RANDANA

RANDANA
BAB 8, GELANG PERAK


__ADS_3

"Darah siapa ini? tapi kenapa bisa ada darah." lirih Randana.


Ia tidak habis pikir kenapa cendela yang tidak pernah terbuka menjadi terbuka, darah... kenapa bisa ada darah?


Pandangan Randana tertuju pada sebuah kilauan yang berada di lantai gudang itu. Lalu kemudian ia mengambilnya di lantai, ternyata itu adalah sebuah gelang perak.


"Milik siapa ini? atau ini ada kaitannya dengan darah yang menempel di paku."


"Gak mungkin jika di sekolah ini ada pembunuhan, ini mencurigakan." lirih Randana.


"Kamu ngapain di sini?" ucap seseorang yang membuat Randana terkejut.


"Kak Rama."


"Ini udah jam pulang sekolah tapi kamu malah ke gudang, kenapa?" tanya Rama.


"Em.. gak ada kok kak, ini cuma nyari barang yang tadi jatuh waktu ambil bola di gudang." elak Randana.


"Udah ketemu?"


"Udah."


Sambil melihatkan gelang yang tadi Randana temukan. Meski ia tidak tau gelang itu milik siapa, tapi Randana gunakan untuk membohongi Rama.


"Gelang kamu kayak milik seseorang, gak asing deh." Ucap Rama.

__ADS_1


"Oh ya kak, soalnya gelang kayak gini kan pasaran." jelas Randana.


"Kayak milik Almarhumah Rania temanku, soalnya aku yang kasih. Sebagai ngerayain pertemanan yang udah lama aja. Nih aku juga punya." ucap Rama sambil melihatkan gelang yang berada di tangannya.


"Oh gitu ya kak."


Randana semakin curiga, jika memang benar itu gelang milik Rania berarti apa mungkin darah yang menempel di paku itu miliknya. Lalu siapa yang berani menyakiti Rania.


"Kayaknya kak Rania itu sepesial ya buat kak Rama? tanya Randana.


"Cuma sepesial sebagai sahabat aja kok, karena kita udah temenan lama. Setelah Rania pergi gak ada yang bisa aku ajak ngobrol." jelas Rama.


"Aku hanya benci sama diriku sendiri, karena waktu itu aku gak masuk sekolah lalu ada yang bilang Rania kecelakaan. Aku belum sempet lihat dia untuk yang terakhir kalinya." ucapnya lagi.


"Tapi waktu itu ada yang bilang kecelakaanya terjadi jam 5 sore dan Rania masih pakai seragam sekolah, kejadianya juga gak jauh dari sekolah. Tapi kenapa Rania bisa pulang sore, karena setau aku Rania gak pernah ikut ekstakulikuler apa pun." jelas Rama.


"Ah... entahlah, bahkan gak ada orang satupun yang peduli dengan kematian Rania. Mereka cuma berfikir kalau kematian Rania hanya tidak di sengaja." jelas Rama.


Randana hanya merenung mendengarkan Rama yang sedari tadi tidak berhenti berbicara.


"Maaf ya aku jadi ngomong panjang lebar." ucap Rama yang sadar bahwa dirinya sedari tadi terus berbicara.


"Gak apa-apa kok kak, namanya juga sahabat pasti juga ada rasa peduli. Kalau aku di posisi kak Rama pasti juga berfikir gitu." ucap Randana.


Rama tersenyum mendengarkan ucapan Randana.

__ADS_1


Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka segera meninggalkan gudang.


Kali ini Randana kembali pergi ke makam kakaknya itu. Ketika ia sampai di tempat permakaman Rania, ia melihat dari kejauhan ada seorang anak laki-laki yang sedang menaburkan bunga di makam Rania.


Tampak ia memakai seragam sekolah yang sama dengan yang Randana gunakan.


Namun tidak lama laki-laki itu pergi meninggalkan makam Rania.


Wajahnya memang tidak nampak jelas, karena menggunakan masker. Rania segera membuntuti laki-laki itu.


Laki-laki itu pergi menggunakan sepeda montor ninjanya, dan Randana membuntuti laki-laki itu dengan taksi yang ia tumpanginya tadi.


"Pak cepat pak ikuti sepeda montor itu." Perintah Randana pada sopir taksi.


Kemana pun arah motor itu pergi Randana selalu mengikuti arahnya.


Hingga pengendara motor itu tersadar, jika sedari tadi ia telah di buntuti oleh taksi yang berada di belakangnya.


Namun, bukanya mengendarai lebih cepat. Malah motor itu berhenti di pinggiran jalan.


Taksi yang di ikuti Randana pun juga ikut berhenti tepat berada di belakang motor ninja itu.


Laki-laki itu tampak menuruni motornya dan berjalan menuju taksi yang Randana tumpangi


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2