
Pov Rania
Aku Rania Pricilia, anak pertama dari dua bersaudara. Aku memiliki adik perempuan yang bernama Randana Andita, sekarang adikku itu tinggal di Jepang bersama adik dari papa ku yang bernama Om Toni. Sebenarnya aku juga disuruh untuk tinggal disana, tapi karena rasa sayangku terhadap kedua orang tuaku membuatku enggan meninggalkan makamnya. Setidaknya aku akan lebih mudah mengunjungi makamnya ketika aku merindukannya. Namun karena Om ku juga sangat menyayangiku, sehingga aku masih diperbolehkan menempati rumah peninggalan orangtuaku. Tentunya aku tidak diperbolehkan tinggal disana sendiri, jadi aku ditemani oleh pembantu rumah tangga yang sudah lama bekerja disana bahkan sudah menjadi kepercayaan kedua orang tua ku yang bernama Bi Sumi dan juga satpam yang sama lamanya bekerja disana yaitu Pak Ojak.
Kini aku sudah beranjak kelas 11 SMA. Aku tak memiliki banyak teman karena aku memang tak pandai besosialisasi dan tak pernah juga ikut ekstrakulikuler di sekolah. Bahkan temanku satu-satunya adalah Rama, itu saja kita sudah berteman sejak SMP. Karena sangking dekatnya dengan Rama, kita kerap dikira berpacaran. Padahal perasaanku terhadap Rama hanya sebatas teman dan sahabat.
Tapi kalau ditanya, ada gak laki-laki yang menarik perhatian kamu? ADA!!! Laki-laki yang menurutku cukup misterius, tapi meskipun dia terlihat misterius aku menyukainya karena sesekali aku melihatnya tersenyum dan itu membuatku merasakan debaran yang entahlah aku sendiri tidak tahu dengan perasaanku.
Hari ini ada acara cllas metting di sekolah, dan kelasku tentunya ditunjuk untuk mengikuti lomba basket antar kelas. Permainan demi permainan sudah dilewati oleh tim basket di kelas kami, hingga saat ini adalah penentuan babak final. Ada lima anak yang ditunjuk untuk berpartisipasi dalam lomba itu, salah satunya adalah Rama. Sebenar jika tidak ada Rama, aku akan lebih memilih untuk menghabiskan waktuku di perspustakaan karena aku sangat tidak menyukai hal yang ramai.
Dan tentunya dari lima pemain itu ada dia, Mahardika aditama atau biasa dipanggil Dika. Tentunya Dika ikut serta dalam acara ini, karena dia adalah ketua tim basket di ekstrakuliernya. Entahlah kenapa aku menyukainya, mungkin karena kepribadiannya. Dia memang terlihat dingin dan angkuh, tapi sebenarnya dia tidak seperti itu. Kita pernah tak sengaja bertemu ketika aku ingin merayakan hari jadiku, dan waktu itu aku ingin merayakannya bersama anak-anak panti. Tak ku sangka aku bertemu Dika di sana, tentunya aku sangat terkejut karena dia ternyata adalah pria yang hangat dan peduli terhadap sesama. Itulah yang membuatku kagum kepada Dika.
*
Tak terasa pertandingan basket sudah setengah permainan. Semua pemain keluar dari lapangan untuk beristirahat sejenak. Entah kenapa sedari tadi mataku tertuju kearah Dika. Ingin sekali aku menghampirinya, memberinya minum dan menghapus keringat yang ada di pelipisnya.
sangking fokusnya aku pada Dika, sampai tak ku sadari jika sudah ada Rama di sampingku.
"Ehem..., tahu gitu tadi aku minum sendiri gak usah nyuruh kamu buat beli." sindir Rama.
"Eh Rama, sory. nih... nih... "ucapku ketika menyadari adanya Rama, lalu ku berikan minuman dan handuk kecil kepada Rama. Kemudian mataku tertuju lagi kepada Dika.
