
Sedangkan di sisi lain. Randana hendak pergi ke kamar mandi umum yang berada di samping rumah Nila. Kamar mandi itu biasa di gunakan oleh pembantu yang bekerja di keluarga Nila.
Randana keluar dari ruangan pesta itu dengan banyak pikiran. Sebenarnya dia ingin pergi ke kamar mandi hanyalah sebuah alasan, karena yang sebenarnya terjadi Randana ingin mencari solusi agar tidak mempermalukan Nila. iya, Randana takut jika ternyata semuanya adalah jebakan, gaun yang ia dan Nila gunakan juga termasuk jebakan.
Setelah sampai di depan kamar mandi. Randana tidak langsung masuk begitu saja. Dia malah terlihat sedang mondar mandir di depan kamar mandi itu. Kebetulan di area kamar mandi tidak ada orang, sehingga Randana bisa bebas berada disana.
"Bagaimana ini, apa sebaiknya aku pulang saja?" risau Randana dalam hati.
Dari kejauhan nampak seorang pria yang sedang mengamati Randana. Sebetulnya laki-laki itu juga hendak pergi ke kamar mandi, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat ada seorang gadis di depan kamar mandi itu.
Namun karena keinginanya untuk buang air kecil tidak bisa di tahan, akhirnya pria itu segera berjalan ke arah kamar mandi.
Pria itu semakin mendekat ke arah Randana. Sedangkan Randana yang semula mondar mandir sendiri, sekarang ia mulai menghentikan aktivitasnya.
Randana menatap tajam ke arah pria itu. Dia tidak dapat melihat jelas siapa pria itu, karena pria itu juga menggunakan topeng sama sepertinya.
"Maaf, apakah kamar mandinya sedang di gunakan. Kalau tidak saya permisi mau ke kamar mandi." ucap pria itu.
"tidak, silahkan." ucap Randana, mempersilahkan.
Lalu pria itu segera masuk ke kamar mandi.
"Kenapa pria itu kelihatan tidak asing ya? Perawakannya seperti..." tiba-tiba pintu kamar mandi sudah terbuka, dan pria itu mulai keluar dari kamar mandi.
Randana masih menatap tajam pria itu ketika keluar dari kamar mandi. Pria itu sadar jika Randana terus menatapnya, namun pria itu mencoba untuk mengabaikannya. Sekarang pria itu berjalan melewati Randana.
"Kak Dika." Panggil Randana.
"Iya." Pria itu yang merasa terpanggil akhirnya menoleh ke arah Randana.
Randana tersenyum puas ketika ternyata pria itu adalah Dika. Sedari tadi Randana memang sudah menebak jika pria itu adalah Dika, karena terlihat dari perawakannya.
"Kamu siapa?" tanya Dika.
"Aku Nadia." ucapnya, lalu melepas topeng yang ia pakai.
Dika sedikit terpana melihat Randana, karena yang selama ini Dika tahu jika Randana adalah perempuan bermata empat yang terlihat seperti cupu.
Buru-buru Dika membuyarkan pikirannya karena terpana dengan penampilan Randana.
"Kak apa aku boleh minta bantuan?" tanya Randana seketika.
__ADS_1
Sejak Dika masuk ke kamar mandi, tiba-tiba muncul sebuah ide di otaknya. Tentu saja ide itu muncul ketika melihat penampilan Dika. Sebenarnya Dika juga berpakaian formal seperti Rama, namun yang membuat Randana tertarik adalah jas biru tua yang saat ini Dika pakai.
Beda halnya dengan Rama yang hanya menggunakan hem putih dan celana hitam. Rama justru menggunakan jas biru tua yang senada dengan celananya, dan hem putih sebagai ********** tak lupa dasi kupu" yang berwana silver senada dengan topeng yang saat ini ia pakai.
"Bantuan apa?" tanya Rama.
"Aku boleh pinjam jasnya gak buat aku pakai, aku merasa gak nyaman di dalam mungkin karena AC nya terlalu dingin. Jadi bikin aku kedinginan sekarang." ucap Randana beralasan.
