RANDANA

RANDANA
BAB 30, BUKU DIARY


__ADS_3

Setibanya Rama dikontrakan Randana, ia langsung mengetuk pintu kontrakan Randana. Tapi ada sahutan di dalam rumah.


"kayaknya anknya belum pulang dari tadi mas." ucap salah satu tetangga Randana yang kebetulan lewat.


"oh iya pak, terimakasih." sahut Rama.


"Kemana ya Nadia?" lirih Rama bertanya-tanya.


Rama langsung meraih handphond yang ada di saku celananya, ia mulai mencari nomor Randana dan mulai menelponnya.


Namun hanya terdengan suara yang menyatakan bahwa handphone Randana sedang tidak aktif.


"Nadia kemana ya? Semoga dia gak kenapa-napa." gumam Rama.


*****


"Bik apa barang-barang kak Rania masih ada?" Tanya Randana yang baru saja selesai makan.


"Masih ada kok non. Bibik gak berani beresin barangnya non Rania selama belum ada perintah langsung dari Pak Toni." Ujar Bi Sumi.


"Ya udah bik, kalau gitu Randana mau ke kamar Kak Rania dulu." ucap Randana yang langsung berdiri dari kursinya.


"Iya non." sahut Bi Sumi.


Tak menunggu lama Randana langsung pergi ke kamar Rania yang terletak di lantai dua.


Setelah sampai di sana Randana langsung membuka kamar yang tidak terkunci itu.


kamarnya terlihat bersih dan rapi meskipun tidak dihuni oleh pemiliknya. Bi Sumi sangat rajin membersihkannya, bukan hanya karena perintah dari Toni saja melainkan itu sudah menjadi kewajiban Sumi selama masih bekerja di sana.


Barang Rania masih terlihat rapi tidak ada satupun yang rusak ataupun hilang.


Perlahan Randana masuk ke dalam kamar Rania, dilihatnya barang yang terletak di atas meja rias. Randana menghampiri meja rias itu dan di duduk di kursi yang terletak di depan meja rias itu.


Satu persatu laci yang ada di meja itu di buka oleh Randana. Namun Randana tidak melihat adanya barang yang mencurigakan.


Selain berkunjung, Randana memang sudah berniat untuk mencari barang milik Rania yang bisa ia gunakan untuk menemukan si pelaku dalang dari peristiwa penabrakan Rania.


Randana pernah sempat berfikir jika penbrakan Rania itu mungkin saja tidak di sengaja, namun jika mendengar faktanya dari Rama dan juga Nila bahwa Rania pulang dari sekolah pada sore hari hal itu membuat Randana berfikir dua kali.

__ADS_1


Tersangka yang di jadikan obyek utama saat ini adalah Monik, namun Randana tidak bisa menuduh jika belum ada bukti. Lagipula apa niat Monik, jika benar dialah pelakunya.


Randan terus melihat sekeliling kamar Rania, matanya langsung terpusat ketika ia melihat tas milik Rania yang tergantung di tembok.


Randana segera berdiri dan menuju tas itu, ia mengambil tasnya dan membawanya ke sofa yang berada di dalam kamar Rania.


Randana membuka resleting tas itu dan mulai mengeluarkan satu persatu barang yang berada di dalam tas itu.


Di dalam tas itu berisi buku pelajaran yang terakhir Rania bawa, kotak pensil, dan handphone yang sudah habis daya (selama ini handphone itu tidak disentuh oleh siapapun selama Rania meninggal), serta buku diary milik Rania yang sama persis seperti milik Randana.


Buku diary itu memang sengaja dibeli couple oleh Randana, karena akan diberikan kepada Rania dan dirinya.


Namun buku diary sekarang dalam keadaan terkunci, dan Randana tidak tahu dimana kuncinya itu berada.


Lalu Randana mengingat sesuatu. Saat itu selain memberikan Rania buku diary, Randana juga memberikan kalung yang bandolnya adalah kunci dari buku itu agar persis seperti miliknya.