Rama segera mengambil minuman yang berada di tanganku, setelah itu menengguknya hingga hampir habis.
__ADS_1
"Mending samperin aja, dari pada cuma dilihatin dari jauh." ucap Rama berbisik di telingaku.
Langsung ku putarkan kepalaku ke arah Rama, dan ku pelototi dia "Apaan sih." gerutuku sambil menyenggol Rama menggunakan sikuku. Sedangkan yang di senggol hanya cekikikan.
"Habisnya itu mata, sampai gak kedip gitu. Apa perlu nih aku yang panggil Dika biar kesini." ucap Rama.
"Awas ya kalau macam-macam." tudingku yang akhirnya membuat Rama diam.
Mataku kembali terarah kepada Dika yang masih berdiri di pinggir lapangan. "Dia gak ada yang kasih minum apa?" batinku. Karena Dika dari tadi hanya diam dan tidak minum sama sekali, ingin sekali rasanya aku menghampirinya dan memberinya minum. Namun tiba-tiba ada tiga gadis sejoli yang datang ke arah Dika dan langsung memberinya minuman. Tak lama Dika mengambil minuman di tangan salah satu gadis itu. Rasanya hatiku meledak melihatnya, entah perasaan apa. Apa mungkin aku cemburu???.
Priiiittttttt
Peluit sudah berbunyi, pertanda pertandingan akan di mulai kembali. Para pemain yang bertugas segera masuk ke tengah lapangan, termasuk Rama dan Dika.
Seluruh anggota kelasku berkumpul menjadi satu di area pinggir lapangan. Bu Della yaitu wali kelas kami, datang menghampiri kami.
"Anak-anak semua, karena kelas kita menang pertandingan basket kali ini. Maka ibu akan mentraktir kalian makan di kantin se-pu-as-nya." ucap Bu Della yang membuat anak-anak di kelas kami bersorak gembira.
Kemudian kami semua segera menuju kantin. Terlihat sepi di kantin, karena memang sengaja sudah di pesan oleh Bu Della agar muat di tempati oleh kelas kami.
Rama mengajakku duduk di bangku yang masih kosong, dan kami pun segera duduk disana. Tak kusangka tiba-tiba Dika menghampiri kami.
"Boleh aku gambung sama kalian." ucap Dika, dan aku hanya terdiam karena masih tak menyangka karena akan sebangku dengan Dika.
__ADS_1
"Oke, silahkan." sahut Rama.
Kemudian Dika duduk tepat di sebelahku yang muat untuk bertiga, dan tersisa bangku yang kosong di depan.
Tak lama kemudian ada sebuah tangan yang menepuk bahuku, akupun menoleh ke arah orang yang menepuk bahuku itu.
"Lo bisa pindah gak, gue mau duduk di sebelah Dika." ucap gadis itu yang ternyata bernama Monik.
Sebenarnya aku sangat sebal karena tiba-tiba Monik ingin mengambil alih kursiku.
"Heh..., masih lihat gak sih ada bangku kosong di depan. Kenapa coba mau duduk di tempat yang jelas-jelas sudah ada orangnya." sentak Rama, membelaku.
"Apaan sih, Kan gue mintanya juga baik-baik." sentak Monik tak kalah nyolot.
"Udah-udah, gue akan pindah gak usah bertengkar lagi." ucapku mengalah, karena tidak ingin masalah lebih panjang lagi meskipun ada perasaan kecewa.
"Tuhhh, dia aja mau kebapa lo yang sewot." ucap Monik. Kemudian aku berpindah tempat di depan Rama yang masih kosong, dan Monik juga langsung duduk di kursi yang ku tempati tadi. Dan di sebelahku juga langsung diisi oleh teman-teman monik.
Sebenarnya aku kecewa bukan karena Monik yang duduk di kursi yang ku tempati tadi, melainkan aku kecewa karena Dika sangat acuh dan sama sekali tak berniat untuk membelaku.
☆☆☆☆☆
Bersambung...
__ADS_1