
"Tunggu sebentar, bukannya waktu peristiwa meninggalnya kak Rania, kak Monik ada di sekolahan ya. Jangan-jangan...."
Nila mulai memutar balikan pikirannya, mengingat lagi kejadian terakhir bersama Rania.
"Tapi aneh jika kak Rania kecelakaan secara tiba-tiba, pelakunya juga gak tanggung jawab, apa mungkin ini ulah kak Monik." gumam Nila.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan dari pintu kamarnya mengagetkan lamunannya. Nila lansung beranjak dari kamarnya dan membuka pintu kamarnya.
"Mbak Nila disuruh bapak buat ikut makan di bawah." ucap pembatu rumah tangganya
"iya bik makasih, nanti Nila ke sana." jawab Nila.
Nila beranjak masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya, lalu ia mulai turun untuk menemui seluruh anggota keluarganya yang sedang menikmati makan siangnya.
Ia duduk di kursi yang bersebelahan dengan Monik, rasanya nampak kikuk berada di situ seperti keluarga yang asing baginya.
Mereka bertiga tampak nikmat memakan makan siangnya sementara Nila, sama sekali seperti tak nafsu makan. Bagianya Handoko bukan lagi seperti seorang ayah yang dulu pernah menemaninya.
"Pa Nila udah kenyang kayaknya Nila gak bisa lanjuin makan." ucap Nila kemudian berdiri dan meninggalkan mereka.
Mereka bertiga hanya memandang datar Nila tanpa satu katapun.
"Lihatkan pa Nila tu gak punya rasa terima kasih deh sama papa. Dia juga gak ngehargain Monik pa, padahal tadi siang aku cuma pengen duduk sebelahan sama dia pas di kantin, masak dia malah sengaja siram air ke rok aku. Untung aja Monik bawa rok ganti." jelas Monik.
"yang bener sayang, tapi kamu gak apa-apakan." ucapa mama Monik.
"enggak apa-apa kok ma."
"Tapi papa jangan marahin Nila ya, Monik mohon pa." ucap Monik.
"Ini gak bisa di biarin dong sayang, papa harus kasih pelajaran ke Nila." ucap Handoko.
__ADS_1
Monik dan mamanya saling menatap memberi kode kemenangan.
Beberapa menit setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, Handoko segera menghampiri Nila di dalam kamarnya.
Dengan muka yang penuh dengan emosi, Handoko langsung saja mengetuk pintu kamar Nila.
Tok.. Tok.. Tok..
"Nila buka pintunya" teriak Handoko.
Nila yang tadinya sedang mengerjakan tugas rumahnya langsung tersontak kaget ketika mendengar suara papanya. Ia langsung berdiri untuk membukakan pintu kamarnya.
"iya pa ada apa?" tanya Nila dengan muka polosnya.
Handoko menatap tajam Nila.
"Apa benar tadi kamu siram Monik di sekolah?" tanya Handoko terus terang
"Enggak kok pa." jawab Nila.
"Enggak pa, Nila beneran gak ngelakuin itu." elak Nila.
"Penjahat mana mau ngaku sih pa. " ucap Monik
"Papa udah capek bilang ke kamu berapa kali, kamu sudah punya keluarga baru yaitu Monik sama mamanya. Papa mohon kamu bisa ngerti Nil, kamu bukan anak kecil lagi yang bisa papa manja terus." jelas Handoko.
"PA meski Nila bohong atau enggak papa enggak pernah mau dengerin Nila kan pa. Nila capek pa selalu di salahin dan gak pernah di dengar. Terus aja papa belain ANAK TIRI KESAYANGAN PAPA ITU DAN ISTRI TERCINTA PAPA." sentak Nila yang sudah kepalang emosi.
"NILA... " teriak Handoko, tangannya hampir saja mendarat di pipi Nila. Namun, tiba-tiba Handoko menghentikan gerakan tangannya.
"Kenapa pa gak jadi pukul Nila, ayo pa pukul... Sejak kepergian mama dan papa menikah lagi, papa udah gak pernah peduli sama Nila." ucapan terakhir Nila, setelah kemudian ia masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Tubuh Nila kini sudah tersungkur di lantai, tangisnya benar-benar pecah dan tak mampu terbendung.
__ADS_1
Sedangkan Handoko tampak menyesali perbuatannya yang hampir saja menampar pipi putrinya itu.
"Pa." panggil Mama monik pada suaminya itu.
Namun Handoko mengabaikannya dan langsung pergi begitu saja ke kamarnya.
"Ma... Cepat atau lambat kita harus singkirin si upik itu." bisik Monik pada mamanya itu. Mama monik hanya mengangguk tanda menyetujui.
\*\*\*
Pagi yang cerah meningkatkan semangat Randana untuk berangkat sekolah lebih awal seperti yang ia lakukan biasanya.
Namun hari ini ia tidak menemukan taksi kosong yang lewat di jalanan dekat rumahnya.
Tiba-tiba seorang pengedara motor pespa menghampiri Randana yang berada di pinggir jalan.
"Nadia.." panggilnya sambil membuka kaca helmnya, dan ternyata itu adalah Rama.
"Kak Rama."
"Belum berangkat?" tanya Rama
"Belum kak, masih nunggu taksi." Jawab Randana.
"Ya udah dari pada lama nungguin taksi mending bareng aku aja." tawar Rama.
"tapi kak."
"gak apa-apa lagi pula kan satu arah." ucap Rama.
Randana sedikit berpikir, jika ia berangkat bersama Rama lalu Nila melihatnya mungkin ini akan sedikit rumit. Tapi apa boleh buat jika terus menunggu taksi maka Randana akan terlambat ke sekolah.
.
__ADS_1
.
Bersambung