
Setelah Rama dan Randana selesai makan, mereka kembali lagi ke taman belakang. Disana mereka masih membahas tentang isi buku Rania.
"Kak, sepertinya tulisan kak Rania yang terakhir adalah momen bareng kak Dika. Dan gak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan kejadian ganjal." tutur Randana.
"Hmm."
"Tapi kak, disini musuh Kak Rania yang sebenarnya ya Kak Monik." lanjut Randana.
"Dari dulu mereka berdua memang gak pernah akur." jawar Rama.
"Terus, bagaimana cara kita nyelidikin Kak Monik. Aku masih curiga kalau ini semua pasti ulah Kak Monik." ucap Randana.
"Kita mulai selidikin besok sepulang sekolah gimana?" usul Rama.
"Ok kak."
***
Besoknya, di sekolah.
Setelah jam istirahat, Nila langsung keluar meninggalkan Randana sendiri di kelas. Entahlah ada apa dengan Nila, padahal Randana dan Nila juga sudah berbaikan tapi kenapa sikap Nila masih tidak peduli dengan Randana. Bukannya seharusnya sikap acuh itu hanya di gunakan pada saat berada di luar kelas, karena mereka hanya akan berpura-pura tidak berteman saat berada di luar kelas. "Atau pengirim foto itu ada di dalam kelas ini, apa Nila sudah tahu sesuatu?" batin Randana. Mata Randana nampak clingak clinguk menatap seisi kelas.
Sadangkan di sisi lain. Nila berjalan menuju ke kelas Rama, dia ingin membicarakan sesuatu dengan Rama.
Namun saat hendak menuju kelas Rama, tiba-tiba Monik dan genknya keluar dari kelasnya. Nila pun langsung bersembunyi ke samping tembok yang tak terlihat oleh mereka. Setelah Genk Monik tak Nampak dari pandangan, Nila lalu bergegas menemui Rama yang masih berada di dalam kelas.
"Kak Rama." panggil Nila. Rama gegas menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Mendapati Nila yang memanggilnya, Rama langsung mendekati Nila.
"Ada apa?" tanya Rama yang sudah berada di depan Nila.
"Ada yang ingin aku bicarakan penting." lirih Nila.
__ADS_1
"Apa?"
"Ikut aku sekarang." ajak Nila, mereka berdua berjalan ke luar kelas dan tampaknya hendak menuju ke taman.
Tak sadar mereka di awasi oleh Dika yang juga berada di dalam kelas. Dika yang penasar pun mengikuti mereka berdua dengan diam-diam.
"Ada apa?" tanya Rama. Mereka berdua sekarang sudah duduk di bangku taman.
"Kak! Ini soal pesta Kak Monik kemarin." jawab Nila, dan memabuat Rama semakin penasaran.
"Aku tahu, kalau gaunku dengan Nadia di acara malam itu sama." ucap Nila.
"Iya, lalu kamu masih mengira kalau gaun itu dari aku." ucap Rama.
"Enggak, ini semua karena ulah kak Monik. Dia yang kirimin gaun itu buat aku sama Nadia. Untung aja Nadia punya ide agar gaun kita tidak terlihat sama." jelas Nila.
"Dari mana Monik tahu alamatnya Randana?" batin Rama bertanya-tanya.
"Aku masih belum tahu apa alasan Kak Monik melakukan ini, dia mencoba buat adu domba aku sama Nadia lewat Kak Rama. Foto itu yang ngirim ternyata juga Kak Monik." jelas Nila.
"Yang pasti ini ada kaitannya sama kamu Nil. Sepertinya Monik mau menyingkirkan kamu, dia gak mau kalau kamu ada yang ngebantuin. Mungkin karena itu Monik ingin kamu ngejauh dari Nadia." jelas Rama.
"Segitunya Kak Monik ingin ngerebut Papa dari aku, dia benar-benar jahat." tangis Nila sontak pecah. "Dia boleh rebut hartanya Papa, tapi jangan hatinya Papa." lanjut Nila, Rama cukup iba dengan ucapan Nila. Rama tahu bagaimana perasaan Nila saat ini.
