
"Asalkan." Sahut Nila melanjutkan ucapan yang terpotong oleh Randana.
"Asalkan apa?." Tanya Randana cepat.
"Jangan tinggalkan aku ya Nad, cuma kamu yang saat ini ngerti posisi aku." Sahut Nila dengan cepat, Randana hanya terpaku dengan jawaban Nila.
"Udah cukup Nad aku kehilangan sosok kakak seperti kak Rania, meskipun dia bukan kakak kandung aku. Tapi dia udah berarti dalam hidup aku." ucapan Nila dengan senyum melasnya.
Randana cukup tertegun dengan ucapan Nila, tidak menyangka jika ternyata Kak Rania bisa berpengaruh terhadap hidup Nila.
" Aku jadi penasaran deh mil sama sosok kak Rania yang kamu ceritain itu, apalagi dia juga cukup berpengaruh atas hidupnya Kak Dika. Kamu bilang kemarin kalau Kak Dika juga berubah semenjak Kak Rania pergi." ucap Randana.
"Hmm... Iya Nad."
" kapan-kapan aku ajak kamu ke makam Kak Rania ya." Ajak Nila.
"Boleh..." Sahut Randana.
Dengan begitu Randana akan lebih cepat mengetahui siapa sosok di balik pembunuh kakaknya.
~
__ADS_1
Dika... Dika... sebenarnya kamu ini niat atau tidak sih sekolah." Bentak seorang guru yang bertugas mengawasi siswa yang terlambat hari ini.
Salah satu dari siswa yang terlambat itu memang Dika, dia memang sering sekali terlambat sekolah hingga membuat guru yang bertugas selalu muak dibuatnya.
Dika sepatah kata pun tidak menyahut omelan guru itu, sikapnya yang apatis dan acuh itu telah membekukan hatinya hingga membuat dirinya sudah kebal dari segala masalah.
"Baik kalau begitu hukuman kali ini bapak suruh kalian semua untuk membersihkan kamar mandi."
"Baik Pak." jawab semua serentak.
"ya sudah silakan dilaksanakan." perintah guru itu.
Semua siswa segera pergi untuk melaksanakan hukumannya termasuk Duka.
Saat sampai di kamar mandi, Randana melihat Dika yang sedang membersihkan kamar mandi pria, yang berada di sebelah kamar mandi wanita. Dika dan beberapa siswa yang dihukum berada di ruangan itu sedang menyikat lantai kamar mandi.
Randana terus melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi wanita, setelah Dika keluar dari kamar mandi, Randana melihat seorang guru yang sedang memberitahu mereka untuk segera masuk kelas dan terbebas dari hukuman itu.
Lalu guru itu pergi meninggalkan mereka.
Randana yang melihat Dika juga akan pergi iya segera menemui Dika.
__ADS_1
"Kak Dika." Panggil Randana kepada Dika.
Mendengar suara itu Dika hanya berhenti melangkah tanpa menoleh suara itu.
Randana berjalan ke arah Dika dan sekarang tepat di hadapannya.
"Kenapa?." Tanya Dika ketus.
"maaf kalau ganggu, Nanti jam istirahat Kalau kakak nggak ada urusan aku boleh tanya sesuatu?". ucap radana setengah ragu.
"mau tanya apa?" tanya Dika yang masih terlihat ketus.
"soal kakak-kakak yang ada di foto Kak Dika kemarin, Kak Rania kan namanya?." ucap Randana dengan nada yang ragu.
"Lagian lu siapa? reporter lu? gue gak kenal ya lu siapa. Jadi nggak usah ikut campur urusan orang lain." jawab Dika dan segera pergi meninggalkan Randana.
"Iissshhh....lagian gue juga yang salah sih, udah tahu Kak Dika modelnya nyolot gitu masih aja gue nanya ke dia." lirih Randana yang menyadari jika sikapnya itu salah.
"Ok Randana semua misi ini pelan-pelan lu akan tahu siapa pelakunya"
~
__ADS_1
bersambung