
\*\*\*
Kecurigaan Randana pada Monik sudah mulai dalam, bahkan kini ia bertekat ada untuk mencari cara supaya kebusukan Monik terbongkar.
Setelah pulang sekolah Randana kembali mengunjungi makam Rania seperti biasanya. Ia tidak pernah bosan untuk mengunjungi makam kakaknya itu.
Namun ada yang aneh dengan makam kakaknya itu, Randana melihat sebuket mawar merah yang tergeletak di sebelah nisan Rania.
Randana mengambil bunga itu dan melihat-lihat bunga tersebut. Nampak bunga itu dibeli dari toko bunga yang sama seperti toko langganan gadis misterius itu.
"Pasti bunga ini dari gadis misterius itu lagi." bisik Randana.
Kali Randana mencoba mengunjungi toko bunga itu lagi dan berharap ia tau tentang sosok gadis misterius itu.
Sesampainya di toko bunga, ia segera menuju ke bagian kasir.
"Maaf mbak kalau boleh tau siapa yang baru saja membeli bunga ini." tanya Randana pada kasir itu sambil menunjukkan bunga yang ia bawa dari makam Rania.
Kasir itu hanya terdiam tanpa jawaban.
"saya mohon mbak karena bunga ini sangat mengganggu saya, saya janji hal ini tidak akan merusak privasi pembeli." mohon Randana.
"Baik, kalau begitu saya akan kasih tau." kasir itu mulai mengecek buku laporan pembelian.
"Bunga ini di beli atas nama Sakura." ucap kasir tersebut
Randana merasa bertanya-tanya pasalnya ia tidak pernah tau tentang orang yang bernama sakura. Apa mungkin orang itu menggunakan nama samaran.
"Baik mbak terimakasih." ucap Randana dan segera meninggalkan toko bunga itu.
Randana pulang dengan fikiran yang masih bertanya-tanya. Ia merasa belum puas dengan informasi yang ia dapatkan.
__ADS_1
\*\*\*
Pagi ini Randana berangkat terlambat ke sekolah karena ia bangun kesiangan, sehingga ia harus mendapatkan hukuman sebelum masuk ke kelas.
Ia di hukum untuk membersihkan kamar mandi.
Namun, beberapa menit kemudian setelah ia selesai membersihkan kamar mandi. Tiba-tiba Monik dan salah satu temannya yang bernama Reta memasuki kamar mandi.
Randana yang melihat mereka segera bersembunyi di kamar mandi yang terletak di bagian pojok.
Mereka tampak sedang berdandan sambil berbincang-bincang.
"pokoknya cepat atau lambat si upik itu harus segera di lenyapkan, gue gak mau dia jadi penghalang gue dan nyokap untuk kuasain harta bokapnya dan setelah si upik itu lenyap gue yang akan kuasai harta bokapnya." ucap Monik.
"Berarti kita cepat atau lambat harus atur rencana." timpal Reta.
Randana terkejut dengan apa yang di ucapkan monik, ia tidak menyangka jika monik benar-benar sekejam itu.
Tiba-tiba ada sesuat yang hingga di pundak Randana, ia menyadari dan melihat ke arah pundaknya. Ternyata itu adalah cicak yang jatuh di pundaknya.
Dengan spontan Randana teriak.
Monik dan Reta yang mendengar terikan itu pun merasa terkejut karena ia fikir jika di ruangan itu hanya ada dirinya dan Reta ternyata ada orang lain juga yang bersama dengannya.
Monik dan Reta segera pergi ke arah asal teriakan itu.
Betapa terkejutnya mereka berdua ketika mengetahui keberadaan Randana.
"Sejak kapan lo disini hah cewek sialan." teriak Monik.
Randana terkejut ketika mereka berdua mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
Monik segera menyeret Randana dan membawanya keluar ke kamar mandi
"Lepas."
Monik membenturkan tubuh Randana ke tembok tampak Randana kesakitan di bagian punggungnya.
"heh cewek mata empat, apa aja yang udah lo denger hah." bentak Monik.
"aku gak dengar apa-apa kok kak." elak Randana.
"halah gak usah pura-pura bego deh lo."
Reta tampak membisikkan sesuatu ke telinga Monik.
"gue tau lo mines kan." ucap Monik dan mencabut kaca mata Randana yang ia pakai.
"jangan kak jangan." teriak Randan.
Tangan kanan Monik memegang kedua pipi Randana.
"lo gak usah ikut campur urusan gue atau elo yang bakal gue lenyapin." ancam Monik.
Monik segera melepaskan pipi Randana dan melemparkan kaca matanya ke lantai kemudian pergi meninggalkan Randana.
Randana masih syok dengan kejadian itu. Sebenarnya ia bisa saja melawan Monik, namun selama belum keterlaluan ia mencoba untuk tetap diam.
Ia mengambil kaca matanya yang berada di lantai, kaca mata itu tampak sedikit retak.
"untung saja bukan kaca mata mines." lirih Randana.
.
__ADS_1
.
Bersambung