RANDANA

RANDANA
BAB 44, FAKTA LAGI


__ADS_3

Hari ini aku akan berangkat sekolah dengan Rama. Hampir setiap hari Rama selalu menghampiriku untuk berangkat sekolah bersama.


"Kok bawa helm? Kan aku udah bawa helm." ucap Rama.


"Punya Dika kemarin kelupaan." jawabku


"Tanggung jawab juga itu cowok beneran antarin kamu, bagus deh kalau gitu." ucap Rama. Lalu kami pun segera berangkat menuju sekolah.


Tak lama kemudian kami sampai di sekolah. Saat sampai di tempat parkir, aku melihat Dika yang juga baru saja datang. Kemudian aku turun dari motor Rama, dan mulai berjalan ke arah Dika dengan niat mengembalikan helmnya.


"Eh, Dika! Maaf kemarin helm kamu kelupaan." ucapku kemudian memberikan helmnya pada Dika, dan dia pun menerimanya.


Setelah ku kembalikan helmnya pada Dika, aku pun mulai meninggalkannya. Namun...


"Rania." Dika memanggilku, dan aku seketika menoleh padanya.


"ada apa?" tanyaku.


"boleh bareng ke kelasnya?" tanya Dika ragu.


Aku sedikit terperangah karena dengan ucapan Dika, entah angin apa yang membuat Dika berkata itu kepadaku.


Aku pun hanya mengangguki Dika, dan kami pun akhirnya berjalan bersamaan menuju ke kelas. Tanpa ku sadari, aku sudah melupakan Rama yang dari tadi berada di sepedahnya.


"Hmm, mentang-mentang udah deket yang sini di lupain." gerutu Rama lirih. Kemudian memyusul kami.


Kami pun menuju ke kelas. Setelah sampai di dalam kelas, ada tiga pasang mata yang melihat ke arahku dan Dika. Yap itu adalah Monik and the genk.


Aku juga tidak mengerti dengan sikap Monik, akhir-akhir ini dia tidak terlalu mendekati Dika seperti biasanya. Tapi baguslah, dengan begitu aku tidak perlu merasa cemburu karena kedekatan mereka.


Saat aku melewati arah mereka, samar-samar ku dengar perbincangan mereka. Tentunya dengan masih ada Dika dibelakangku.


"Lihat deh Nik, kok Dika sama Rania kayaknya dekat gitu. Lo gak cemburu?" lirih Reta yang masih ku dengar.


"Ngapain cemburu, Dika sekarang udah jatuh miskin. Dulu sih gue deketin dia karena memang anak orang kaya, sekarang udah kere." ucap Monik yang sengaja di keraskan.

__ADS_1


Mendengar perkataan Monik, aku langsung menoleh ke arah Dika. Terlihat muka Dika sudah nampak menahan amarah sembari tangannya yang sudah mengepal.


"Kok lo bisa tahu kalau Dika udah jatuh miskin?" tanya Laura.


"Ya tahu lah, berita kayak gitu sih Papa gue juga tahu kali." lanjut Monik.


Tiba-tiba tangan Dika mendarat dengan keras di meja Monik. Sontak semua yang berada di kelas itu tampak kaget dan melihat ke arah Dika termasuk aku. Dengan cepat tanganku memegang bahu Dika dan mata kami pun saling bepadangan. Namun Dika menatap Monik kembali.


"Meskipun dulu gue kaya. Gue juga gak sudi sama lo, lo cuma cewek gatel yang gila harta. Termasuk gila kasih sayang, sampai-sampai lo gak sadar kalau Papa yang lo banggain itu cuma bokap tiri lo. Suatu saat kalau bokap lo sadar sama sifat buruk lo ini, sepertinya dia bakal ngusir lo dan akhirnya lo jatuh miskin juga." ucap Dika dengan senyum seringainya.


Monik tak bisa membalas perkataan Dika, karena apa yang Dika ucapkan memang benar adanya. Niatnya ingin mempermalukan Dika, tapi malah dirinyalah yang di bikin malu oleh Dika.


