
"Kak, ayo kita kejar wanita itu." ajak Randana.
"Gak usah!"
"Kenapa?" tanya Randana.
"Percuma kita kejar, kita gak akan ketemu jejaknya. Mendingan kita lihat aja bunganya, pasti tertera nama toko dimana bungan itu dibeli." usul Rama.
"Kak sebelumnya aku pernah pergokin wanita itu, dan setelah aku cek ternyata namanya Sakura. Aku gak tahu itu nama samaran atau bukan." jelas Randana.
"Kamu serius dia adalah wanita yang kamu maksud." ucap Rama.
"Ayo kita cek bunga yang ada di makam." ajak Randana.
Kemudian mereka berdua berjalan ke arah makam Rania, dan dilihatnya buket bunga yang berada di atas makam Rania.
"Benar kan kak, itu alamat toko bunga yang pernah aku cek." ucap Randana.
"Flowrara." gumam Rama membaca nama logo yang ada di buket itu.
"Ini kebetulan yang sangat menguntungkan." ucap Rama.
"Kenapa kak?" tanya Randana.
"Kamu tahu gak? buket bunga ini belinya di toko milik kakak ipar aku." jawab Rama.
"Kak Rama serius."
"Iya, habis ini kita kesana buat cari tahu kebenarannya." ujar Rama.
Setelahnya mereka menaburkan bunga ke makam Rania dan tak lupa membacakan doa untuknya.
Setelah selesai dari makam Rania, mereka berdua segera menuju ke toko bunga milik kakak ipar Rama. Sesampainya disana, Rama segera memarkirkan motornya. Kebetulan sekali, di depan tokonya sekarang sudah ada Rara yaitu pemilik toko bunga itu tepatnya kakak ipar Rama dan juga Rio kakak dari Rama, atau suami Rara. Rio dan Rara tampak baru keluar dari toko. Saat melihat kedatangan Rama dan Randana, mereka sontak menoleh pada keduanya.
"Eh Rama, tumben kesini?" sapa Rara.
"Siapa bro? Pacar?" tanya Rio yang sedikit kepo.
Rama menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Eum, iya." jawab Rama sedikit kikuk, Randana juga sedikit salah tingkah.
"Oh, jadi kesini mau belikan bunga buat DOI'nya ya?" ledek Rara, yang menoleh pada suaminya. Keduanya pun tersenyum kecil.
__ADS_1
"Eh, bukan. Aku mau ada perlu sama kak Rara sebentar." celetuk Rama.
"Adekmu emang gak romantis banget deh yank, kurang peka banget diledekin begitu." adu Rara pada suaminya. Rio malah terkekeh kecil dengan aduan istrinya itu.
"Kak serius! Ada hal penting yang mau aku tanyain ke kak Rara." rengek Rama.
"Buruan sana di ladenin deh yank, nanti ngambek malah berabe. Bisa-bisa dia ngadu ke bunda." ucap Rio.
"Hmm."
"Yaudah, aku mau ke kantor lagi. Tuh buruan di ladenin." pamit Rio.
"iya, hati-hati ya sayang." sahut Rara, yang kemudian menyalami tangan suaminya. Setelah itu Rio segera masuk ke dalam mobil.
"Pergi dulu ya." teriak Rio yang sudah berada di dalam mobil. Rama hanya mengangguk sedangkan Randana tersenyum.
Setelah Rio sudah pergi meninggalkan mereka semua, barulah Rara mengajak mereka untuk berbicara di dalam ruang kerjanya. Randana dan Rama segera duduk di sofa yang terletak di ruang kerja Rara.
"Ada apa? Tumben banget mau bicara penting sama aku." tanya Rara tanpa basa basi.
"Eum, jadi kedatangan aku kesini cuma mau tanya soal salah satu pelanggan kakak." jelas Rama.
"Pelanggan?"
"Dan sepertinya dia juga pelanggan tetap di toko ini." sahut Randana.
"Tunggu, pelanggan mana yang kalian maksut? masalahnya yang langganan bunga di toko ini juga banyak. Tadi yang beli bunga di toko ini juga banyak. Dan maaf kalau aku boleh tahu? Ada hubungan apa kalian sama pelanggan itu?. Bukannya apa-apa, tapi kakak udah punya peraturan untuk tidak mengusik kenyaman privasi pembeli." tutur Rara.
