
Kami menyantap makanan yang sudah kami pesan. Sesekali mataku melirik pada Dika, terlihat dia sangat cuek. Dia juga tidak menggubris Monik yang sesekali mencoba menggodanya. Walau begitu aku merasa bersyukur karena sudah diberikan kesempatan yang langka, bisa berdekatan dengan Dika.
Kami semua telah selesai makan. Ku lihat Dika mulai beranjak dari kursinya, juga diikuti oleh Monik dan genknya. Monik terlihat menyamakan langkahnya dengan Dika, bahkan tak segan untuk menggandengnya. Agak benci sih melihatnya, tapi aku bisa apa?.
"Gak usah pegang-pegang bisa gak sih." ucap Dika pada Monik, sembari melepaskan gandengan tangan Monik.
"Ih.. Aku kan cuma pengen bareng kamu Dika." ucap Monik dengan nada dimanja-manjakan.
"Tapi gak usah gandeng-gandeng bisa gak." ucap Dika kemudian berlalu meninggalkan Monik, namun tetap saja Monik membuntuti Dika.
Aku sedikit kesal melihat peristiwa itu, sampai tak sadar jika Rama juga memperhatikanku.
"RANIA." panggil Rama yang menyadarkan lamunanku.
"Iya." sahutku.
"Ngelamun aja, entar kesambet lo." ucap Dika.
"Masih jam kos nih, enaknya kemana?" tanya Dika.
"Ke perpus aja yuk." ajakku tanpa berpikir.
"Ok." sahut Rama. Kemudian kami pun berjalan menuju ke perpustakaan.
Setelah sampai di depan perpustakaan, kami pun segera masuk. Terlihat tidak banyak anak-anak disana bahkan dapat dihitung oleh jari dan tentunya ada guru penjaga perpus.
Rama menuju di rak buku yang terdapat banyak komik, karena ia sangat suka membaca komik. Sedangkan aku menuju ke rak buku yang menyimpan buku-buku tentang sejarah. Tampak ku lihat ada anak perempuan yang juga sedang mencari buku-buku tentang sejarah. Aku pun tersenyum pada gadis itu, ketika kami sudah berada di jarak yang cukup dekat.
"Suka baca buku sejarah juga?" tanyaku pada gadis itu.
"I-iya kak." ucap gadis itu.
"Kamu kelas berapa?" tanyaku lagi.
"Masih kelas 10 kak." jawabnya malu-malu.
"Oh masih kelas 10! Jurusan IPA atau IPS? tanyaku.
__ADS_1
"IPA kak, kakak kelas berapa?" tanyanya.
"Kelas 11." jawabku. Gadis itu hanya mengangguk.
"Oh ya, nama kamu siapa?" tanya ku sembari mengulurkan tangan.
"Nila."
"Aku Rania." kami pun saling berjabatan tangan.
"Kamu kenapa gak nonton pertandingan di luar." tanya ku.
"Gak suka keramaian kak." ucapnya.
"Sama dong, mangkanya aku juga ke perpus. Ngomong-ngomong kamu sendiran." ucapku.
"Iya kak." jawab Nila.
"Ya udah kalau gitu, nanti kamu baca bukunya gabung sama akau aja. Kebetulan aku sama teman aku." ajak ku.
"Emm... memangnya gak apa-apa kak?" tanya Nila penuh ragu.
Setelah kami mengambil buku pilihan masing-masing. Kami pun bergegas menemui Rama yang sudah duduk di bangku kusus untuk membaca. Aku pun mengenalkan Nila pada Rama, dan mereka saling berkenalan.
Dari peristiwa ini lah aku mengenal gadis yang bernama Nila, kami selalu kemana-mana bertiga setiap jam istirahat. Nila sebenarnya adalah gadis yang periang, bahkan sesekali dia tak segan menceritakan masalahnya kepadaku bahkan meminta solusi. Aku tak pernah keberatan sama sekali dengan ceritanya, bahkan aku sangat senang memiliki teman dekat yang bahkan sesama perempuan karena jika bersama Rama aku bahkan tidak bisa seterbuka ini. Nila juga mengingatkanku dengan adik perempuanku satu-satunya yaitu Randana, karena memang mereka seumuran.
