RANDANA

RANDANA
BAB 36, GAUN KEMBAR


__ADS_3

Rama dan Randana yang menyaksikan dari kejauhan sangat terkejut ketika melihat kehadiran Nila.


Bagaimana tidak terkejut, jika gaun yang saat ini Nila pakai sangatlah persis dengan gaun yang di pakai oleh Randana. Yang memebedakan hanyalah riasan rambut saja, Nila menyanggul rambutnya bak Cinderella.


Rama dan Randana saling tatap tak percaya, terutama Randana. Ia sudah berfikir apakah mungkin gaun yang Nila pakai saat ini juga pemberian dari Rama, tapi kenapa Rama memberikan gaun yang sama seperti miliknya.


Rama jadi semakin bingung, bagaimana ia akan menjelaskan tentang gaun itu? Sedangkan ia sudah terlanjur mengakui jika gaun itu adalah pemberiannya. "Apa ini sudah direncanakan? Tapi siapa?" batin Rama bertengkar saat ini.


"Kak?" panggil Randana pada Rama, "Apa Kak Rama juga memberikan gaun pada Nila?" tanya Randana tiba-tiba.


Rama segera mengeleng dengan cepat ketika pertanyaan itu mulai dilayangkan.


"Lalu?" tanya Randana yang masih bingung, kenapa bisa ada dua gaun yang sama persis. Mungkin jika gaun itu yang memakai orang lain, Randana tidak akan memepertanyakannya. Tapi ini yang memakainya adalah Nila, sahabatnya sendiri.


"Maaf, sebenarnya baju itu yang mengirimkan bukan aku." ungkap Rama, ia harus mengakuinya karena Rama takut jika ternyata ada yang mencoba menjebaknya.


"Tapi di nama pengirim itu ada nama kak Rama." ucap Randana.


Kening Rama langsung mengerut ketika mengetahui kenyataannya.


"Tapi aku berani sumpah kalau bukan aku pengirimnya." ucap Rama meyakinkan. "Tadi aku memang mengakuinya, karena biar terkesan baik aja di mata kamu. Namun ternyata malah jadi gini." akui Rama sambil mengukur tengkuknya yang tak gatal.


lalu Randana menyicingkan sebelah matanya.


"Terus kalau bukan kak Rama, lalu siapa? Apa jangan-jangan Nila juga dapat kiriman baju itu atas nama kak Rama." ungkap Randana.


Rama hanya mengedikkan bahunya.


"Sebentar Kak Rama tunggu disini dulu! Aku mau ke kamar mandi sebentar." ucap Randana.


Randana mulai pergi meninggalkan Rama.


Rama masih tertegun memikirkan kejadian ini, ia merasa bersalah karena gaun itu, padahal ia sama sekali tidak terlibat dalam pengiriman gaun itu. Namun namanya malah terbawa dan itulah yang membuatnya gelisah.


"Baiklah para hadirin inilah kelurga besar dari Bapak Hartono." ucap MC itu.

__ADS_1


Mereka sekeluarga sudah sampai di lantai bawah, Mama Monik dan Pak Hartono tersenyum pada para tamu undangan begitupun dengan Monik. Sedangkan Nila sibuk melihat keberadaan orang yang ia cari sejak tadi, lalu matanya tertuju pada Rama yang berdiri sendirian tepat di sebelah meja yang berisi makanan. Tampaknya Rama sedang melamun disana.


"Kenapa Kak Rama sendirian, dimana Nadia? Apa Kak Rama tidak mengajak Nadia." batin Nila.


Sebenarnya Nila sendiri sedikit ragu memakai gaun yang saat ini ia pakai. ia masih bertanya-tanya apa baju itu memang benar pemberian dari Rama.


Falshback on


Setelah pulang sekolah Nila langsung menuju ke kamarnya, ia nampak pusing apakah nanti harus mengikuti acara pesta itu juga. Tapi pakaian apa yang harus ia gunakan, karena yang ada di lemarinya hanya pakaian lama. Papa nya saja sudah tidak pernah memperdulikannya, ia tidak mau bertanya pada Nila 'apa sudah memiliki gaun atau belum?' jangankan bertanya seperti itu, bertanya sudah makan atau belum saja juga hampir tidak pernah. Nila semakin ragu jika sebenarnya dia bukanlah anak kandungnya.