"Kamu tenang aja Nil, aku sama Nadia pasti bakalan bantuin kamu. Kita sama-sama buat Monik sadar atas siapa dirinya." ucap Rama.
"Makasih Kak."
Dari jauh Dika melihat mereka berdua. Dika sudah tahu sejak dulu bagaimana sikap Monik terhadap Nila yang semena-mena. Bahkan sebenarnya jika Rania masih hidup, Dika bersama Rania akan membantu Nila.
***
Akhirnya waktu pulang sekolahpun tiba. Sesuai kesepakatan kemarin, Randana dan Rama memutuskan untuk mencari informasi mengenai Rania. mereka sengaja pulang sekolah lebih akhir karena ingin pergi ke gudang terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah sampai di depan gudang, mereka segera masuk ke dalam gudang yang tidak terkunci. Saat berada di dalam gudang, mereka melihat cendela yang sudah tetutup dan dipalang oleh kayu.
"Kemarin cendela ini di buka kak."
Kemudian Randana mendekat ke arah cendela. Randana melihat ke arah paku. Paku itu masih berlumurkan darah meskipun darahnya sudah terlihat kering sekali.
"Kak ini lihat, menurut Kak Rama ini darah atau bukan?" tanya Randana, Rama kemudian mengarah ke arah Randana.
Setelah Rama melihat paku itu, tampak dia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya. Rama mengeluarkan tisu dan botol minumnya yang masih terisi air. Lalu Rama membasahi tisu itu dengan air yang berada di botol minumnya, setelah itu mengusapkan tisunya ke paku itu untuk menempelkan darahnya ke tisu.
"Ini bisa kita tes agar tahu darah milik siapa, setelah ini kita langsung ke rumah sakit." usul Rama.
"Kak, tapi kita pergi ke makam Kak Rania dulu ya. Aku pengen ngunjungin makamnya sebentar." ucap Randana.
"Ok."
Kemudian Rama menyimpan tisu itu ke dalam wadah pensilnya. Mereka pun segera pergi dari gudang.
Mereka berdua segera bergegas ke arah makam, namun sebelum itu mereka mampir terlebih dahulu untuk memebeli bunga tabur yang bertempat di jalan arah makam. Setelah membeli bunganya, mereka segera menuju ke makam Rania. sebelum memasuki makam, Rama memakirkan motornya terlebih dahulu, kemudian merekapun turun dari motor dan berjalan ke arah makam. Akan tetapi, saat mereka memasuki kawasan makan. Mereka berdua melihat ada seorang wanita yang sedang berjongkok di sebelah makam Rania. wanita itu nampak memakai pakaian seraba hitam serta pasmina hitam yang menutupi sebagian sebagian. Namun wajahnya tak terlihat jelas karena tertutup oleh masker dan kacamata hitam.
"Siapa itu Ra?" tanya Rama.
"Aku tidak tahu, tapi aku ingin mencari tahu." kemudian Randana segera bergegas menemui wanita itu dan meninggalkan Rama. lanjut Rama segera menyusulnya.
"Kamu siapa?" teriak Randana setelah sampai ke makam Rania.
Meskipun tak nampak, tetapi sudah pasti wanita itu gugup ketika melihat keberadaan Randana dan Rama. Namun dengan cepat wanita itu segera berlari meninggalkan makam.
"Hei tunggu, siapa kamu?" teriak Randana. Dia pun juga ikut berlari mengejar wanita itu. Rama yang bingung, pada akhirnya ikut mengejar mereka.
Wanita itu berlari menghindari Randana, kemudian memasuki mobilnya yang terparkir disana. Gegas wanita itu menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya secepat mungkin. Setelah Wanita itu menaiki mobil, barulah Randana menhentikan langkahnya yang kemudian disusul oleh Rama yang berada di sebelahnya.
"Kak, ayo kita kejar wanita itu?"
__ADS_1
☆☆☆☆☆
Bersambung...