Namun peristiwa saat ini membuatku sangat terkejut. Tak ku sangka jika Nila adalah adik Monik. Aku tau itu, ketika mereka turun dari Mobil yang sama. Dan saat jam istirahat, langsung ku tanya kepada Nila. Memang benar jika Nila adalah adik Monik tepatnya adalah adik tiri Monik.
***
Berbulan-bulan rasa kagumku semakin bertambah kepada Dika. Namun kali ini agak berbeda dengan Dika yang sebelumnya. Meskipun Dika yang sebelumnya ada pria yang cuek dan dingin, tapi dia masih menampakkan sisi positifnya. Yang ku tahu Dika adalah laki-laki yang rajin dan tetap hangat meskipun cuek, sesekali juga dia tersenyum untuk menyapa teman-temannya sesama laki-laki. Tetapa kali ini berbeda, setelah empat hari tidak masuk sekolah dan semenjak itu lah sikap Dika jadi berbeda. Bahkan Monik yang selama ini menempel terus pada Dika, juga sudah terlihat menghindari Dika.
"Kenapa???" batinku penuh tanya.
Aku lebih sering melihat Dika menyendiri di taman, bahkan dia juga sudah jarang pergi ke kantin. Padahal selama ini Dika selalu menghabiskan jam istirahatnya bersama teman-temannya di kantin.
Kali ini aku juga semakin yakin akan perubahan sikap Dika. Saat jam pulang sekolah, tampak Dika berjalan menuju tempat parkir dan aku berada jauh di belakang Dika. Ketika Dika berjalan, ku lihat ada seorang siswa tak sengaja menabrak bahu Dika.
__ADS_1
"Lo sengaja ya nabrak gue." sentak Dika.
"Maaf, aku gak sengaja." ucap siswa itu sembari menyatukan tangannya untuk memohon ampun.
"Alahhh lo sengaja kan."
Dengan penuh emosi Dika langsung melemparkan tinju pada siswa laki-laki itu, padahal siswa itu sudah memohon untuk meminta maaf. Aku berlari untuk melerai pertengkaran mereka, agar tidak bertambah panjang dan melukai salah satunya. Saat berada di sana aku pun berjongkok untuk mengahalangi tinjuan Dika pada siswa itu, tak kusangka aku malah malah tertinju oleh Dika. Tiba-tiba pandanganku terlihat kabur dan semua menjadi gelap, meski samar-samar ku dengar seseorang memanggil namaku.
Aku pun mulai tersadar, samar-samar mataku terbuka. pandangaku sudah mulai jelas melihat pada atap yang berwarna hijau muda.
"Rania, kamu sudah sadar." terdengar suara yang tak begitu asing.
Aku mulai melihat sekeliling ruangan, yang ternyata aku sudah berada di dalam UKS dan kini aku tertidur pada brankar. Aku melihat dua laki-laki yang berada di sebelah kiri dan kananku. Yang pertama ku lihat adalah Rama dengan wajah yang begitu cemas. Lalu kemudian aku melihat pria di sisi lain, ternyata itu adalah Dika.
"Lo udah sadar, bagus deh kalau lo gak kenapa-napa." ucap Dika.
"Kalau bukan karena lo, Rania gak akan pingsan kayak gini." sentak Rama.
"Lagian siapa juga yang nyuruh dia buat tiba-tiba ada di depan gue gitu aja. Kan ketonjok lo." ucap Dika
"Heh, lo mestinya minta maaf bukan malah nyolot gitu." teriak Rama.
"Udah-udah kepala aku masih pusing nih, kalian malah berantem." teriak Rania sembari memegang kepalanya. Mereka pun langsung diam dan menghentikan perdebatannya.
"Gue minta maaf." ucap Dika seketika.
"Seharusnya lo gak usah minta maaf sama gue, lo harus minta maaf sama siswa yang udah lo tonjok tadi. Lagian dia memang gak sengaja kok, malah lo tojok gitu aja." ungkap ku.
"Tenang aja, gue udah minta maaf kok sama dia. Dan gue juga udah ganti rugi. Puas kan lo."
"Ya udah lo kan udah sadar, jadi gue mau pulang." ucap Dika.
"Eh eh enak aja main pulang gitu, lo harus tanggung jawab dong." ucap Rama.
"Gue udah tanggung jawab, dia juga udah bangun. Kurang apa coba." sentak Dika.
"Anterin Rania pulang!" perintah Rama, yang membuatku tersontak kaget.
__ADS_1
☆☆☆☆☆
Bersambung...