
"Ya udah deh." Pasrah Rama.
Sepeda motor Rama berhenti tepat di pinggir jalan yang Randana sudah minta. Randana turun dari motor Rama, dan memberikan helem yang tadi ia pakai kepada Rama.
"Terimakasih ya kak udah di anterin Nadia." Ucap Randana.
"Besok aku jemput lagi ya?." Ajak Rama.
"Kayaknya gak usah deh kak, aku naik taksi aja." Tolak Randana.
"Lah emang kenapa, ada yang marah ya?." Goda Rama.
"Kalau Nadia sih gak ada yang marah kak, tapi takutnya ada yang cemburu sama Nadia karena dekat-dekat sama kak Rama." Ucap Randana.
"Gak ada lah, emang siapa? Lagian aku juga masih single." Jelas Rama.
"Ya fans kak Rama mungkin." Ungkap Randana.
"Emangnya aku artis." Ucap Rama dengan senyumnya yang menyeringai.
"He... He..., ya kan kak Rama ganteng, keren, masak iya gak ada yang suka." Ucap Randana.
"Aku ganteng!." Tegas Rama sambil menaikan satu alisnya.
Randana seketika terdiam, sepertinya ia telah salah bicara.
"Ah udah ah, mending kak Rama pulang. Gak enak dilihatin orang nih dipinggir jalan gini." Ucap Randana mengalihkan topik.
"Iya deh, tapi besok tetap aku jemput ya." Ucap Rama.
"Ya udah aku pulang dulu." Ucapnya lagi yang lansung mengegas motornya itu.
__ADS_1
"Eh tapi kak, isshhh.... Ini kak Rama kenapa sih. Kok malah jadi gini." Lirih Randana sedikit gelisah. Pasalnya ia hanya tidak mau jika Nila salah paham, meskipun Nila tidak mempermasalahkan itu semua.
Dengan langkahnya yang diperlambat, Nila perlahan mengetuk pintu ruang kerja Papanya yang tidak tertutup rapat itu. Nampak seorang paruh baya sedang mengotak-atik berkas kerjanya.
"Iya masuk." Pekik Pak Handoko.
"Ini Nila Pa." Ucap Nila yang sudah memasuki ruangan papanya itu.
"Oh kamu Nil, ada apa?" Tanya pak Handoko.
"Iya boleh, biar dianterin sama pak Tarjo." Jawab Pak Handoko yang masih fokus dengan berkas kerjanya.
"Makasih pa." Ucap Nila.
Nila lekas berbalik dan akan meninggalkan papanya, namun tiba-tiba Pak Handoko mengucapkan sesuatu pada Nila.
__ADS_1
"Nila, Papa gak ada maksud buat pilih kasih sama kamu. Papa hanya gak mau kamu jadi anak yang salah, tolong mengerti posisi Papa ya nak." Ucap Pak Handoko dengan sendu.
"Iya Pa." Hanya kata itu yang mampu diucapkan Nila, dan selebihnya biarkan air mata yang mengerti kesedihannya.
Tanpa menoleh ke arah Handoko, Nila langsung saja meninggalkan papanya itu.
'Seharusnya Papa yang mengerti keadaan Nila'
Randana kini sudah berada di TPU dimana kakaknya dimakamkan, dia dan Nila sudah berjanjian untuk bertemu di tempat itu.
Saat ini posisi Randana sedang berada di halam parkir TPU, dia menunggu Nila, yang kian belum datang juga.
Tiba-tiba ada tangan yang nampak seperti tangan pria menyentuh pundaknya dari belakang, dengan spontan Randana menarik tangan itu hingga sang pemilik tangan hampir terjatuh ke tanah namun Randana berhasil menariknya lagi.
"Ampun." Teriak pria itu
Pria itu tampak menggunakan masker dan topi hitam, Randana tidak dapat mengenalinya karena wajahnya yang tertutup dan posisinya sekarang pria itu membelakangi Randana karena tangan pria itu di pegang erat oleh Randana.
"Ini aku, tolong lepasin.....
Bersambung
__ADS_1