Reagan

Reagan
Reagan 36


__ADS_3

“Reagan, Bianca malu,” ucap Bianca pelan sambil menggigit kecil bibir bawahnya, sementara pipinya bersemu merah.


“Ayo,” ucap Reagan. Ia tidak menggubris ucapan Bianca, memilih menggenggam tangan Bianca dan berjalan menuju studio.


Sepanjang perjalanan Bianca memilih menundukkan wajahnya karena malu. Suara orang tertawa kecil saat Reagan mengecup bibir Bianca membuatnya malu setengah mati, sehingga terngiang-ngiang terus menerus di kepalanya.


Reagan menuntun Bianca sampai di tempat mereka duduk. “Reagan,” panggil Bianca tanpa berani menatap dan memilih menundukkan wajahnya.


“Kenapa?”


“Bianca masih malu, pulang saja yuk,” ajak Bianca.


“Memangnya apa yang membuat Bianca malu?” tanya Reagan dengan sabar, tingkah Bianca tidak bisa Reagan tebak.


“Karena Reagan menc’ium Bianca, tadi ada yang menertawakan kita. Bianca mau pulang Reagan,” ucap Bianca kukuh ingin tetap pulang padahal film hampir di mulai.


Reagan membawa tangan Bianca ke dalam genggamannya. “Film yang Bianca inginkan sudah mau mulai, setelah ini kita pulang.”


Rasa malu Bianca menghilang saat melihat sorot mata Reagan yang menenangkan serta sentuhan Reagan mampu membuat jantung Bianca kembali berdetak kencang, tak ada waktu untuk memikirkan orang yang menertawakannya Bianca fokus pada rasa bahagianya.


Sepanjang film di putar Bianca tidak begitu tertarik menonton, ia merasa lebih seru memperhatikan wajah serius Reagan Sambil memakan popcorn dan sesekali menatap tangannya yang di genggam Reagan.


Film telah selesai di putar orang-orang mulai meninggalkan studio. Bianca masih pada posisinya memandang Reagan.


“Kamu memperhatikanku?”


Bianca mengangguk. “Iya, Bianca puas menonton wajah Reagan yang tampan. Kenapa hidung Reagan mancung seperti ini, Bianca juga mau,” ujar Bianca sambil meraba hidung Reagan.

__ADS_1


Reagan menjauhkan wajahnya dari jangkauan Bianca, “Ayo pulang, Tante Fiona pasti mencarimu,” ucap Reagan.


Bianca ikut berdiri saat tangannya di tarik Reagan. “Tapi Bianca belum mau pulang,” ucap Bianca dengan nada merengeknya.


“Mau ke mana lagi memangnya?” Tanya Reagan.


“Keliling mall, Bianca bosan di rumah. Boleh ya,” pinta Bianca.


“Telepon Tante Fiona dulu, aku takut dia mencarimu,” usul Reagan.


Bianca mengeluarkan ponselnya dari Saku, namun saat menekan tombol power ponselnya tidak hidup. “Habis baterai, boleh pinjam punya Reagan?”


Reagan mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Bianca. Bianca melakukan hal sama namun ponselnya Reagan juga tidak mau menyala. “Sepertinya punya Reagan juga habis baterai,” ucap Bianca seraya mengembalikan ponselnya pada Reagan.


“Kalau begitu kita pulang saja.”


Reagan tidak tega melihat Bianca merengek. “Setengah jam saja, lalu kita pulang,” tandas Reagan.


Bianca tersenyum senang ke arah Reagan. “Terima kasih.” Bianca memberi kecupan pada pipi Reagan.


Reagan menatap tajam ke arah Bianca karena sembarangan mengecupnya.


“Kenapa Reagan terlihat kesal? tadi juga Reagan menc’ium bibir Bianca tiba-tiba. Ini balasan hihihi.”


Masalahnya jantung Reagan tidak aman saat mendapat kecupan dari Bianca!


Reagan menarik tangan Bianca keluar dari area bioskop. Ia menuruti keinginan Bianca yang ingin mengelilingi mall.

__ADS_1


Bianca melihat toko perhiasan, teringat akan cincin yang melingkar di jari Fiona pemberian dari Ignazio. Bianca menghentikan langkahnya, “Reagan,” panggil Bianca.


“Ada apa?” tanya Reagan ikut menghentikan langkahnya.


“Daddy kasih Mommy cincin. Bianca juga mau di kasih cincin seperti Mommy, boleh?” Pinta Bianca dengan menampilkan mata cantiknya serta senyuman Manisnya.


Reagan menarik tangan Bianca masuk ke dalam toko perhiasan. “Bianca pilih saja mau yang mana,” ujar Reagan.


Bianca menggelengkan kepalanya, “Tidak mau. Bianca maunya Reagan yang pilihkan,” Rajuk Bianca.


Reagan mendekati etalase, berbagai model perhiasan terpajang di sana. Reagan menunjuk salah satu cincin secara acak. “Yang ini saja,” ucap Reagan pada pelayan.


Pelayan tersebut mengambil cincinnya dan memberikannya kepada Bianca untuk di coba.


Dengan antusias Bianca memasukkan cincinnya ke jari manis di tangannya. Cincinnya sangat pas dan Bianca suka. “Bianca mau yang ini saja,” ucap Bianca.


Reagan tersenyum melihat wajah bahagia Bianca yang menggemaskan.


***


Ini kalian gak ada yang mau kasih aku cincin gitu, ngeces sendiri aku 😭


Aku minta like, komentar dan bunganya ya 🤭


Jangan lupa follow Instagramku @riskaalmahyra


sampai jumpa di bab selanjutnya 💕

__ADS_1


__ADS_2