RANDANA

RANDANA
BAB 39, ISI BUKU RANIA


__ADS_3

Akhirnya rangkaian acara pesta telah selesai, para tamu juga sudah pulang. Terlihat rumah Handoko yang dijadikan tempat pesta juga baru dibersihkan oleh para pelayan. Handoko dan istrinya juga sudah beristirahat di dalam kamar. Sementara Monik malam ini sudah meminta izin kepada Handoko untuk mengajak ke dua temannya Reta dan laura untuk menginap disana. Sedangkan Nila baru saja dari dari dapur untuk minum, setelah itu Nila akan kembali lagi ke kamarnya.


Namun saat melewati kamar monik. Nila samar-samar mendengarkan percakapan Monik dan kedua temannya. Kamar Monik memang tidak tertutup rapat sehingga suara mereka masih dapat di dengar meskipun samar-samar. Terdengar Monik menyebut namanya dan juga Nadia (nama samaran Randana), sehingga membuat Nila menghentikan langkahnya.


"Kayaknya si cupu itu udah sadar kalau gaun mereka sama, jadi si cupu itu cari solusi biar gaunnya gak kelihatan sama." ujar Reta.


"Cerdik juga tu cupu." sahut laura.


"gak apa-apa, yang penting tadi gue udah liat mereka tukeran posisi waktu dansa." ucap Monik.


"Tapi kenapa lo malah bikin Nila yang dansa sama Rama, bukan sebaliknya?" tanya Reta. Monik tampak masih dan tersenyum menyeringai.


"Kalau gue pikir-pikir sama saja. mau Rama dansa sama Nila ataupun Nadia, itu akan tetap berpengaruh." jawab Monik.


"Maksudnya?" tanya Reta dan Laura kompak.


"Gue lihat Nadia juga lagi dekat sama Rama. Dan gue yakin sepertinya cupu itu juga akan benci sama Nila, karena melihat Rama dan Nila dansa bareng." ujar Monik.


Tanpa sadar perkataan mereka terdengar di telinga Nila. Setelahnya Nila segera menuju ke kamarnya supaya tidak di curigai oleh Monik.


"Oh jadi ini ulah Kak Monik, semua yang terjadi antara aku dan Nadia selama ini karena ulah Kak Monik. Baik kalau Kak Monik main secara halus, aku juga akan melakukan hal yang sama. Jangan di kira aku diam selama ini karena pasrah. Aku akan ambil hakku yang udah kalian renggut." lirih Nila penuh tekat.


*****


Beda halnya dengan Nila yang ingin haknya kembali, justru Randana masih bergeming untuk mencari tahu siapa dalang dari pelaku tabrak lari Rania.


Sebenarnya Randana masih penasaran dengan bukti-bukti yang ia temukan di gudang. Apa mungkin jika darah itu milik Kak Rania? Hal itu yang selau terlintas di pikirannya. Sesaat kemudian ia mengingat lagi gelang yang Rama bilang mirip dengan milik Rania. Gelang yang Randana temukan di gudang sekolah.


"Apa aku harus tanya Kak Rama ya? Untuk memastikan jika gelang itu milik Kak Rania. Lagi pula Kak Rama juga sudah tahu kalau aku adik Kak Rania." gumam Randana.

__ADS_1


Setelah itu Randana segera mengambil gawainya yang berada di sebelahnya, untuk memberi pesan pada Rama.


[Randana: Kak, hari ini sibuk gak?]


Tidak lama pesan itu sudah di baca oleh Rama.


[Rama: Enggak, memangnya ada apa?]


[Randana: Kalau gak sibuk bisa kesini gak ada yang mau aku tanyakan, penting!]


Dahi Rama sedikit mengerut saat membaca pesan dari Randana.


[Rama: Yah kok kamu duluan sih yang nyuruh aku kesana. Padahal tadi aku mau bikin kejutan buat samperin kamu, mau ajak kamu jalan-jalan mumpung lagi libur sekolah]


[Rama: Ya udah nanti sekitar jam sembilan aku kesana]


Sembari menunggu kedatangan Rama. Randana memutuskan untuk membaca-baca lagi buku diary milik Rania.


