
Pada umumnya ketika anak-anak pulang sekolah mereka akan langsung pulang ke rumah. Beda halnya dengan Dika hampir setiap hari ia tidak pulang ke rumah, hingga rumahnya yang sebenarnya cukup besar dan megah itu kini hanya terlihat seperti rumah kosong yang terbengkalai bahkan seperti rumah yang tidak berpenghuni.
Aktivitas Dika sepulang sekolah dihabiskan untuk merawat mamanya yang sedang sakit dan terbaring di rumah sakit. Selain itu Dika juga bekerja di salah satu bengkel yang tidak jauh dari rumahnya. Dika harus bekerja padahal ia masih sekolah hanya untuk biaya pengobatan mamanya dan untuk ia bertahan hidup setiap hari.
Dulunya Dika adalah seorang anak dari keluarga yang bisa dibilang cukup kaya dan punya segalanya. Namun tiba-tiba orangtuanya jatuh miskin karena disebabkan salah satu anak buah dari Papa Dika menjebak Papa Dika, dan berhasil merebut kekuasaan papanya.
Satu-satunya harta yang tersisa hanya rumah yang tidak ingin Dika jual karena merupakan sebuah kenangan bersama keluarganya, dan motor yang sering ia pakai untuk dikendarainya setiap hari.
Setelah orangtuanya jatuh miskin, Papa Dika mengalami gangguan mental dan harus di rawat di rumah sakit jiwa, sedangkan mamanya jatuh sakit dan menderita penyakit serangan jantung.
Banyak biaya yang harus Dika keluarkan untuk biaya pengobatan sang mama. Dari pada rumahnya yang ia jual Dika lebih memilih menjual perabotan yang ada di dalam rumahnya untuk membiayai sang Mama. Rumahnya nampak besar dari luar, namun begitu masuk ke dalam rumahnya terlihat seperti rumah kosong yang dianggurkan.
Setelah ia menjenguk sang Mama. Dika langsung mampir ke bengkel untuk bekerja. seperti itulah aktivitasnya sehari-hari, dan itulah yang membuat Dika sering telat dan juga lupa mengerjakan tugas sekolahnya.
Kalo ini Dika pulang lebih awal dari bengkel tempatnya bekerja karena sudah tidak ada lagi pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Saat Dika masuk ke dalam rumahnya ia selalu merasa bahwa rumah itu adalah penderitaan yang sekarang sedang ia alami.
Dika berjalan menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
langkah demi langkah yang pelan ia lalui untuk sampai ke dalam kamarnya, Saat sampai di dalam kamarnya Dika langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan menatap tajam ke arah atap kamarnya.
__ADS_1
Disanalah Dika mulai mengingat lagi kenangan bersama orang yang pernah menyembuhkan lukanya, namun luka itu kini mulai menyayat hatinya kembali bersamaan dengan penyembuh lukanya sudah pergi untuk selamanya yaitu Rania.
"Halo Dika" tiba-tiba ada tangan yang melambai diatas Dika yang sedang berbaring.
Dika terkejut dan langsung bangun dari tempatnya berbaring.
"Apa kabar Dika? aku kangen sama kamu Dik." Ucap gadis yang saat ini berada di hadapan Dika.
"Ra Rania" mata Dika melotot tak percaya jika sekarang di hadapannya adalah Rania.
"Ka Kamu" Dika masih tak mempercayai hal ini.
"Aku cuma mau kamu selalu tersenyum Dika, bahagia selalu ya Dika," ucap Rania, seketika Rania langsung menghilang dari tempat itu.
"Rania"
"Rania" Dika terbangun dari tidurnya disertai terlaksananya yang memanggil nama Rania.
Ternyata Dika hanya mimpi semalam
Dika langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membuka gorden jendela kamarnya, nampak langit sudah terang dan matahari sudah mulai terbit.
__ADS_1
Dilihatnya jam yang ada di handphonenya ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam.
Tanpa basa-basi Dika langsung beranjak pergi ke kamar mandi.
Entah kenapa hari ini Dika ingin berangkat lebih awal.
***
"ck... males ah, masak sepagi ini taxi udah diborong semua." kesal Randana ketika melihat aplikasi taxi yang sudah penuh pesanan semua.
"Mana gak ada satupun Bus atau angkot yang lewat lagi."
Tiba-tiba ada pengendara motor yang melewati arah Randana.
Sedang Randana merasa tidak asing dengan pemilik sepeda itu.
"Kak Dika" Seru Randana.
Setelah melewati Randana, motor itu nampak berputar balik ke arah Randana.
Bersambung.
__ADS_1
Kenapa ya kira-kira Dika menghampiri Randana?