikirannya.
" ehm, Bagaimana pekerjaanmu? Apa ada kendala?" Raka membuka pembicaraan.
" Ti..tidak ada Tuan..."
" kenapa gugup? Saya hanya bertanya.."
"Maaf.."
Keduanya kembali terdiam.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah restoran ternama disana sudah ada Pak Wijaya dan Asisten pribadinya.
" Selamat siang Pak Wijaya, Maaf saya membuat anda menunggu." Sambil menjabat tangan pak Wijaya.
"Kebetulan... Saya juga baru saja sampai. "
" Kita makan siang terlebih dahulu.."
Selesai makan siang Raka membuka obrolan..
" Ok, Langsung saja kita bahas kemajuan proyek kita pak... Amara silahkan... "
Setelah selesai, Amara izin ke toilet.
Pak wijaya melihat gelagat Raka yang sepertinya suka dengan Amara.
" Maaf Tuan, apa Amara dan Zain membuat masalah di kantor anda?"
" Tidak, sama sekali tidak.. saya sangat menyukai kinerja mereka." Jawab Raka.
" Boleh saya tanya soal pribadi?" Tanya pak Wijaya hati-hati.
__ADS_1
"Tentang apa?"
" Saya lihat sepertinya Tuan sangat tertarik dengan Amara..."
Raka sedikit terkejut dengan pertanyaan Pak Wijaya.
" Maaf.. Saya tidak ada maksud menyinggung Tuan. Saya hanya..."
" Tidak apa pak.. Jujur saja, Saya sangat tertarik dengan Amara... Saya lihat dia seorang pekerja keras, ulet dan tentu saja cantik. " potong Raka.
" Saya bertanya seperti ini karena saya sudah mengganggap Amara seperti putri saya sendiri. Saya tidak ada maksud untuk...."
" Saya mengerti soal itu.. Anda berteman baik dengan orang tua Amara. Tentu saja Anda takut ada orang yang mempermainkannya. "
Tak lama Amara kembali dari toilet.
Raka melihat jam dan segera memerintahkan Amara untuk kembali lebih dulu.
" Jam makan siang hampir selesai, kembalilah ke kantor. Masih ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Wijaya.."
"Baik Tuan... Pak Wijaya, saya permisi.. "
" Iya Nak, hati-hati..."
Setelah kepergian Amara, Raka meminta Pak Wijaya menceritakan tentang kehidupan keluarga Amara. Pak Wijaya merupakan Sahabat baik dari Ibu dan ayahnya Amara. Selama ini beliau juga yang membantu kesulitan hidup keluarga Amara.
" Amara cucu dari keluarga Ratmadja?"
" Ya.. Saya berani menceritakan rahasia ini pada Tuan karena saya yakin Anda orang baik dan tidak mungkin memiliki niat jahat pada Amara. "
" Sebenarnya saya pernah bertemu Amara sebelumnya. Dia membantu saya memulai usaha, Saya mencarinya bertahun-tahun untuk membalas kebaikannya dulu. Apa Pak Wijaya bisa membantu saya? Saya tidak pernah bermain-main dengan perempuan. Dan saya benar-benar tertarik dengan gadis itu.."
" Jika itu baik untuk Amara, saya tentu bersedia membantu Anda."
" Terima kasih Pak.."
__ADS_1
Raka dan Pak Wijaya mengakhiri obrolannya dan kembali ke kantornya masing-masing.