"Maka dari itu kak, kita kesini untuk mencari tahu orang itu siapa. Dia udah mengusik kenyamanan pacar aku kak, karena selalu ngirimin bunga terus menerus." ucap Rama berbohong. Dia sengaja mengarang cerita, supaya kakaknya tidak terlalu curiga jika dia dan Randana sedang menjalankan misinya.
"Kamu yakin bunganya belinya di toko ini?" tanya Rara.
"Yakin kak, karena ada logo tokonya kak Rara." jawab Rara.
"Ok tunggu sebentar." ucap Rara, kemudian ia berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Tak lama kemudian, Rara masuk kembali ke dalam ruangan kerjanya sembari membawa buku besar. Lalu dia duduk kembali ke kursinya.
"Apa kalian sudah tahu informasi tentang orang itu?" tanya Rara.
"Waktu itu aku pernah ngecek kesini kak, dan kalau tidak salah nama pembeli itu sakura." ucap Randana.
"Sakura ya."
__ADS_1
Rara segera membuka buku besar itu, dan mengecek pelanggan hari ini yang beratas nama Sakura.
"Ada!" seru Rara.
"Apa mugkin kakak tahu orang itu, atau alamatnya?" tanya Dika.
"Kalau pelanggan yang di catat di buku ini, biasanya dia memang sudah pesan sebelumnya dan hanya tinggal mengambil pesanannya." jelas Rara.
"Jadi apa kakak tahu orang itu?" tanya Rama.
"Kakak gak tahu, tapi mungkin kakak tahu nama akun sosial medianya apa." ucap Rara, dia segera mengambil handphone yang berada di hadapannya. Rara terlihat sedang mengotak-atik isi handphone itu.
"Disini nama akunnya tertulis Sakura, dan kalau profilnya gak ada foto, feednya juga kosong, dia gak mengikuti siapapun. Kayaknya akun ini memang di gunakan untuk privat. Dia gak pakai akun asli." jelas Rara. "Tapi tadi dia nge DM kakak, katanya bunganya mau diambil sekitar jam 11, kakak ada CCTV di depan, kalau kalian mau lihat siapa orangnya boleh kok." lanjut Rara.
"Serius kak!"
"Yaudah kalian kesini, kita lihat bersama."
Randana dan Rama langsung bergegas menghampiri Rara, mereka berdiri tepat di belakang Rara. Sedangkan Rara mulai mengotak-atik mesin komputernya, dia menekan perangkat yang menunjukkan tempat menyimpan rekaman CCTV.
"Kita lihat di jam 11."
Mereka menyaksikan dengan seksama. tepat di pukul 11:25, terlihat seorang wanita berpakaian serba hitam masuk ke dalam toko bunga itu. Wajahnya tak nampak jelas, karena wajahnya tidak menghadap ke sisi kamera. Namun di rekamannya, wanita tidak menggunakan kerudung, masker, dan kacamata. Mungkin jika wanita itu berbalik arah, akan terlihat wajahnya.
"Iya, wanita itu yang kita lihat tadi kak. Aku ingat karena tadi dia pakai baju itu." ucap Randana.
"Kalian udah ketemu sama dia?" tanya Rara.
"Hampir kak, tapi kita gak lihat jelas wajahnya seperti apa." sahut Rama.
Lalu mereka melihat kemabali rekaman itu. Dalam rekaman itu, nampak si wanita sedang menunggu bungan yang masih di persiapkan. Tak lama kemudian pelayan itu memberikan bunganya pada sang wanita. Setelahnya wanita itu berbalik arah.
"Berhentikan dulu kak Rekamannya." perintah Rama. Lalu Rara menghentikan videonya.
"Kak bisa di Zoom." ucap Rama. Kemudian Rara mengezoom video itu.
"Aku gak pernah lihat wajah dia sebelumnya kak. Kak Rama kenal?" tanya Randana yang menoleh pada Rama.
"Wajahnya seperti gak asing. Tapi siapa ya....."
☆☆☆☆☆
__ADS_1
Bersambung...