RANDANA

RANDANA
BAB 6, GADIS MISTERIUS


__ADS_3

Setiap pulang sekolah Randana selalu mengunjungi makam kakaknya itu, seperti hari ini ia pergi ke makam kakaknya lagi.


Namun kali ini bukan untuk mengunjungi makam Rania, melainkan untuk menyelidiki gadis mistrius yang satu bulan lalu datang ke makam Rania.


Randana tidak pernah membuang bunga itu, dan terbiarkan berada di sebelah nisan Rania hingga bunga itu sudah terlihat kering.


Ia mengambil bunga itu, dan dilihatnya di bagian bungkus bunga yang ternyata masih tertempel sebuah logo yang bertuliskan "flowrara".


"Pasti itu nama toko bunganya." Lirih Randana.


Ia pun segera pergi meninggalkan makam Rania dan menuju ke tempat toko bunga itu berada.


Toko bunga itu rumayan jauh dari permakaman, hingga Randana harus memesan taksi untuk pergi ke sana.


Setelah sampai di toko bunga itu, Randana segera masuk ke sana.


"Ada yang bisa saya bantu." Sapa salah satu karyawan yang berada di toko itu.


Toko bunga itu rumayan besar, sehingga memiliki banyak karyawan.


"Maaf saya cuma ingin bertanya, apa satu bulan lalu ada seorang perempuan yang memesan buket bunga mawar." tanya Randana pada karyawan yang berada di bagian kasir.


"Satu bulan yang lalu itu banyak yang pesan buket bunga mawar, saya tidak ingat." Jawab karyawan itu.


"Memangnya tidak ada buku daftar pembeli ya kak." tanya Randana lagi.


"Maaf dek buku itu privasi jadi tidak ada yang boleh lihat, karena takut menyalahi privasi pembeli." Jawabnya.

__ADS_1


Randan hanya mengeluh pasrah mendengar ucapan karyawan tersebut.


Kini Randana menuju ke arah pulang dengan hasil yang kosong, ia benar-benar tidak bisa mendapatkan bukti satu pun.


Ia tidak tahu harus melakukan apa agar bisa menangkap si penabrak itu dengan cepat.


"Sampai waktunya tiba aku yakin pasti suatu saat akan terbongkar, SECEPATNYA." lirih Randana.


\*\*\*


Randana turun dari taksi yang telah mengantarnya pulang, ia mulai berjalan ke tempat kontrakannya yang berada di perkampungan tersebut.


Kontarakannya memang memasuki gang yang kecil, sehingga mobil taksi pun tidak bisa mengantarnya masuk sampai di depan kontrakannya.


Karena jarak toko bunga itu rumayan jauh dari kontrakan Randana, akhirnya membuat Randana harus pulang di saat langit sudah gelap.


Saat Randana mulai memasuki gang, tiba-tiba ia merasa jika ada seseorang yang sedang membuntutunya. Namun, saat Randana menoleh tidak ada satupun orang yang berada di sana.


Namun benar saja ternyata ada orang yang sudah mengikutinya, dan orang itu semakin mendekati Randana.


Tanpa rasa takut, Randana segera membalikkan tubuhnya dan melihat orang yang telah mengikutinya.


"Om Toni." Pekik Randana. Ternyata orang yang mengikuti Randana sedari tadi adalah Toni.


"Om kenapa bisa ada disini?" Ucapnya lagi.


"Hah... sia-sia dari tadi om ngumpet, ternyata kamu lebih peka dari dugaan om." Ucap Toni.

__ADS_1


"Om tau Randana ada di sini dari siapa?" tanya Randana.


"Jangan sebut om Toni kalau gak bisa nyari alamat kamu dengan mudah." Jawab toni.


Randana segera mengajak Toni untuk singgah di kontrakannya.


"Jadi apa alasan kamu apa, sampai harus pergi diam-diam dari om." Ucap Toni.


"Maaf om, Randa gak ada maksud buat tinggalin om. Randa cuma mau ungkap orang yang udah nabrak kak Rania om." Lirih Randana.


"Kamu itu seharusnya ngomong sama om, kalau mau bertindak sesuatu. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu gimana." Omel Toni pada Randana.


"Aku cuma takut, kalau om Toni malah gak izinin Randana buat pergi sendiri." Jawab Randana.


"Jelas om gak akan izinkan kalau kamu pergi sendiri." Jelas Toni.


"Emang om Toni mau temenin Randana?" tanya Randana.


"Setidaknya om bakal carikan kamu orang buat bisa bantu kamu." Ucap Toni.


"Kenapa gak tinggal di Rumah aja?" tanya Toni.


"Yang ada itu bakal hancurin Rencana Randa om." Jawab Randana.


"Ya udah itu terserah kamu, kalau misal ada apa-apa kamu langsung hubungin om." Ucap Toni.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2