RANDANA

RANDANA
BAB 33, JUJUR


__ADS_3

Rama kini sudah berada di depan kontrakan Randana. Dengan perlahan dia berjalan ke aras teras, terlihat pintu kontrakan Randana sudah tertutup.


Rama hendak mengetuk pintu itu, namun tiba-tiba pintu sudah terbuka dan tentunya yang membuka adalah Randana.


Rama melotot sangking terkejutnya, pasalnya yang ada di hadapannya saat ini memang sangat mirip dengan sosok yang selama ini dia kenal sebagai Nadia. Namun kali ini Randana menggunakan outfit rumahan dengan dress santai bewarna pink dengan kacamata yang terlepas dari matanya dan rambutnya yang terurai, sangat tampak berbeda dengan penampilan Randana yang biasannya.


Randana yang hendak membuang sampah di halaman rumahnya juga sangat terkejut ketika membuka pintu, karena menampilkan sosok Rama yang tidak di duga jika dia akan ke kontrakan untuk menemuinnya.


Sepulang sekolah tadi Rama memang mengejar Randana dan Dika, namun tiba-tiba ban sepeda motornya bocor dan ia harus menambalnya terlebih dahulu. Jadi hal itulah yang membuat Rama tidak datang lebih awal untuk menemui Randana.


"Kak kak Rama." seketika lidah Randana menjadi kelu.


Rama masih tetap memandangi Randana, ia sedikit menelan salvinanya karena melihat penampilan Randana yang sangat berbeda dari biasannya.


"I..i.. Ini Nadia kan?" Rama memastikan jika di hadapannya adalah Randana dan bukanlah sosok bidadari yang jatuh dari kayangan.


Randana merasa salah tingkah karena terus di tatap oleh Rama.


"Kak Rama kenapa kesini?" tanya Nadia untuk mengalihkan suasana yang sudah sangat dingin ini.


"Kamu cantik Nad." ucap Rama yang masih terpana dengan pemandangan indah yang sudah tuhan ciptakan.


-DEG


Hati Randana semakin bergemuruh, dan ia juga semakin salah tingkah.


"Kak." teriak Randana sembari menepuk bahu laki-laki itu agar tersadar.


"Eh maaf Nadia, habisnya kamu nggak seperti biasanya." tutur Rama sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kak Rama kenapa kesini?" tanya Randana lagi.


"Mau ketemu kamu, habisnya tadi kamu lari dan malah boncengan sama Rama." ucap Rama mengeluarkan unek-uneknya, sedangkan Randana masih terdiam.


"Nadia kamu harus tahu, kalau Nila itu sudah dukung kita. Dia memang sengaja jauhin kamu untuk saat ini, karena ada sesuatu yang harus ia selidiki." jelas Rama tanpa sadar ia malah membocorkan rahasia yang seharusnya hanya Rama dan Nila yang tahu.


suasana sempat hening sejenak karena Randana menelaah apa yang barusan di ucapkan Rama. Sementara Rama menutup mulutnya karena merasa sudah kecoplosan.


"Apa yang kalian sembunyikan dari saya." sontak Rama bingung harus menjawab bagaimana.


"i itu." ucap Rama tergagu.


"Kalau gak mau di jawab tak apa, tapi jangan harap aku mau temenan sama kalian. Kalian saja udah gak menghargai adanya saya jadi buat apa kita harus kenal." ancam Randana.

__ADS_1


Merasa bingung harus berbuat apa, akhirnya Rama harus jujur terhadap Randana.


Rama dan Nila sebenarnya tidak bermaksud ingin menyembunyikan hal ini dari Randana, namun jika Randana tahu maka siapa yang meneror mereka akan curiga jika permusuhan mereka tidak benar-benar nyata. Nila sendiri sebenarnya juga sudah sangat rindu untuk mengobrol dengan Randana.


"Iya aku bakal jelasin, jadi... (kemudian Rama menceritakan tentang semua hal dari awal jika Nila di teror dengan sebuah foto mereka yang sedang berbocengan untuk memanas manasi Nila. Tapi sama sekali Nila tidak terpengaruh dan malah ia ingin mencari tau siapa si peneror itu).


"kalau di cerna lagi, kemungkinan peneror itu tau tentang perasaan Nila terhadap Kak Rama." ungkap Randana, sedangkan Rama hanya mengangguk menyetujui.


