RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 17 - Teman


__ADS_3

Amara Mahreen


Mata itu, begitu lekat memandangku


tangan kekar itu, menggenggam erat tanganku.


Ada raut ketakutan pada wajahnya.


Peluh membasahi tubuhnya.


Ia memintaku untuk tinggal sebentar...


Menemaninya...


Kamu lelaki tangguh...


Apa yang membuatmu begitu terpuruk?


***


Raka masih menggenggam tangan istrinya, ia merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur.


Setelah beberapa saat Raka tertidur. Amara menelpon dan menanyakan perihal kondisi Raka pada Irgi.


" Pak Irgi maaf saya mengganggu, Apa Mas Raka sering sakit saat perjalanan jauh?"


" Tidak Nona, Apa yang terjadi dengan Tuan Raka?"


" Hari ini kami pergi untuk menemui Perusahaan Agra di Tuban. saat berangkat Mas Raka dalam keadaan sehat, setibanya disini wajah Mas Raka memucat, bibirnya gemetar. Ia bilang sedikit pusing."


" Tuban?" Irgi terkejut.


Irgi pada akhirnya menceritakan semua yang di alami Raka saat tinggal di panti asuhan dulu.


Amara menatap Raka. Dihatinya, ia merasa bersalah terhadap Raka. Karena hanya mementingkan perasaannya sendiri. Selama ini, ia tidak tahu bahkan hampir tidak peduli soal kehidupan dan masa lalu Raka.


Bahwa Raka juga mengalami trauma di masa lalu.


" Jangan... Ampun... Jangan pukul saya..." Raka merintih dan meracau dalam tidurnya. Tubuhnya menggigil. Amara menyentuh dahi Raka. Dahinya panas.


" Mas Raka demam tinggi... Aku harus menghubungi dokter."

__ADS_1


Lagi-lagi Raka menggenggam tangannya.


" Tolong, Jangan pergi..."


Amara menahan dirinya. Entah karena panik atau karena sudah sembuh, Amara tidak lagi merasakan takut saat tangannya di genggam Raka.


Malam itu Amara terjaga. ia merawat suaminya sampai demamnya turun.


Melihat kondisi Raka, Amara memohon maaf dan meminta pada perusahaan Agra untuk mengundur pertemuannya sampai besok.


Paginya Raka bangun. Dilihatnya Amara sedang membawa semangkuk bubur untuk sarapan Raka.


Amara mendekati dan memegang dahi Raka untuk memastikannya tidak lagi demam.


" Coba kamu seperti ini terus setiap hari... " Raka tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Amara.


" Mas jangan ke ge-eran yah.. Aku begini cuma kasihan sama Mas.. Memangnya Mas mau sakit terus?"


" Iya..iya.. terima kasih...


Ra, Kemarin kamu nelpon Irgi ya?"


" Ehh.. iya Mas.."


" Pak Irgi menceritakan semuanya soal masa lalu Mas di kota ini. Kenapa Mas sembunyikan hal ini?"


" Tidak, Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini dari kamu. Kalau kamu tanya, Aku akan ceritakan semuanya. Tapi sayangnya, Kamu mudah bergaul dengan orang lain. namun sangat sulit akrab denganku"


"Mas, jangan salah paham.. Aku sangat menghormati Mas. Itu sebabnya aku tidak berani.. "


" Untuk saat ini, Kamu jangan menganggapku sebagai seorang suami."


" Mas...."


" Anggap aku temanmu. Dengan begitu, kamu jadi lebih mudah akrab denganku. Bagaimana, Apa kita berteman sekarang?" Raka mengulurkan tangannya.


Amara tersenyum dan menjabat tangan Raka. Keduanya lalu bersiap untuk bertemu dengan perawakilan perusahaan Agra.


Saat pertemuan kedua perusahaan itu berlangsung, putri pemilik perusahaan Agra datang menghampiri.


" Daddy.."

__ADS_1


" Mellisa, kesini sayang..."


" Pak Raka, Perkenalkan ini putri saya, Mellisa."


" Saya Raka. "


"OMG.. Jadi ini Raka. Pemilik perusahaan terkenal itu ? Oh, tampannya..." Menjabat tangan Raka.


Raka segera menarik tangannya.


" Bagaimana Tuan Raka? Putriku cantik kan? sangat cocok untuk dijadikan istri Anda.."


Raka hanya diam tak menjawab.


Mellisa merasa ini kesempatannya untuk mendekati Raka karena ia berpikir wanita di sebelahnya hanyalah sekretaris biasa.


Mellisa mendekatkan kursinya pada Raka. Ia juga membuka kerah bajunya sehingga tampak belahan dadanya.


" Maaf, saya permisi dulu. " Ujar Raka yang mulai tidak nyaman dengan kehadiran mellisa.


" Sebentar tampan... Apa kau tidak tertarik untuk lebih mengenalku?"


Raka melihat ke arah istrinya. Amara tersenyum.


" Maaf, Kalau pembahasan kerja sama ini sudah selesai Saya permisi. " Raka beranjak dari kursinya.


"Tunggu, Kalau kamu ingin bekerja sama dengan perusahaan Daddy, kamu harus ..." Ucap Mellisa dengan nada mengancam tapi dipotong oleh Raka.


" Saya tidak tertarik. Amara, telpon pak Rahmat. Kita pergi dari sini sekarang juga."


" Tapi Pak.. "


Raka menarik Amara kembali ke kamar hotelnya.


" Mas, kenapa seperti ini? Bukannya Mas bilang kerja sama ini sangat penting?"


" Kamu tidak lihat, Ia berbisnis atau mengobral putrinya?.. Memalukan..."


" Mas sudah sering bertemu klien yang seperti ini ya? Lalu berapa banyak putri konglomerat yang sudah Mas tolak? Gak nyangka Mas populer dikalangan putri kelas atas..."


" Kamu bertanya atau meledek? Ayo pergi sekarang, Kita ke rumah Kakek. Kamu pasti rindu ibumu...."

__ADS_1


Amara sangat senang.


' Mas Raka memang lelaki yang penuh kejutan. Bahkan aku tidak bisa menebak pemikirannya seperti apa.' gumam Amara.


__ADS_2