
Laki-laki itu mengambil ponsel Randana yang berada di tangan Monik.
Monik terkejut dengan kedatangan laki-laki itu secara tiba-tiba.
Monik menatap tajam laki-laki itu.
"kenapa? Lo mau ponsel ini." ucap laki-laki itu yang ternyata Rama.
Monik mencoba untuk ambil ponsel itu dari Rama, tapi karena tubuh Rama yang terlalu tinggi sehingga tidak dapat di jangkau oleh Monik.
Rama terlihat mengotak atik ponsel milik Randana dan miliknya.
"udah gue hapus di ponsel Nadia, kalau lo mau nyerang mending serang aja gue karena udah gue kirim rekaman itu ke ponsel gue." ucap Rama sambil melihatkan ponselnya.
"Resek ya kalian." teriak Monik.
Monik dan dua temannya segera pergi meninggalkan mereka.
"kalian gak apa-apa?" tanya Rama.
"Rok Nila basah nih kak." jawab Randana yang sudah berada di samping Nila.
"nih aku ada uwang lebih, kamu pakek buat beli rok di koperasi." ucap Rama sambil memberikan uang pada Nila.
"gak usah kak, aku punya rok cadangan kok di loker." jawab Nila.
"oh gitu, buruan kamu ganti kalau gitu." perintah Rama. Ia memberikan ponsel milik Randana.
"Makasih ya kak." ucap Randana.
"lain kali kalau kalian kenapa-kenapa jangan sungkan buat hubungin aku, tadi aku udah simpen nomor aku di ponsel Nadia." ucap Rama.
Randana dan Nila mengangguk kompak.
__ADS_1
Mereka pun segera meninggalkan kantin, sedangkan Nila dan Randana pergi ke loker untuk mengambil rok cadangan milik Nila.
"kak Rama baik ya Nad." ucap Nila.
"Kamu suka sama kak Rama." tanya Randana.
"gak tau Nad, tapi aku kagum aja sama kak Rama dia baik banget dari dulu." jawab Nila.
Entah kenapa perasaan Randana tiba-tiba ada yang aneh, padahal ia sendiri tidak punya perasaan apapun pada Rama. Hanya saja Randana juga suka pada sifat Rama yang suka membantu.
Setelah berganti selesai berganti rok, mereka segera menuju ke kelas.
Saat akan menuju bangkunya Randana terkejut karena buku pensil dan semua barang-barang yang berada di tasnya berserakan di atas bangku.
"Kenapa jadi kayak gini." seru Randana.
"Tadi kak monik yang kesini terus keluarin barang-barang di tas kamu. " ucap salah satu teman kelas mereka.
Randana teringat jika ia menyimpan buku diary miliknya di tas, dan ia segera mengecek tasnya. Benar saja buku itu hilang, ia yakin jika buku itu telah diambil oleh Monik.
"Nadia." teriak Nila namun di abaikan oleh Randana.
Randana terus berlari ke arah kelas Monik tapi tidak ia jumpai, namun ada Rama yang berada di kelas itu.
Rama merasa aneh dengan sikap Randana, kemudian ia mulai mengikuti Randana.
Randana Terus mencari keberadaan Monik, sampai akhirnya ia melihat monik dan genknya berada di bangku taman. Monik memegang buku milik Randana.
"kembalikan buku itu." teriak Randana, Monik menoleh ke arah suara tersebut.
Lalu Monik berdiri dari bangkunya sambil memegang buku itu.
"Buku ini." ucap Monik.
__ADS_1
"Gak akan." ucapnya lagi.
Buku itu memang tidak bisa di buka karena ada gemboknya dan kuncinya dipakai sebagai bandul kalung oleh Randana.
"Gue gak akan balikin buku lo ini, sampai lo berhasil hapus bukti rekaman yang ada di ponsel Rama." tegas Monik.
Randana hanya terdiam mendengarkan ucapan Monik.
"ok kalau lo gak mau, tinggal gue bakar ini buku atau bisa juga sih di buka paksa terus gue sebarin deh rahasia lo yang ada di buku ini." jelas Monik dengan senyuman kemenangannya.
"Ok, aku akan hapus rekaman itu, asal kak Monik jangan apa-apakan buku itu." pasrah Randana.
"Gak usah repot-repot buat ancam Nadia, rekaman itu udah gue hapus." ucap Rama yang tiba-tiba datang menghampiri mereka sambil melihatkan rekaman yang ia hapus saat itu juga.
"Sekarang lo balikin buku Nadia, atau lo bakal berhadapan sama guru BK." ancam Rama.
Monik langsung melempar buku itu kepada Randana, dan segera meninggalkan mereka.
"Amankan." tanya Rama pada Randana.
"iya kak makasih." ucap Randana.
"ya udah gih ke kelas bentar lagi masuk." perintah Rama.
Randana hanya mengangguk.
Sedari tadi sebenarnya Dika berada juga tak jauh dari tempat itu, namun ia hanya terdiam dan mendengarkan mereka berbicara.
"Bikin ulah apa lagi Monik." lirih Dika.
.
.
__ADS_1
Bersambung