
Seorang penjaga kelab menghampiri tubuh Reagan yang tertunduk di meja bar.
“Pergilah, kelab sudah mau tutup,” ujar pria tersebut.
Reagan mengangkat kepalanya yang terasa berat. Ia keluar dari kelab tersebut dengan langkah sempoyongan menuju tempat mobilnya terparkir.
Reagan merogoh kunci mobilnya, dan masuk ke dalam. Kepala Reagan masih terasa berat, ia menyandarkan punggung dengan mata terpejam.
Reagan merasakan getaran dari dalam saku celananya, ia merogoh dan melihat panggilan masuk ke ponselnya dari Filio. Reagan menekan tombol merah dan membuang ponselnya sembarangan.
Kepala Reagan berdenyut ia mengingat kembali kejadian semalam yang membuatnya berakhir di kelab.
_-Flashback-_
Setelah pekerjaannya selesai, Reagan memutuskan untuk pulang. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut dengan tatapan penuh amarah dari Filio.
__ADS_1
Reagan memandang wajah sang ibu yang tampak khawatir. “Ada apa?”
“Kamu berpacaran dengan Bianca bahkan menc’ium Bianca di tempat umum. Apa kamu tidak malu Reagan?”
Reagan menaikkan satu alisnya. “Lalu apa masalahnya?”
Mendengar jawaban Reagan yang terdengar sangat enteng membuat kemarahan Filio semakin menjadi. “Putuskan Bianca dan jauhi dia. Seharusnya kamu menjadi contoh yang baik sebagai kakak, bukan malah menjadikan saudaramu sebagai pacar,” bentak Filio.
Reagan berjalan begitu saja melewati Filio. Baginya apa yang di bicarakan sang Ayah sangat tidak penting.
“Tidak akan pernah,” ucap Reagan setengah berteriak tanpa membalikkan tubuhnya, kakinya terus melangkah menuju kamarnya.
Filio sangat kesal pada sikap Reagan yang tidak pernah mau mendengar ucapannya. Filio sudah kehabisan cara agar Reagan mendengar ucapan orang tuanya. Filio berjalan dengan cepat, tangannya terkepal sangat erat. Tangan kiri Filio menarik bahu Reagan agar menghadapnya sementara tangan kanan Filio menghujam bogem mentah ke wajah Reagan. “Anak tidak tahu diri!”
Mulut Sahira terbuka saking terkejutnya, ia tidak menyangka Filio kehilangan akal sehatnya hingga berani memberikan pukulan pada Reagan.
__ADS_1
Bibir Reagan menyeringai, seolah tak merasakan sakit mendapat pukulan dari sang Ayah. “Pukul lagi!” tantang Reagan.
Filio mundur satu langkah dengan perasaan bersalahnya. Ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
Sahira mendekati tubuh putranya. “Reagan tak habis pikir kenapa ibu mau menikah sama pria kasar seperti dia yang pernah di penjara!” ketus Reagan.
“Kenapa kamu tidak pernah percaya bahwa Ayahmu tidak pernah melakukan hal itu, dia di jebak,” ujar Sahira.
“Di jebak sampai masuk penjara, tidak masuk akal,” ujar Reagan ia berjalan meninggalkan orang tuanya. Satu hal yang membuat Reagan membenci Filio ia pernah menjadi bahan hinaan teman-temannya karena memiliki seorang ayah yang pernah menjadi narapidana tindak kekerasan yang hampir membunuh seorang wanita. Hal itu lah yang membuat Reagan tidak senang memiliki teman, ia lebih memilih hidup sendiri dan membuat ulah sesukanya untuk memastikan bahwa ucapan mereka benar jika Filio memang pelaku kekerasan. Namun baru kali ini Reagan merasakan kekerasan dari Filio, hal yang Reagan tunggu-tunggu selama bertahun-tahun kini terbukti adanya.
Reagan masuk ke dalam mobilnya, ia malas berurusan dengan udara dingin. Tujuannya kali ini ia sangat ingin pergi ke restoran untuk menghindari orang tuanya. Sesampainya di restoran Reagan berusaha untuk fokus, namun tidak bisa. Bayangan pukulan Filio serta hinaan dari temannya kembali berputar dan mengganggu pikiran Reagan. Belum lagi permintaan Filio yang tidak bisa Reagan ikuti. Ia mencintai Bianca, dan tidak ingin melepaskannya begitu saja.
Reagan keluar dari restoran, ia memastikan restorannya sudah terkunci dengan aman. Reagan membawa mobilnya menuju kelab terdekat. Ia ingin sedikit menenggak alkohol bersenang-senang sejenak sebelum akhirnya harus kembali menikmati kenyataan pahit.
Reagan menghabiskan satu botol minuman yang membuatnya merasakan nikmatnya minuman keras. Ia tidak kuat minum sehingga terdampar semalaman di pojok bar menikmati sensasi unik setelah menghabiskan beberapa botol minumannya.
__ADS_1
_-Flashback off-_