Isi buku Rania :


Aku memang tak seberuntung kebanyakan anak-anak seusiaku. Di saat mereka memiliki keluarga yang utuh, aku justru di tinggal ke dua orang tuaku. Tapa syukurnya Tuhan masih adil terhadapku, aku di beri adik dan om yang baik kepadaku sehingga aku masih merasa disayang. Meskipun mereka tinggal jauh dariku, tetapi aku selalu di perhatikan.


Beda halnya dengan ke dua orang yang saat ini dekat denganku. Aku yang merasa jika selama ini tidak beruntung karena sudah di tinggal kedua orang tuaku. Ternyata ada yang lebih parah dari kehidupanku. Padahal mereka masih memiliki keluarga tapi bisa dibilang keluarga mereka saat ini tidak memperdulikan mereka. Nila teman yang sekaligus sudah ku anggap adik, begitu sesangsaranya dia tidak mendapatkan perlakuan adil dari papanya. Ingin sekali aku membantunya, tapi apa daya. Aku belum punya keberanian dan bukti untuk membantu Nila. Aku harap Nila akan segera mendapatkan kebahagiaan dan keadilan secepatnya.


Dan juga Dika, padahal dia dulu anak yang baik dan punya banyak prestasi. Tapi karena masalah yang menimpa keluarganya, dia jadi berandalan akhir-akhir ini. Aku janji bakalan merubah sifat kamu agar jadi diri yang lebih baik lagi. Kamu cuma butuh dukungan dan semangat.


Tulisan yang ada di buku diary Rania cukup menyentuh hati Randana. Dan ia juga mendapatkan sedikit fakta tentang Dika.


"Kemungkanan Kak Dika jadi seperti ini karena frustasi, apalagi ditambah kehilangan Kak Rania. Masalah keluarganya seberat apa ya?" batin Randana.

__ADS_1


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar dari kontrakan Randana. Tanpa pikir panjang Randana segera bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar kamar, ia sudah tahu jika yang datang pastilah Rama.


Setelah Randana membuka pintunya, benar saja yang datang adalah Rama. Dia tidak datang dengan tangan kosong, terlihat sebuah bingkisan yang sedang ia bawa.


"Dari bunda buat kamu." ucap Rama sembari memberikan bingkisan yang ia bawa.


"Kok bunda Kak Rama tahu soal aku." tanya Randana.


"Aku ceritain lah, kalau dia punya calon menantu cantik." ucap Rama yang berhasil membuat pipi Randana menjadi merah merona.


"Apasih menantu-menantu, aku kan mau kuliah dulu." protes Randana.


"Ya nanti lah kalau udah sama-sama siap." goda Rama.


"Ah udahlah... Mending masuk dulu. Ngobrol di dalam saja." ucap Randana yang masih menahan rasa malu-malu kucingnya.


Rama melangkahkan kakinya ke dalam kontrakan Randana, ia memindai seluruh ruangan itu meski tidak ada apapun yang terpasang di dinding ruang tamunya.


"Kak Rama duduk dulu, aku mau siapin minuman sama cemilan biar ngobrolnya nanti tambah enak." ucap Randana kemudian menuju ke dapur. Dan di angguki oleh Rama.


Tak menunggu lama Randana datang membawa nampan yang berisi dua gelas minuman dan Roti dari bundanya Rama yang sudah ia sajikan ke dalam piring. Kemudian Randana taruh nampan itu ke atas meja ruang tamu dan memindahkan makanan dan minumannya di atas meja, lalu menyimpan nampannya di atas kursi sebelahnya.


"Oh ya tadi kamu nyuruh aku kesini buat ngobrol hal penting. Memangnya hal penting apa?" tanya Rama membuka obrolan.


"Emmm... Itu kak...."


☆☆☆☆☆

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2