
Seorang gadis dengan senyum manisnya, membuat hati Dika berdetak begitu kencang.
"Kamu mau pesan apa." tanya seorang gadis pada Dika
Dika yang tengah fokus pada senyuman gadis itu, membuatnya tesontak kaget.
"Sama seperti yang kamu pesan saja" jawab Dika.
"Yakin..." seru gadis itu.
Gadis itu adalah Rania
Dika hanya mengangguk pelan, pertanda mengiyakan.
"Mbak pesan mi ayam nya dua, sama es sirsaknya dua." pesan Rania pada penjual kantin.
"Eh kok es sirsak sih, kan aku gak suka sirsak." timpal Dika.
"Katanya mau pesan yang sama seperti aku."
"Tapi kan kamu tahu kalau aku gak suka sirsak." ucap Dika.
__ADS_1
"Iya...iya... aku ganti deh pesanannya." Rania tersenyum kecil karena berhasil menjaili Dika, lalu Rania menyuruh mbak penjual kantin untuk mengganti pesanannya.
Dengan gaya yang sok imut, Dika memanyunkan bibirnya.
"Entar itu mulutnya aku karetin loh." ledek Rania.
"Habisnya kamu jail banget sih." Keluh Dika.
Rania kembali tersenyum ketika melihat tingkah Dika yang kekanak-kanakan itu, kemudian Dika pun juga ikut tersenyum.
"Gak tau kenapa kalau aku lihat senyum kamu, rasanya seketika masalah yang ada di rumah hilang." ucap Dika.
Seketika air mata itu mengalir di pipi Dika, ketika ia mengingat kenangan bersama Rania.
"Maaf Ran.. aku hanya seorang pengecut yang gak akan pernah bisa bahagia selamanya." Lirih Dika.
Kemudian ia beranjak dari bangku taman sekolah, Dika mulai berjalan pelan melewati koridor sekolah dengan tatapannya yang kosong.
Dari arah berlawanan Randana sedang berjalan untuk menuju ke kelas, matanya tertuju pada ponsel yang sedang ia pegang.
Tidak sengaja bahu Randana bersenggolan dengan bahu Dika, dan membuat posel Randana terjatuh. Sedangkan Dika tersadar dari lamunannya yang sedari tadi.
Seketika Randana reflek mengambil ponselnya yang terjatuh.
"Yah mati gimana nih." panik Randana.
Dika yang melihat itu hanya terdiam, dan mulai melangkahkan kakinya lagi. Namun saat Dika akan pergi Randana mencegahnya.
"Eh kak Dika tunggu, mati nih HP aku." Randana berdiri tepat di hadapan Dika, sambil melihatkan ponselnya yang mati.
"Terus." singkat Dika acuh.
__ADS_1
"Kak Dika tadikan nabrak Nadia, terus ponselnya jatuh jadi matikan ponselku." omel Randana.
"Mangkanya kalau mainan ponsel jangan sambil jalan, minggir gue mau lewat." ucapnya memberi perintah pada Randana.
Randana tetap terpatung di depan Dika, sedangkan Dika melewati Randana dengan berjalan disampingnya.
"Eh.. tunggu."
Randana segera membalikkan badan dan memegang tangan Dika sebelum ia pergi meninggalkannya.
"Apaan sih, lo bisa gak sih gak usah pegang-pegang." teriak Dika.
Dengan perlahan Randana melepaskan tangannya.
"MAU LO APA HAH..." teriaknya lagi.
Randana masih terdiam dan menundukkan kepalanya.
Dengan wajah yang kesal, Dika dengan segera meninggalkan Randana.
"Sefrustasi itu kah kak Dika kehilangan kak Rania." lirih Randana.
***
"Ishh... masih mati poselnya, mana bentar mau ada tugas lagi." Gumam Randana.
Randana masih kesal dengan ponselnya yang masih mati. Namun pandangannya teralihkan ketika ia akan memasuki kelasnya.
Pemandangan antara Monik dan Nila yang membuatnya jengkel setiap hari.
Monik tampak meminta bukunya dari Nila, dan segera meninggalkannya. Randana yang akan berjalan ke arah bangkunya berpapasan dengan Monik yang akan keluar. Monik tampak menatap tajam Randana, sedangkan Randana hanya terfokus pada jalannya.
"Nik kenapa lo gitu banget lihatin tu cewek." ucap Reta,
"Gak tau kenapa gue benci banget sama tu cewek, gue curiga dia bakal jadi pengahalang buat gue hancurin Nila." jelas Monik.
"Berarti kita harus apain dia beb, supaya tu cewek gak ikut campur urusan lo." tanya laura pada Monik.
"sabar, kita pelan-pelan aja buat bikin dia kapok. Atau bisa juga kita bikin dia seperti Rania... Selama dia belum bikin onar kita jangan gegabah."
.
.
Bersambung
__ADS_1