RANDANA

RANDANA
BAB 22, TERUNGKAP.


__ADS_3

"Apa mungkin Monik ada kaitanya sama kematian Rania." Ucap Rama.


"Kalau emang iya kak Monik pelakunya, masak sih dia pulang lebih cepat. Dan waktu kejadian kak Rania ditabrak, kak Monik ada di rumah gak pergi kemana-mana." jelas Nila.


"Kalau masalah pelaku penabrakan itu, belum tentu ada kaitannya dengan Monik bisa jadi itu gak disengaja. Yang bikin aku curiga, kenapa Rania bisa pulang sore dan peristiwanya juga dekat sekolah. Apalagi Rania juga masih pakai seragam sekolah." Tambah Rama.


"Bener juga sih." Sahut Nila.


Randana hanya menyimak percakapan Rama dan Nila, dari percakapan mereka dapat disimpulkan bahwa bisa jadi monik ada kaitannya dengan ini semua.



Setelah pulang dari makam Rania, Nila memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.



"Habis dari mana lo?" Tanya Monik yang duduk di sofa ruang keluarga.



"Bukan urusan kak Monik." Jawab Nila tegas.



"HEH... udah mulai berani ya lo sekarang, ditanyain baik-baik jawabnya nyolot banget." Bentak Monik.


__ADS_1


"Lagian mau Nila pergi ke mana pun itu, emangnya harus laporan dulu sama kak Monik. Enggak kan." Jawab Nila yang segera pergi meninggalkan Monik.



Dengan ekspresi yang jengkel Monik mengepalkan kedua tangannya.



"Awas aja ya lo." Lirih Monik



Sementara di sisi lain, Randana juga langsung pulang setelah dari makam Rania.


Awalnya Rama menawarinya untuk pulang bersama. Tapi karena Randana tidak enak hati dengan Nila, maka ia memutuskan untuk pulang naik taksi saja.


Namun tanpa Randana sadari, ternyata Rama sudah mengikuti Randana sedari tadi. Hingga Randana memasuki gang yang sempitpun Rama tetap mengikutinya dengan berjalan kaki sedangkan motornya ia letakkan di depan arah masuk gang sempit itu.


Randana yang sadar ada yang mengikutinya berlagak tidak tahu dan terus berjalan kedepan. Namun sosok itu terus saja mengikutinya. Tanpa pikir panjang Randana langsung menghadap ke belakang, seketika itu Rama terkejut karena Randana menghadap kearahnya. Padahal jarak antara dirinya dan Randana jauh sekitar 15 langkah tapi tetap saja Randana sadar jika ada yang mengikutinya.


"Kak Rama." Ucap Randana.


"Duh ketauan deh." Ucap Rama sembari mengelus kepalanya.


"Kak Rama ngapain ikutin Randa...eh." ucap Randana terhenti ketika ia salah menyebutkan nama aslinya.


"Randa... Siapa Randa?" Tanya Rama.

__ADS_1


Randana masih terdiam karena ia bingung harus menjawab apa.


"Nama kamu Nadia kan?" Tanya Rama menegaskan.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Pertanyaan dari Rama bertubi-tubi berhasil membuat Randana kesusahan untuk menjawab.


"Aku bisa jelasin kak, tapi gak disini..." jawab Randana.


Randana tampak berbalik dan melanjutkan jalannya untuk pulang ke tempat kontrakan. Dengan langkah pasti Rama mengikuti kemana Randana berjalan hingga sampailan di depan Rumah kontrakan milik Randana.


"Duduk kak." Randana menyuruh Rama untuk duduk di kursi yang terletak didepan rumahnya itu.


Rama mulai duduk di kursi itu.


"Kak Rama mau minum apa biar Randana buatkan." Tawar Randana.


"Gak usah, aku ikutin kamu disini cuma mau dengar penjelasan kamu." Tegas Rama.


"Ya udah aku jelasin tapi kak Rama harus janji kalau ini cukup jadi rahasia kita berdua aja." Jelas Randana.


"ok janji" jawab Rama.


Randana sebenarnya sedikit Ragu jika harus mengungkapkan pada Rama, tapi jika hanya Rama yang tau ini tidak akan jadi masalah.


"Sebenarnya...."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2