
Bel sudah berbunyi, petanda waktunya jam istirahat. Semua siswa sudah berbondong-bondong untuk keluar kelas hendak menikmati waktu istirahat. Terkecuali Randana dan Nila.
Sedari tadi Randana tak berani memulai percakapan dengan Nila, bahkan saat jam istirahat juga telah usai. Nila kali ini juga terbebas dari tugas sekolah Monik dan ia memutuskan untuk beranjak dari bangkunya.
"Nila kamu mau kemana?" Tanya Randana ketika melihat Nila beranjak dari kursinya.
"Mau ke keperpus." Jawab Nila dengan ketus.
"Aku ikut ya." Cicit Randana yang berharap diterima oleh Nila.
"Aku kan udah pernah bilang sama kamu kalau sementara aku pengen sendiri dulu, jadi aku mohon kita gak usah barengan dulu." Jawab Nila, yang mampu menghantam hati Randana.
Kemudian Nila segera pergi meninggalkan Randana, Namun Randana segera mengejarnya dan ia berhasil menggenggam tangan Nila saat nila sudah berada si luar pintu.
Dengan kasar Nila melepaskan pergelangan tangannya yang saat ini dipegang oleh Randana.
"Kenapa, apa sebabnya kamu marah sama aku?" Tanya Randan dengan penuh penegasan. Nila masih terpaku.
"Kalau ini soal kak Rama, kamu tenang aja aku gak akan dekat-dekat lagi sama kak Rama asal kita masih temenan. Waktu itu kamu juga pernah ngomong itu kan ke aku." Cerca Randana, dan sepatah katapun Nila masih tak mampu menjawab.
"Kalau waktu itu kamu ngajak aku untuk bersaing sehat, tapi kalau sekarang biar aku aja yang ngalah." Jelas Randana.
Nila hanya tersenyum kecut melihat penuturan Randan.
"Secara tidak langsung lo udah ungkapin kalau lo memang ada perasaan sama Kak Rama." Ungkap Nila, dan kali ini Randana lah yang terdiam.
"Lo harus selesaikan dulu perasaan lo ke Kak Rama setelah itu lo bisa temuin gue lagi. Dan sekali lagi untuk saat ini kita gak usah ngobrol dulu." Ucap Nila, kemudian pergi meninggalkan Randana.
Randana bagai tertusuk panah ketika mendengar ucapan Nila, ia sama sekali tak berkutik dan masih terpaku di tempat itu.
Sedang dari sisi lain yang tak nampak dari posisi Randana dan Nila, ada tiga pasang mata yang melihat percakapan antara Nila dan Randana.
"Kayaknya rencan kita berhasil deh nik buat bikin mereka bertengkar." Ucap laura.
"Sedikit lagi, kita bikin hubungan mereka benar-benar rusak dan selamanya gak akan temenan lagi." Ucap Monik dengan bangga.
"Dengan begitu lo akan lebih gampang lenyapin Nila dan kuasain harta bokap tiri lo." Sahut Reta.
Dengan senyum penuh kemenangan Monik sangat bangga bahwa sebentar lagi ia akan berhasil mengusai harta ayah tirinya bersama ibunya.
__ADS_1
Hari ini monik dan genknya memang hendak menuju ke kelas Nila dan Randana, namun sebelum kesana mereka malah disajikan dengan pemandangan yang membuat mereka senang.
Monik memang hendak menuju ke kelas Nila tetapi bukan untuk menemui Nila meainkan akan menemui Randana.
Setelah percecokannya dengan Nila, Randana memutuskan untuk beristirahat di kelas saja. Ia nampak bingung apa yang harus ia lakukan agar bisa berdamai dengan Nila lagi.
Saat Randana akan memasuki kelas, Monik segera memanggilnya.
"Heh cupu." Panggil Monik pada Randana.
Randana segera menoleh ke arah suara itu.
Namun ia tidak menyaut panggilan Monik.
"Tenang gue gak akan ganggu lo kok, gue cuma mau ngasih ini ke lo." Ucap Monik seraya memberikan kertas yang terlihat seperti undangan.