Tanpa berfikir panjang Nila bangit dari kasur yang di dudukinya, ia akan keluar dan menemui papanya untuk protes meminta gaun pesta yang di pakainya malam ini.


Namun saat Nila sudah hampir sampai di ruangan papanya bekerja, ia malah bertemu dengan Mama Monik. Mama Monik yang melihat gelagat nila yang mencurigakan lansung menghentikannya.


"Mau kemana kamu?" tanya mama Monik dengan nada sinisnya.


"Mau ke ruangan Papa." jawab Nila pelan.


"Ngapain kamu mau ke ruangan Papamu?" tanya Mama Monik lagi.


"Waduh bisa gawat kalau ni anak laporan ke papanya, bisa-bisa aku di amuk entar. Padahalkan papanya memang udah ngasih aku uang buat belikan Monik dan Nila gaun, tapi aku memang sengaja aja buat gak ngbeliin dia gaun. Biar dia pakai gaun yang lama aja." batin Mama Monik dengan perasaan yang gelisah meski mampu tertutupi.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi mau ke ruangan papa." ucap Nila.


"Eh... Tunggu_" ucap Mama Monik terpotong karena tiba-tiba ada pelayan yang membawa sebuah paket.


"Permisi nyonya tadi ada kurir yang mengirimkan paket ini untuk Nona Nila." ucap si Pelayan itu.


Nila lalu menoleh pada pelayan yang berada di belakangnya.


"Paket buat saya?" tanya Nila sambil mengangkat satu alisnya.


"Iya Non, ini." ucap pelayan lalu memberikan paket itu pada Nila, Lalu Nila menerimanya.


"Terima kasih." ucap Nila, lalu pelayan itu pun pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Nila sempat bingung siapa yang mengirim paket itu, lalu ia melihat nama si pengirimnya. Betapa terkejutnya ia ketika nama pengirim itu tertulis nama Rama.


Tanpa melihat ke arah Mama Monik, Nila langsung pergi ke kamarnya begitu saja.


Ketika di kamar ia meletakkan paket itu di kasurnya, ia juga mencoba membuka paket itu. Paket pun sudah terbuka, sekarang hanya tersisa sebuah kardus yang bertuliskan merek GUCCAI. nila mulai membuka kardus itu, dan ternyata kardus itu berisi gaun berwarna biru muda.


Bukannya senang mendapat gaun baru, Nila malah bertanya-tanya "Mengapa kak Rama mengirimkan gaun ini, atau mungkin Nadia yang menyuruhnya. Tapi kenapa bisa tahu kalau aku belum memiliki gaun. Namun jika Nadia yang memberinya kenapa tidak memakai namanya saja sebagai si pengirim." batin Nila,


Nila malah berfikir jika gaun itu bukan murni dikirim karena inisiatif Rama, bisa saja itu adalah akal-akalan Randana/Nadia yang memakai nama Rama.


Flash back off


"Apa aku samperin kak Rama saja ya." batin Nila.


Nila melihat situasi yang saat ini terjadi, Papanya terlihat sedang berbicara dengan rekan kerjanya, sedangkan Mama Monik berada disebelah Papanya. Monik sendiri terlihat sedang berfoto bersama teman-temannya. Nila yang sedari tadi tidak dianggap akhirnya memutuskan untuk menemui Rama yang sedari tadi berdiri sendiri karena di tinggal oleh Randana ke kamar mandi.


Setelah sudah berada tak jauh dari Rama, akhirnya Nila memanggilnya "Kak Rama?" sapanya.


Rama yang mendengar langsung menoleh ke arah suara itu.


"Ni.. nila." gagapnya.


"Kak Rama kok sendirian, memangnya gak barengan sama Nadia?" tanya Nila.


"Nadia lagi ke kamar mandi." jawab Rama.


"Oh." sahut Nila singkat.


"Emmhh... O iya kak, ngomong-ngomong makasih ya udah kirimin aku gaun ini." ucap Nila, Rama langsung melotot terkejut karena hal yang di khawatirkan akhirnya terjadi.


"Anu... i... itu... Bukan aku yang mengirim." ungkap Rama dengan jujur.


"Hah!! Terus." ucap Nila bingung, tapi di fikirannya sedari tadi memang sudah menduga jika bukanlah Rama yang mengirimnya. Mungkin itu memang akal-akalan Nadia atau Randana itu.


☆☆☆☆☆

__ADS_1


Besambung...


__ADS_2