
"Anterin Rania pulang!" perintah Rama, yang membuatku tersontak kaget.
"Ga-gak usah." tolakku
"RANIA." ucap Rama tegas.
"Ya udah yuk buruan gue anterin, ngrepotin aja." ucap Dika,
Dengan pelan aku terduduk dan dibantu oleh Rama, sementara Dika hanya memperhatikan. Kemudian ku turunkan kakiku yang kini sudah di posisi duduk. Aku turun dari brankar dengan dibantu Rama. Dan Kini Dika juga sudah berada disampingku.
"Lo gandeng Rania, dia masih agak pusing." perintah Rama pada Dika.
"Kok gue!" seru Dika.
"Katanya lo mau tanggung jawab, jangan nanggung gitu dong ngelakuinnya." ucap Rama.
"IYA." sontak Dika.
Kemudian tanganku di pegang oleh Dika dan di arahkan pada sikunya agar aku menggandengnya, sontak hal itu membuat hatiku tak karuan rasanya.
Lalu seketika Rama membisikkan sesuatu padaku.
"Good luck, gue cuma bisa bantu segini aja." bisik Rama yang hanya bisa ku dengar. Aku tahu maksut Rama, dia memang sengaja membuatku agar lebih dekat dengan Dika. "Ah dasar menyebalkan!".
"Oke lo harus antar Rania sampai rumah, kalau enggak lo berurusan sama gue." ancam Rama kemudian pergi meninggalkan kita berdua. Sedangkan Dika hanya terdiam, namun raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaan.
Kemudian kami pun segera berjalan menuju ke arah tempat parkir. Dika menyuruhku untuk memakai helm yang Dia bawa, setelah itu aku naik ke atas sepeda motornya. Dika pun segera melajukan motornya untuk mengantarku pulang.
Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah katapun yang kami ucapkan, sampai akhirnya terdengar suara nada dering yang berasal dari handphone Dika yang dia taruh di sakunya. Setelah itu Dika menghentikan motornya di pinggir jalan, lalu dia mengambil handphone itu kemudian dia angkat.
"Iya ada apa?"
"Apa!"
"Baik, kalau gitu saya segera kesana." ucap Dika menjawab panggilannya. Entahlah siapa yang menelponnya, namun rasanya itu terlihat sangat penting.
Setelah itu Dika mematikan panggilannya, kemaudian dia menaruh handphonenya kembali ke saku bajunya. Tampak Dika menjalankan motornya, namun kali ini dengan kecepatan yang rumayan cepat. Sontak tanganku berpegangan pada bajunya.
__ADS_1
Tak berapa lama. Dika menghentikan motornya di halaman rumah sakit. Aku sangat heran kenapa dia berhenti di rumah sakit. Lalu Dika melepaskan helmnya, sedangkan Rania langsung turun dari motonya.
"Oh iya, gue sampai lupa kalau tadi boncengan sama lo. Gini ya gue bisa saja antarin lo pulang tapi kali ini lo gak apa-apa kan pulang sendiri naik taksi. Soalnya gue ada hal penting banget, gue buru-buru." cerocosnya kemudian berlalu meninggalkaku, tampak memang raut Dika sudah berubah menjadi cemas semenjak mengangkat telpon tadi.
Aku terus menatapi punggung Dika hingga tak terlihat lagi, kemudian aku melepaskan helm yang kupakai dan kutaruhkan pada motor Dika. kepalaku memang masih terasa pusing, namun rasa penasaranku menghapus segalanya.
kemudian aku berjalan memasuki rumah sakit. Entah kemana kaki ku melangkah, karena memang sudah tak ku temui Dika disana. Aku terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit, sampai akhirnya aku melihat Dika duduk di kursi yang berada di depan UGD. Mukanya nampak lesu, entahlah apa Dika sedang menangis? Tapi tangannya kini meutupi seluruh wajahnya sembari menghadap ke lantai. lalu aku menghampiri Dika, dengan pelan aku duduk disampingnya kemudian menepuk bahu Dika dengan pelan. Sontak Dika menoleh kepadaku. Kelihat dia sangat terkejut karena melihat keberadaanku.
"Lo gak pulang?" tanya Dika.
"Emm, niatnya sih tadi mau pulang. Tapi rasanya gak etis kalau gak tanya dulu ke kamu. Aku cuma penasaran aja kenapa tiba-tiba kamu ke rumah sakit? Emangnya yang sakit siapa?" tanya ku.