"Ini undangan acara ulang tahun gue, dan lo harus datang ke acara gue besok malam." Ucap Ambar lagi.
"Ngapain kak Ambar ngundang aku, bukannya Kak Ambar gak suka sama aku ya?" Tanya Randana.
"Banyak tanya deh lo, tinggal ambil aja kenapa sih. Lagian gue jarang-jarang kali ngundang adik kelas, cuma lo yang gue undang karena lo temen adik gue." Jawab Monik sambil menaruh paksa undangan itu ketangan Randana, lalu Randana segera mengambilnya.
Awalnya Randana berfikir cukup aneh jika tiba-tiba Monik mengundangnya, namun jika ini berkaitan dengan Nila ia akan pertimbangkan, bisa saja ini menjadi kesempatan Randana untuk memperbaiki hubungannya dengan Nila.
*****
Waktu sudah menunjukkan pulang sekolah, tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut Randana dan Nila.
Suasana di antara mereka masih kaku, dan dingin.
Kali ini Randana akan menunjukkan pada Nila jika ia akan mengabaikan Rama di hadapannya. Bahkan saat ini Rama sudah menunggu Randana di depan kelasnya. Ia sengaja untuk keluar dari kelas tepat di depan Nila, agar Nila tahu jika ia sudah menjauh dari Rama.
"Nad kita pulang bareng yuk." Ajak Rama.
Tanpa menjawab ajakan Rama, Randana pergi begitu saja.
"Kamu kenapa sih," ucap Rama sembari mengejar Randana.
"Kan aku udah bilang ke kak Rama kalau aku gak suka sama kakak, aku mau pulang sendiri." Ucap Randana dengan ketus. Kemudian pergi meninggalkan Rama.
__ADS_1
Sedangkan Rama masih terpaku di tempatnya.
"Kenapa masih diam disini kak, kenapa gak di kejar. Mungkin dia bersikap gitu karena masih merasa gak enak sama aku, tapi sepertinya dia suka kok sama kakak." Jelas Nila yang tiba-tiba berada di sebelah Nila.
Merasa termotivasi Rama langsung menoleh ke arah Nila dan tersenyum padanya.
"Makasih." Ucap Rama yang kemudian mengejar Randana.
"Meski gak sama aku yang penting kak Rama bahagia, dari pada sama aku tapi gak bahagia." Lirih Nila.
*****
"Nadia tunggu." Teriak Rama, sembari mengejar Randana.
Tanpa menyaut, Randana segera berjalan cepat. Tanpa di sangka Dika mengendarai motornya tepat di sebelah Randana.
"Kak Dika tunggu, boleh nebeng gak?" Tanya Randana seketika, kemudian Dika mengehntikan motornya.
Tanpa pikir panjang Randana segera menaiki motor Dika, lalu Dika segera memberikan helm pada Randana. Mereka pun segera melaju meninggalkan Rama yang baru saja sampai di tempat Randana baru saja berdiri.
"Kamu kenapa sih Nad." Lirih Rama.
Tanpa pikir panjang Rama segera menuju ke motor bebeknya yang berada di parkiran, lalu segera melajukan motornya untuk mengejar Randana.
Mungkin motor Rama tidak secepat motor Dika yang bermerek Ninja itu, tetapi ia tau dimana Randana akan berhenti. Secepat mungkin Rama segera melajukan motornya menuju kontrakan Randana.
*****
Randana dan Dika telah sampai di jalanan depan gank menuju rumah kontrakannya Randana, dan Dika menghentikannya disana. Lalu Randana segera turun dari motor Dika.
"Sory kalau gue kepo, lo kenapa sih sama Rama." Tanya Dika.
"Gak apa-apa kok kak, cuma masalah pribadi saja." Jawab Randana yang tak ingin Dika tahu.
"Oh ok, kalau gitu gue cabut dulu." Ucap Dika.
"Thanks kak." Ucap Randana dan di angguki oleh Dika kemudian pergi meninggalkan Randana.
*****
__ADS_1
Bersambung