
Fiona mengetuk pintu kamar Bianca. Hari sudah mulai sore namun Bianca tidak kunjung makan siang. “Bianca,” panggil Fiona.
Fiona membuka pintu kamar Bianca yang ternyata tidak di kunci, ia masuk dan melihat selimut yang menggulung. Fiona mendekat dan menarik selimut tersebut.
Bianca kembali menarik selimutnya saat merasa tubuhnya kedinginan.
Fiona menahan selimut yang di tarik Bianca, punggung tangannya menempel pada kening Bianca. Ia merasakan suhu badan Bianca cukup tinggi.
Fiona pergi ke dapur meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan sup hangat. Sementara dirinya membawa alat kompres untuk menurunkan demam Bianca.
Selesai dengan urusannya, Fiona kembali ke kamar Bianca dengan alat kompres. Ia memeras handuk dan menempelkannya pada dahi Bianca.
“Mom,” panggil Bianca saat merasakan sesuatu yang basah menempel di keningnya.
“Ada apa sayang?” sahut Fiona.
Perlahan Bianca membuka kelopak matanya dan menatap Fiona. “Bianca demam Mom,” lapor Bianca.
“Momy sudah tahu,” jawab Fiona. Ia menatap pakaian Bianca yang mengenakan pakaian olah raga, seingatnya Bianca tidak ada pelajaran olahraga hari ini. Fiona menatap Tas Bianca yang tergeletak di bawah, ia mengambilnya dan melihat isinya baju basah serta seluruh bukunya ikut basah.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan Bianca?” tanya Fiona dengan nada serius, seolah tak ada lain waktu untuk menanyakan hal tersebut.
“Reagan mendorongku ke kolam ikan, gara-gara aku menertawakannya,” jawab Bianca dengan nada lesu.
“Harusnya kamu tahu sifat dia seperti itu, mengapa mencari masalah dengannya.”
Bianca terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Fiona. “Kenapa Mommy jadi menyalahkan aku?”
“Lalu kamu mau apa? Mommy melabrak Reagan kah?”
Bianca mengangguk dengan pasti. “Dia menurunkan aku di jalanan, dia juga yang merusak ponselku. Sekarang dia membuatku malu dan sakit seperti ini,” ucap Bianca mengadukan perbuatan Reagan.
Fiona menutup matanya, ada amarah besar yang hendak keluar dari dalam dirinya. Fiona bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Bianca.
[Iya, ada apa?]
Fiona menutup teleponnya begitu mendapatkan petunjuk, ia segera ke garasi masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kantor Filio.
Fiona langsung masuk ke dalam ruangan CEO tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.
__ADS_1
Filio yang tengah duduk di meja kerjanya menatap kehadiran sang adik yang tampak menahan amarah.
Fiona menggebrak meja Filio dengan kedua tangannya. “Tidak bisakah kamu mengurus anakmu Fio?”
Filio menaikkan sebelah alisnya, ia tidak mengerti dengan ucapan sang adik. “Ada apa?”
“Reagan mengganggu Bianca, aku tidak terima atas perbuatannya. Kamu harus memberikan hukuman kepadanya!”
“Hukuman apa?” tanya Filio. Ia sudah kehabisan akal untuk membuat Reagan agar jera terhadap hukuman yang ia berikan.
“Jangan beri dia uang sepeser pun, dan lagi sita semua motornya. Dia tega menurunkan Bianca di jalanan,” ucap Fiona meluapkan sedikit emosinya.
“Tidak akan mempan, aku sudah mencoba menyita semua ATMnya. Dia memiliki usaha di usia mudanya yang baru aku ketahui beberapa bulan lalu. Untuk motor, dia bisa membeli dengan uangnya sendiri tanpa bantuanku,” ungkap Filio.
Wajah kesal Fiona berubah menjadi terkejut, dia tidak menyangka Reagan bisa sehebat itu di usia mudanya. “Lalu bagaimana kamu mendidiknya jika Reagan tidak takut padamu dan merasa bisa melakukannya semuanya?”
Filio mengangkat kedua bahunya, ia sudah kehilangan cara untuk menjadikan Reagan anak yang dapat di banggakan.
Melihat wajah kakaknya yang tampak pasrah, membuat Fiona tidak bisa mendesak agar Filio memberikan hukuman pada Reagan. “Bianca sampai demam karena ulah Reagan, kali ini aku maafkan. Tapi jika lain kali dia berbuat macam-macam lagi pada anakku, aku sendiri yang akan berbicara langsung pada Regan.”
__ADS_1
Filio mengangguk setuju. “Bagaimana keadaan keponakanku?” Tanya Filio.
Pertanyaan Filio seolah menyadarkan Fiona jika ia belum memberikan Bianca obat. “Demam, tapi aku belum memanggil dokter. Karena terlalu kesal dengan tingkah Reagan sehingga memutuskan kemari dan melupakan anakku,” jawab Fiona dengan wajah polosnya.