"Apa mungkin Bi Sumi tau dimana kunci itu." gumam Randana dalam hati.


Kemudia Randana keluar dari kamar itu dan hendak menuju ke Bi Sumi yang tengah sibuk berada di dapur.


"Bik." panggil Randana yang sudah berada di dapur.


"Bi Sumi masih ingat gak kalung kak Rania ya terakhir ia pakai." tanya Randana tanpa basa basi.


Bi sumi nampak mengingat-ingat sesuatu.


"yang bandolnya kunci ya non." ucap bi Sumi


"Benar bik." sahut Randana berantusias


"Bentar non." ucap Bi Sumi yang bergegas menuju kamarnya. Randana sendiri termangu melihat sikap Bi Sumi.


"yang ini bukan mbak." ucap Bi Sumi yang tiba-tiba datang di hadapan Randana dengan membawa kalung itu di tangan kanannya.


"iya betul bik."


"waktu itu bibik mau kasih kalung ini ke Pak Toni tapi bibik lupa. Pak Toninya malah keburu pergi ke Jepang. Ini jam tangannya Non Rania juga masih saya bawa." jelas bi Sumi sambil menunjukkan gelang jam yang berada di tangan kirinya.


"Iya gak apa-apa bik, makasih ya udah di jagain barangnya." ucap Randana.

__ADS_1


Bi sumi segera memberikan kalung dan jam tangan iti kepada Randana. Ia pun langsung pergi kembali ke kamar Rania.


Jam tangannya iya taruh di atas nakas, dan ia langsung duduk kursi dekat nakasnya segera membuka buka diary itu.


Setelah buku itu terbuka Randana mulai membuka dan membaca setiap tulisan yang terdapat pada lembaran kertas itu.


Disana tertulis tentang banyak kisah yang Rania tuangkan ke dalam sebuah goresan tinta. Cerita tentang orang tuanya, adiknya, dan orang-orang terdekat Rania yang amat ia sayangi.


Randana sangat tersentuh dengan tulisan Rania, namui ia tidak berniat membaca isi di dalam buku itu saat ini juga. Karena halaman buku itu terlalu banyak jika dihabiskan saat ini juga dan akan memakan waktu yang lama.


Randana hanya memutuskan berkujung ke rumah ini sebentar saja dan ia pun harus segera kembali rumah kontraknya.


Dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul empat sore.


Randana segera bersiap-siap untuk pergi, ia memasukkan buku diary dan handphone Rania yang sudah mati ke dalam tasnya.


Randana segera menuju ke lantai bawah untu berpamitan pada Bi Sumi.


"Bibi kira Non Randana akan menginap disini untuk semalam." ucap Bi Suma.


"enggak bik, lain waktu aja Randana akan ke sini lagi." ujar Randana.


"Ya sudah non Randana hati-hati ya, kalau ada apa-apa segera hubungi bibik siapa tahu bibik bisa bantu." ucap Bi Sumi.


"iya bik, terimakasih."


Randana segera pergi dari rumahnya, Pak Ojak yang melihat Randana keluar dari rumah segera menawarkannya untuk mengantarkan pulang. Namun Randana menolak dan lebih memilih untuk mengendarai taksi.


Tak butuh waktu lama, taksi yang yang Randana pesan sudah sampai dan menugantarnya untuk menuju ke kontrakannya.


Beberapa menit berlalu Randana telah sampai di jalan menuju kontrakannya, ia menyuruh sopir itu untuk menghentikan taksinya di depan gank sebelum masuk ke kontrakannya.


Ia langsung dari taksi itu dan segera menuju ke kontrakannya yang melewati sebuah gank.


Begitu Randana telah sampai di depan kontrakannya begitu terkejutnya ia saat melihat seorang anak laki-laki berseragam putih abu-abu yang tengah tertidur pulas di kursi yang terletak di teras kontrakannya.


"Kak Rama." lirih Randana


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2