
Bianca mencoba menghubungi Anisa, perempuan itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya. “Anisa,” panggil Bianca dengan suara ketusnya saat teleponnya terhubung.
“Ada apa Bianca?” tanya Anisa santai. Ia tengah duduk di kursi mobil jemputannya.
“Gara-gara kamu Reagan marah, aku di dorong ke kolam ikan. Tanggung jawab kamu, bajuku basah. Aku malu,” keluh Bianca.
Anisa menutup mulut dengan tangannya, ia ingin tertawa namun tak mau membuat Bianca semakin marah. “Aku sudah di jalan menuju rumah, maaf ya aku tidak bisa membantumu,” ucap Anisa dengan nada menyesal tidak bisa menolong sahabatnya yang kesulitan karena perbuatannya.
Bianca berdecap kesal, ia mematikan sambungan teleponnya. Tidak ada yang bisa Bianca lakukan kecuali ia berjalan ke loker mengambil baju olah raga. Bianca keluar dari toilet dengan mengendap. Baru saja mau keluar dari area toilet wanita Bianca mendengar suara seseorang yang berbicara. Dengan cepat Bianca kembali masuk ke bilik toilet.
“Kamu lihat kan tadi Reagan mendorong wanita ke kolam?” Bianca mendengar ucapan tersebut dengan sangat jelas.
“Iya, malu banget tuh cewek pasti. Lagian dia berani-beraninya berurusan dengan Reagan. Sudah tahu Reagan terkenal sebagai pria tidak berhati meskipun pada perempuan.” Satu temannya ikut menyahut. Terdengar suara gemericik air, sepertinya Mereka mencuci tangan sambil mengobrol.
__ADS_1
“Iya makanya sudah enggak ada deh cewe yang berani dekat Reagan.”
Bianca kini menjadi menguping obrolan orang lain.
“Iya, bahkan sampai saat ini Reagan masih jomblo. Kayaknya semua cewek yang suka sama dia, lebih baik memendam perasaan deh dari pada di buat malu sama Reagan.”
Bianca menekuk wajahnya, dua wanita itu tampaknya ingin bergosip bukan ingin ke toilet.
Bianca duduk di closet dengan tangan yang menopang dagunya. Sudah dua puluh menit lamanya wanita tersebut masih berbincang ke sana kemari. Dan Bianca sudah tidak ingin mendengarnya lagi, apalagi tubuhnya terasa sangat dingin.
Bianca mendengar suara siswi tersebut keluar dari toilet segera keluar dari bilik. Ia sudah sangat kedinginan, dan bosan menunggu. Bahkan kini tubuhnya sudah tidak meneteskan air lagi. Dan rambutnya sudah setengah kering.
Bianca berjalan keluar dari toilet menuju loker dengan menundukkan wajahnya. Jam pulang sudah lewat tiga puluh menit, keadaan sekolah tidak terlalu ramai. Sesampainya di deretan loker. Bianca mengeluarkan kunci loker miliknya, ia mengambil baju olah raga dan kembali ke toilet untuk berganti baju.
__ADS_1
Bianca sudah selesai berganti pakaian. Ia menyisir rambutnya yang lepek menggunakan jemarinya. Setelah di rasa penampilannya sedikit lebih baik, Bianca segera keluar dari toilet menuju tempat ia biasa di jemput.
Sopir Bianca sudah menunggu kedatangan majikannya dari lima belas menit sebelum bel berbunyi, namun kali ini sepertinya Bianca pulang terlambat.
Dengan sigap sopir Bianca membukakan pintu mobil. Bianca masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Langsung pulang Nona?” tanya sopir Bianca.
“Iya, langsung pulang saja,” jawab Bianca. Ia ingin segera sampai rumah, badannya terasa sangat kedinginan.
“Baik Nona.” Sopir Bianca segera melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.
Sesampainya di rumah Bianca segera masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya dan segera menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.
__ADS_1
Badan Bianca sedikit menggigil. Ia sangat ingin istirahat dan pergi tidur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.