
Dengan ragu Dika mengeluarkan selembar foto itu yang terdapat gambar dirinya dan Rania.
tangisnya begitu terisak ketika ia mengingat kenangan itu bersama Rania.
"Maaf..." hanya kata itu yang mampu terucap di bibir Dika.
Matanya terus mengalirkan air mata yang rumayan deras.
Tiba-tiba sebotol air putih berada di samping wajahnya.
"air matanya di tumpahin terus gak takut dehidrasi, mending minum dulu biar air matanya gak kekuras habis." suara yang berasal dari belakang tubuh Dika membuatnya tersontak kaget.
Dika menoleh ke belakang dan ternyata perempuan itu adalah Randana.
"ngapain lo disini." ucap Dika sembari menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"mau pulang aja sih, terus lihat kak Dika disini dan nangis jadi aku inisiatif buat kasih kak Dika air." ucap polos Randana dengan tangan yang masih menyodongkan air untuk Dika.
"Apaan sih gak usah ikut campur deh." ketus Dika sambil menghempaskan tangan Randana yang sedang memegang botol air.
"Aku tau kok kak Dika pasti sedih kan karena kehilangan orang yang kak Dika sayang." terka Randana.
Dika hanya memamerkan senyum sinisnya.
"Di dunia ini hidup itu berputar kak ada yang lahir ada juga yang meninggal, dan kuncinya adalah ikhlas dan sabar." ucap Randana.
"Berisik tau gak lo." bentak Dika.
Dika pun meninggalkan Randana dengan penuh emosi.
Randana masih heran dengan sikap Dika, padahal ia hanya berniat untuk menyemangati Dika.
__ADS_1
"Emang aku salah ngomong ya." lirihnya.
\*\*\*
Nila dan Monik telah sampai di rumahnya. Dengan cepat Monik segera memasuki rumahnya karena ia melihat mobil milik papanya yang berada di halaman.
Benar saja papanya sedang berada di ruang keluarga dan nampak begitu santai berbincang-bincang dengan mama Monik.
"Papa...." teriak monik dengan nada yang sedikit manja, ia berlari kearah papanya itu.
Dengan muka yang sedikit masam, Nila sangat muak dengan sikap Monik itu.
"Pa dua minggu lagi kan ulang tahunnya monik yang ke 17 tahun, masak ia gak di rayakan sih." rengek Monik pada Handoko.
"Iya.. Iya di rayakan kamu maunya konsep yang gimana?" tanya Handoko.
"Pokoknya yang mewah pa..." ucap Monik.
"Yeyyy."
Monik menatap Nila dengan tatapan yang penuh ejekan, namun Nila mengabaikan itu semua.
"Pa Nila izin ke kamar dulu ya." ucap Nila.
Tanpa kata sedikitpun, Handoko hanya menganggukkan kepalanya. Rasanya seperti Nila lah yang merupakan anak tirinya.
Nila menuju ke arah kamarnya, matanya sudah berlinang air mata. Sikap Handoko kepadanya sangatlah sakit. Terakhir kali ia di lukai oleh papanya namun ada satu wanita yang mendampinginya yaitu Rania. Namun, saat ini Rania sudah pergi meninggalkannya.
"Andai kak Rania masih ada, setidaknya sakit ini gak akan terlalu parah." lirih Nila.
Nila masuk ke kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Tubuhnya ia jatuhkan begitu saja di atas ranjang. Matanya mulai terpejam dan fikirannya mengingat kenangan terakhir saat bersama Rania.
__ADS_1
***
"Kak Rania." panggil Nila.
Rania menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah suara itu, dan dilihatnya adalah suara Nila.
"Hai..., kamu belum pulang." tanya Rania.
"Belum kak, tadi nungguin kak Monik tapi teryata dia masih ada urusan, jadi aku pulang dulu deh." jawab Nila.
"oh, gitu."
"Kak Rania sendiri belum pulang?" tanya Nila.
"Belum masih ada urusan di perpustakaan." jawab Rania.
Oohhh...
"Ya udah aku ke perpus dulu ya Nil." ucap Rania.
***
Seketika Nila membuka matanya setelah ia mengingat terakhir kali bertemu Rania, ia mengingat bahwa ada sesuatu yang mengganjal.
"Tunggu sebentar, bukannya waktu peristiwa meninggalnya kak Rania, kak Monik ada di sekolahan ya. Jangan-jangan...."
.
.
Bersambung
__ADS_1