Aku pun melepaskan peganganku dari bahu Dika, dan kami pun gegas menuju ke bangku kami. Namun Dika yang awalnya duduk di sebelah Monik, kini malah memilih duduk di belakang bangkuku. Lalu menyuruh siswi yang berada di bangku itu berpindah ke sebelah Laura karena bangku Dika sudah di tempati oleh Reta. Rama yang sejak tadi mematung di depan pintu, juga mulai berjalan dan duduk di bangku sebelahku.


"Rania, Rama." panggil Dika. Aku dan Rama sontak menoleh bersamaan.


"iya." jawabku.


"Bolehkan jika aku berteman dengan kalian?" tanya Dika.


"Boleh." ucap kami serempak.


Dan itulah awal mula kedekatanku dengan Dika, entah kenapa Dika jadi sering curhat kepadaku begitupun aku sebaliknya.


Hingga akhirnya Dika juga menceritakan kondisi orang tuanya yang mengalami kebangkrutan, sampai Papanya yang mengalami setres dan juga Mamanya yang mengalami sakit jantung yang sudah terbilang parah.


"Gue gak tahu lagi Ra, sekarang gue bingung harus cari uang dimana lagi buat biaya oprasi mama aku. Dan oprasi itu juga harus dilakukan secepatnya. Semua perabotan di rumah dan juga perhiasan udah gue jual buat bayar hutang papa. Asuransi mereka juga udah abis buat bayar biaya inap di rumah sakit. Rumah belum bisa gue jual karena masih ku gadaikan buat biaya rumah sakit dan juga buat biaya operasi,tapi ternyata masih ada operasi lanjutan. Gaji aku dibengkel juga gak seberapa. Harus ngumpulin uang dulu, tapi ya lama." jelas Dika. sekarang kami hanya berdua saja duduk dibangku taman.


"Kalau gitu kamu pakai uang tabungan aku aja, buat biaya operasi mama kamu." saranku.


"Makasih Ran, tapi gak usah itu kan uang kamu buat kebutuhan kamu sehari-hari. Lagian nanti aku bakalan susah balikin, soalnya biaya operasinya mahal banget." ucap Dika.


"Gak apa, kamu bisa nyicil dikit-dikit kok buat bayar hutangnya nanti. Kamu pakai uang aku dulu ya yang penting mama kamu selamat dulu." ucapku.


"memangnya kamu ada uang 30 juta?" tanya Dika. Aku hanya mengangguk.

__ADS_1


"Beneran gak apa-apa aku pinjam dulu,"


"Iya."


"Makasih ya Ran, aku janji bakal cicil hutang aku dikit-dikit setiap gajian." ucap Dika yang lansung memelukku. Kemudian ia melepaskan pelukannya.


"Iya, kamu gak perlu buru-buru bayarnya santai aja. Nanti uangnya biar aku tranfer ke rekening kamu. Punya tabungan kan?" tanya ku.


"Ada."


Itulah cerita dimana aku bisa bertemu dan kenal dengan Nila dan Dika.


(akhirnya pov Rania selesai)


~ kembali ke Randana dan Rama.


Randana dan Rama sudah habis membaca buku diary Rania hingga habis.


"Kak Rama tahu tentang cerita yang di tulis Kak Rania ini?" tanya Randana.


"Sebagian sih, justru aku baru tahu fakta tentang Dika. Pantas aja dia depresi banget pas kehilangan Rania, karena Rania sepenting itu buat Dika. Dan tentang orang tua Dika, selama ini Rania gak cerita apapun sama aku. Makanya aku gak tahu hal apa yang terjadi sama Dika. Yang aku tahu orang tua Dika bangkrut itu aja" ungkap Rama.


"Dan uang yang di pinjamkan sama Kak Rania untuk Kak Dika, kita biarkan saja. Anggap saja itu udah lunas, aku yakin kak Rania pasti juga iklas." ucap Randana.


"Non Randana sama Mas Rama, makan dulu yuk. Makanannya udah jadi nih." panggil Bi Sumi.


"Iya Bik." jawab Randana.


"Makan dulu yuk kak, udah lapar juga nih." ajakku.


"Ya udah yuk."


☆☆☆☆☆


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2