Dika melihat gaun yang Randana saat ini sedang gunakan. Memang terlihat sangat terbuka, dan pantas saja membuat Randana kedinginan. Dika juga sebenarnya sama merasakan hawa dingin ketika berada di dalam ruangan tadi, namun ia masih bisa tahan karena hem dalamnya juga berlengan panjang.
Dika yang awalnya sedikit berpikir, kemudian ia melepaskan jasnya nya dan memberikannya kepada Randana.
"Makasih kak, janji besok aku balikin." ucap Randana. Dika tak menyahut, di hanya mengangguk.
"Ya udah gue masuk ke dalam dulu." ucap Dika, kemudian pergi meningglakan Randana sendiri.
Randana segera memakai jas itu. Memang terlihat sedikit kedodoran tapi itu tak masalah untuk Randana. Randana melipat lengannya yang terlalu panjang, dan memulai memasangkan kancing di jas itu.
Memang Rok gaunnya masih terlihat, tapi bagian atas sudah tertutup oleh jas. Sehingga tidak ada yang akan mengira jika gaun itu sama persis seperti yang di pakai oleh Nila.
"Beres." ucap Randana "Eh.. Sebentar." Randana lupa jika ia belum menggunakan topengnya, kemudian ia segera memakai topengnya.
Randana sudah berada di dalam ruangan pesta itu lagi. Ia mengedarkan pandangannya ke arah tempat dirinya dan Rama tadi berdiri, benar saja Rama masih berada di sana. Namun Rama tak sendirian, melainkan bersama Nila. Entah kenapa perasaan Randana tiba-tiba meradang, ia di hantam cemburu ketika melihat Rama di dekat Nila. Tapi ia sadar, tak seharusnya Randana cemburu kepada Nila.
Randana mulau berjalan ke arah Rama. Namun ia malah tak sengaja menyenggol seseorang ketika ia hendak menuju ke arah Rama.
" Maaf." ucapnya seketika. Randana langsung mengarahkan pandangannya ke arah orang yang di tabraknya
"Kak Dika." ucap Randana.
"Ck, bisa gak sih gak gangguan terus." sentak Dika.
"Ma-maaf kak." ucap Randana merasa bersalah, kemudian ia tertunduk.
Tadinya Dika tidak berantusias untuk hadir ke acara ulang tahun Monik, namun karena Monik mengancamnya dan berkata "Yang beruang akan menang dan yang sudah tak punya apapun akan mendekam di penjara." entahlah apa maksud dari perkataan Monik, yang pasti hanya Dika dan Monik yang tahu.
Dika sadar semestinya ia tak harus marah kepada Randana, namun memang perasaannya yang sedikit berantakan karena terpaksa menghadiri acara Monik. Sehingga membuat Dika menjadi emosional yang berlebihan.
"Gue juga sory." ucap Dika.
Mata Randana terbelalak ketika mendengar ucapan Dika, ia mendaratkan pandangannya ke arah Dika. "kenapa tiba-tiba kak Dika juga minta maaf, moodswing banget sih jadi orang." batin Randana.
__ADS_1
wajah Rama seketika berubah menjadi gelisah, padahal dari tadi ia nampak biasa saja ketika berbicara dengan Nila.
Nila yang sadar dengan kegelisahan Rama langsung menayainya.
"Kak Rama kenapa? Kok kelihatan gelisah banget." tanya Nila.
"Emm... kenapa Nadia dari tadi belum balik dari kamar mandi ya." ucap Rama.
Memang sudah hampir setengah jam Randana pergi ke kamar mandi.
Pandangan Nila tiba-tiba mengarah pada gadis yang memakai jas biru. Gadis itu nampak sedang berbicara dengan pria di sebelahnya. Nila tak yakin jika itu Randana, karena wajahnya memang tertutup oleh topeng. Tapi Nila sangat yakin jika itu Randana, karena perawakannya sangat mirip dengan Randana.
"Bukannya itu Nadia ya kak." ucap Nila pada Rama.
Kemudian Rama juga ikut menoleh ke arah gadis yang di maksud oleh Nila.
☆☆☆☆☆
Bersambung...
__ADS_1