
"Sebenarnya..." Randana menggantungkan ucapanya.
Rama terlihat sangat antusias mendengar perkataan yang akan diucapkan Randana.
Randana mengamati keadaan sekitar, ia takut jika ada orang lain yang juga mendengarkannya.
"Sebenarnya.... Aku punya nama lain selain nama Nadia." Celetuk Randana, untung saja ia sempat memikirkan ide tersebut ketika ingin berjalan ke tempat kontraknya.
"HAH... maksutnya." Ucap Rama yang masih belum mengerti maksud dari Randana.
"Iya dan nama lain aku itu Randana kak." Ucap Randana.
"Kok bisa?" Tanya Rama.
"Nama asli aku ya Nadia, kalau yang Randana ini nama panggilan dari papa yang di kasih ke aku kak." Elak Randana, ia berharap jika Rama mempercayai ucapannya.
"Papa aku kebiasaan manggil pakai nama Randana kak, jadi aku terngiang-ngiang deh. Apalagi sekarang aku kangen banget sama Papa karena lama banget gak ketemu." Ucap Randana, sebenarnya dia sedang berkata yang sebenarnya tentang Papanya. Randana tiba-tiba ikut terbawa suasana ketika mengenang sang Papa yang sudah tiada.
Seketika Rama merasa tidak enak karena telah merusak suasana hati Randana, padahal ia tidak berniat seperti itu.
"Memang Papa kamu kemana?" Tanya Rama berhati-hati.
Randana tersenyum melihat kearah Rama.
"Papa aku sekerang lagi kerja di luar kota kak." Jawab Randana singkat.
"Jadi kamu tinggal sendirian disini." Ucap Rama sambil mengamati keadaan tempat tinggal Randana.
"Iya kak, ini udah keputusan aku buat tinggal sendiri di sini." Jawab Randana.
"Kenapa?" Tanya Rama.
"Sebenarnya Papa aku juga udah ngelarang sih kak, tapi aku ngeyel. Aku cuma mau belajar mandiri aja sih senenarnya." Jawab Randana sambil tersenyum ke arah Rama.
Rama pun juga membalas senyuman Randana.
"Kamu keren Nad, udah berani beda dari yang lain."
__ADS_1
"Aku jadi teringat sama seseorang yang punya pemikiran yang sama kayak kamu." Ucap Rama.
Terlihat Rama sedang memikirkan sesuatu yang membuat Randana juga bingung melihat sikap Rama.
~flasback on~
Rama berjalan menuju mading sekolah, ia nampak mendapati seseorang yang tidak asing sedang berada di depan mading tersebut.
" Rania..." Panggil Rama, ternyata seseorang itu adalah Rania.
Rania terlihat fokus memandangi mading tersebut hingga ia tidak mendengar jika Rama sedang memanggilnya.
"Hey..." tegur Rama saat sudah berada di dekat Rania.
Rania tersontak kaget
"Ihhh... Rama nganggetin tau." Ucap Rania dan spontan mencubit pinggang Rama.
"Aw..aw..." pekik Rama sambil menghindari cubitan Rania yang sebenarnya tidak sakit.
"Ya maaf aku gak denger, lagi fokus nih." Ungkap Rania yang kemudian melihat mading lagi.
"Emang itu apaan sih." Tanya Rama, dan ia pun juga menatap ke arah mading.
"Lomba baca puisi." Jawab Rania sambil tersenyum.
"Menurut kamu gimana kalau aku ikut lomba ini?" Tanya Rania pada Rama.
"Ya bagus dong, kamu kan dari dulu juga jago baca puisi." Jawab Rama.
"Mau aku tunjukin ke adik aku." Ucap Rania, senyumnya selalu lebar ketika mengenang Randana. Sesayang itu ia pada Randana.
"Dari dulu sikap kamu gak berubah kalau udah berurusan sama adik, aku aja yang pengen kenal sama adikmu gak pernah dikenalin." Sindir Rama.
"Gak mau ya, entar di gebet lagi." Ucap Rama yang tak kalah sengit.
"Iya lah, terakhir lihat dia tuh waktu kita kelas satu SMP Ran, ingat nggak cantik banget adikmu." Jelas Rama.
__ADS_1
"Iya lah..."
~flashback~
"Kak Rama, Kak... Hallo...KAK RAMA." Teriak Randana, langsung membuat Rama tersontak kaget.
"Kak Rama kenapa?" Tanya Randana.
"Gak apa-apa kok, aku cuma lagi keingat sama Rania. Aku baru inget deh kalau dia kan punya adik perempuan." Ucap Rama.
Randana seketika terkejut ketika mendengar perkataan Rama.
"Emang iya kak?" Tanya Randana.
"Dulu aku sempel ngelihat wajahnya waktu masih ada di bangku SMP." Ucap Rama.
Uhuk...uhuk...
Randana tiba-tiba tersedak ketika mendengar ucapan Rama.
"Kamu kenapa Nad..., bentar aku ambilin minum.ya. Dimana minumnya."
Randana menunjuk air yang berada di dalam, dan Rama bergegas mengambilnya.
"Minum dulu." Perintah Rama dan memberikan minumannya pada Randana.
Randana pun meminum air itu
"Kamu kenapa Nad?" Tanya Rama.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1