
"Pak jalanin taksinya buruan jangan berhenti." Perintah Randana pada supir taksi itu.
Sebelum laki-laki itu sampai menuju ke arah taksi yang Randana tumpangi, supir itu sudah melaju kencang meninggalkan laki-laki tersebut.
Laki-laki itu segera menuju kembali ke motornya dan mengejar taksi yang Randana tumpangi.
Randana sadar jika laki-laki itu berganti mengejarnya, dan menyuruh supir taksi untuk melaju lebih kencang lagi.
"Agak cepat pak." Perintah Randana.
Taksi itu benar-benar melaju dengan kencang.
Tapi, motor yang di kendarai laki-laki itu juga tak kalah kencang dengan taksi yang di kendarai Randana.
Sampailah Randana pada perempatan lampu lalu lintas, sebelum lampu menyala merah taksi itu segera melaju. Namun, laki-laki itu tertinggal dan berhenti karena lampu lalu lintas sudah menyala merah.
Hufftt...
Nafas lega akhirnya bisa Randana rasakan setelah laki-laki itu berhenti mengejarnya.
Kemudian Randana menyuruh supir taksi untuk mengatar kerumahnya.
__ADS_1
\*\*\*
Seperti biasa pemandangan pagi yang menjengkelkan setiap hari, membuat Randana ingin sekali membentak Monik yang selalu seenaknya saja pada Nila.
"Nih tolong antarin tas gue ke kelas, gue mau cabut dulu ke kantin. O ya jangan lupa lo kerjakan tugas yg gue kasih tadi di rumah, entar gue ambil." Perintah Monik pada Nila.
Nila segera mengambil tas yang sudah di kasih oleh monik, dan monik segera menuju ke kantin bersama ke dua temannya yang sedari tadi sudah menunggu.
Randana yang berada tidak jauh dari mereka segera menemui Nila.
"Di suruh lagi Nil?" tanya Randana
"Iya nih Nad, aku gak tau sampai kapan ini semua bakalan berakhir." ucap Nila.
"Kamu benar sih Nad, tapi aku cuma takut kalau papa gak bakal percaya lagi sama aku."
"Kalau kamu gak salah, kamu gak perlu takut Nil." Ucap Randana.
Tiba-tiba sepeda bermerek Ninja melaju melewati Randana dan Nila yang masih berdiri di area parkir sekolah.
Randana mengamati montor itu dengan amat tajam, karena motor itu mengingatkan Randana pada motor yang ia lihat kemarin.
__ADS_1
Ternyata motor itu milik Dika.
"Nadia kamu kenapa?" tanya Nila pada Randana, yang melihat tingkah anehnya sedari tadi.
Randana tersadar jika sedari tadi dirinya tidak fokus pada Nila.
"Kak Dika misterius banget ya." ucap Randana.
"Memang gitu dia dari dulu."
"Kenapa kamu suka ya... sama kak Dika." ledek Nila.
"Enggak kok cuma tanya aja habisnya sok misterius banget." Sangkal Randana.
"Oh iya aku sempet dengar dari kak Rama kalau katanya dulu kak Dika sempat dekat sama yang namanya kak Rania, kamu tau itu?" tanya Randana.
"Iya emang benar, kak Rania itu ibarat cinta pertamanya kak Dika meskipun mereka belum sempat pacaran sih. Tapi berkat kak Rania, akhirnya kak Dika jadi pribadi yang baik. Namun, setelah kak Rania meninggal kak Dika kembali ke dirinya yang dulu lagi." jelas Nila.
"Kasian juga ya kak Dika." lirih Randana.
Ternyata yang kemarin datang ke makam Rania memanglah Dika, itulah yang sekarang terbesit di otak Randana.
__ADS_1
Setelah sekian lama rasa penasarannya akhirnya terjawab juga, Randana kini sudah mengetahui tentang beberapa masalah Dika.
Namun, masih banyak perihal yang harus Randana pecahkan penabrak kakaknya dan kejadian di gudang.