Dika tak langsung menjawab, dia malah menatap kearah depan.
"Maaf, kalau aku lancang tanya-tanya kayak gitu." ucapku merasa bersalah.
"Mama aku yang sakit." ucap Dika seketika, dan aku masih terdiam.
"Mama aku sakit jantung, dan tiba-tiba tadi kondisinya drop. Mangkanya aku tadi khawatir. Sekarang lagi di tanganin sama dokter." jelas Dika.
"Sabar ya, ujian setiap manusia itu memang berbeda-beda. Tapi aku yakin jika Tuhan tidak akan memberi ujian pada umatnya melebihi batas kemampuanya. Dan satu lagi, jangan pernah merubah sifat baik kamu menjadi sifat yang buruk, apa lagi karena hanya sebuah masalah. Tuhan gak suka apalagi orang tua kamu. Sebaiknya kalau ada masalah kita kembali ke Tuhan. Kita serahkan semuanya pada Allah." Nasehatku sembari mengelus bahu Dika. Kemudian Dika menoleh ke arahku.
Tiba-tiba dokter sudah keluar dari UGD, aku dan Dika segera berdiri dan berjalan menuju dokter itu.
"Bagaimana Dok kondisi mama saya?" tanya Dika.
"Alhamdulillah kondisi pasien sudah lebih baik, beliau sudah mampu melewati masa kritisnya. Tapi untuk saat pasien masih belum sadarkan diri, mungkin butuh beberapa jam untuk beliau kembali sadar. Dan untuk saat ini pasien masih belum bisa diganggu, lebih baik dibiarkan dulu untuk beristirahat." jelas Dokter itu.
"Makasih Dok." ucap Dika.
Kemudian dokter itu berlalu meninggalkan kami berdua. Dika lalu menarap ke arahku.
"Kamu gak pulang?" tanya Dika.
"Pulang, bentar lagi." jawab ku.
"Naik apa?" tanya Dika.
__ADS_1
"Naik taksi." jawabku.
"Ya udah yuk gue anterin aja, nanti kalau lo kenapa-napa yang ada temen lo itu nyalahin gue lagi." ucap Dika.
"Emm, Ta-." belum selesai aku berbicara, tangan Dika sudah menggandengku dan mengajakku untuk keluar dari rumah sakit. Dan kamipun sudah berada di halaman rumah sakit, tempat dimana Dika memarkirkan motornya.
"Tapi nanti mama kamu sendirian gak ada yang jagain." ucapku.
"Kamu dengar kan dokter tadi bilang apa, mama aku udah baik-baik aja. Jadi gak perlu ada yang harus di khawatirin. Lagian nganterin kamu juga cuma bentar kok." jawab Dika sembari memasangkan helm padaku. Tanpa sadar pandangan kami saling bertemu dengan tangan Dika yang masih berada pada helm yang ku pakai.
"Udah." ucap Dika mengalihkan pandangannya, dan seketika aku tersadar dari lamunanku.
Kemudian aku pun segera naik ke motor Dika, dan dia langsung melajukan kendaraannya keluar dari rumah sakit. Selama di perjalanan kami saling diam, hingga akhirnya dia sudah sampai di halaman rumah ku.
"Kamu kayaknya biasa berangkat sekolah bareng si Rama terus, memangnya gak ada sopir?" tanya Dika, dan kini aku sudah turun dari motor Dika.
"Aku gak punya sopir." jawabku sembari tersenyum.
"Masak rumah sebesar ini gak punya sopir sih." ucap Dika.
"Gak ada yang bisa jadi kepercayaan om aku selain pembantu rumah tangga aku sama satpamku." jawabku.
"Om? orang tua kamu dimana?" tanya Dika.
"Orang tua aku udah lama meninggal, jadi aku cuma sendiri disini. Adek sama om ku tinggal di jepang." jawabku terus terang.
"Oh... Maaf ya!" ucap Dika merasa bersalah.
"Gak apa-apa kok." ucapku.
"Kalau gitu aku permisi"
"Iya."
Kemudian Dika bergegas pulang meninggalkanku. Tanpa sadar Rania lupa mengembalikan helm Dika yang tadi ia pakai.
"Eh iya helmnya kelupaan." lirihku
__ADS_1
☆☆☆☆☆
Bersambung.....