Randana kemudian berfikir "apa mungkin ini ada hubungannya dengan kak Rania, dan pelaku itu apa mungkin juga sama dengan orang yang juga menabrak Kak Rania. Tapi siapa dalangnya, apa mungkin Kak Monik, tapi belum ada bukti kuat jika benar itu Kak Monik."


"Nadia." seru Rama memburakan lamunan Randana.


"kamu kenapa?" tanyanya.


"Eh enggak kok kak, cuma lagi mikirin pelaku peneror itu aja." jawab Randana.


"udah gak usah di fikirkan." ucap Rama.


Kemudian suasana jadi hening kembali.


"Ehem." dehaman Rama mampu menetralkan suasana di antara mereka.


"Nadia, jadi gimana. Apa kita bisa dekat sekarang? Kamu udah tahu kan alasan aku tadi." ungkap Rama.


"Bukannya kita udah dekat sekarang, nih kita udah dekat kan sekarang." ucap Randana yang berpura-pura polos.


"Bukan dekat yang itu, maksudnya sebagai kekasih." ucap Rama malu-malu.


"i itu.." ucapan Randana terpotong tiba-tiba, karena Rama yang seketika menggenggam kedua tangan Randana bahkan tempat sampah yang tadi di bawa Randana dijatuhkan begitu saja. Untungnya sampah itu tidak jatuh berceceran.


"Nadia tolong jangan kamu siksa aku kayak gini, lagian aku juga udah tahu kok parasaan kamu ke aku bagaimana. Nila udah cerita kalau kamu sebenarnya juga suka sama aku." ungkap Rama penuh emosi.


"Maaf kak tapi..." ucap Randana terputus. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rama, namun sayangnya Rama malah menahannya.


"Tapi apa? Kamu mau alasan apa lagi." sahut Rama.


"Bagaimana ini, alasan apa lagi biar Kak Rama bisa percaya. Gak mungkin kan kalau aku harus jujur." Batin Randana.


Seketika Rama melepaskan dengan kasar tangan Randana yang sedari tadi ia genggam. Ia megusap wajahnya yang merasa frustasi.


Randana merasa sangat bersalah dengan tindakannya, karena sesungguhnya perasaannya juga sama dengan Rama.


Tanpa sengaja mata Rama menangkap kalung yang dipakai oleh Randana "kenapa kalung itu sangat mirip seperti milik Rania." batin Rama.

__ADS_1


Flashback on


Rania duduk di bangkunya saat jam istirahat tiba. Ia sengaja tidak keluar kelas saat ini, karena ia akan menuluskan sesuatu pada buku diarynya.


Rama yang sedari tadi duduk di sebelah bangku Rania terus saja memperhatikannya.


"kamu gak ke kantin?" tanya Rama pada Rania.


"gak dulu deh, masih kenyang." jawab Rania.


"terus kamu mau ngapain?" tanya Rama lagi.


"mau nulis." jawab Rania singkat, kemudian ia melepas kalaung yang ia pakai.


"kenapa di lepas?" tanya Rama heran.


"nih." sambil menunjukkan bandol kunci yang ada di kalung itu. "kalau gak ada ini gak bisa di buka." jelas Rania.


Rama hanya mengangguk tanda mengerti.


Flashback off


"kalung itu, sepertinya aku pernah lihat. Itu seperti milik Rania." ucap Rama seketika. Hal itu membuat Randana berkeringat dingin.


"ya.. yang pu.. puunya kalung ini banyak kok kak." jelas Randana sedikit tergagu.


"tapi Rania pernah bilang jika yang memilki kunci itu hanya Rania dan adiknya, dan kunci itu berpasangan sama buku diary milik Rania. Aku juga baru ingat jika kamu memiliki buku yang sama dengan milik Rania. Tapi kata Rania buku itu edisi terbatas, lalu kenapa kamu bisa punya?"


Randana masing mematung dan bingung harus berbicara apa lagi, apakah di memang harus jujur kepada Rama.


"Randana." panggil Rama menggunakan nama asli Randana, sedangkan yang di panggil hanya menoleh pada empunya.


"itu kan nama asli kamu, dan bukan Nadia." lanjut Rama.


"apa kamu..." ucap Rama menggantung.


"adik dari Rania pricilia, benarkah?" lanjut Rama.


Randana sangat terperangah ketika mendengar perkataan dari Rama.


☆☆☆☆☆


Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2