
Bianca akhirnya memutuskan untuk meminta jemput dan pulang ke rumah.
Fiona yang sedang berada di ruang tengah melihat Bianca berjalan segera menyapa. “Kenapa cepat sekali belajar bersamanya?”
Bianca menghampiri Fiona dan duduk di samping ibunya.
Wajah Bianca terlihat tidak bersemangat seperti saat akan pergi. Tangan Fiona membawa kepala anaknya untuk bersandar pada bahunya.
Namun Bianca memilih memeluk tubuh Fiona. “Mommy Reagan jahat,” rengek Bianca mengadu pada ibunya.
Bianca menghela nafasnya. “Apa lagi yang anak itu lakukan padamu?”
“Bianca mengajak Reagan untuk belajar bersama, tapi Reagan bilang tidak mau dan menyuruh Bianca pulang. Bianca di usir,” tangis Bianca pecah. Di depan Fiona ia berani melakukan hal memalukan seperti ini.
Kali ini Fiona tidak bisa melakukan apa-apa selain mengusap punggung Bianca agar tenang.
“Reagan jahat Mommy, Bianca kesal,” ucap Bianca di tengah tangisnya.
__ADS_1
Bianca menangis menumpahkan seluruh rasa kesalnya yang ia tahan saat di perjalanan.
***
Bianca masuk ke dalam kelas, ia sedikit terkejut mendapati Reagan duduk di kursinya. Namun perasaan kesal Bianca kerena hal kemarin membuatnya ingin mengacuhkan Reagan. Bianca berjalan dengan langkah pelannya tanpa memedulikan Reagan. Lalu duduk di kursinya tanpa menengok ke arah Reagan sedikit pun.
Melihat sikap Bianca yang berbeda membuat Reagan tidak peduli sama sekali, baginya tak merugikan.
Bianca bersikap seperti biasanya seolah tak ada Reagan. Meskipun jauh di lubuk hatinya ada perasaan bahagia melihat Reagan duduk dan mau mengikuti kelas.
Satu mata pelajaran sudah mereka lalui, kini pelajaran kedua akan segera di mulai tetapi Sinta menghampiri meja Reagan.
Bianca mendengar dengan jelas ucapan Sinta. Setahu Bianca Jesica teman Sinta itu siswi kelas dua belas.
Yang membuat Bianca tercengang ia melihat Reagan berjalan keluar dari kelas. Padahal beberapa hari ini yang Bianca tahu Reagan tidak begitu akrab dengan murid lain. Rasa penasaran Bianca muncul ia bangkit dari duduknya.
“Mau ke mana?” tanya Anisa.
__ADS_1
“Toilet,” jawab Bianca tanpa menoleh. Ia berjalan sedikit berlari untuk menyusul Reagan.
Setelah tubuh Reagan terlihat oleh mata Bianca, ia memelankan langkahnya mengikuti irama Reagan. Lorong kelas cukup kosong karena murid masih di dalam kelas, sehingga Bianca harus mengikuti Reagan tanpa ketahuan.
Bianca mengikuti Reagan yang berjalan ke belakang perpustakaan, namun Bianca menyembunyikan tubuhnya di sudut dinding dengan kepala yang sedikit mengintip.
“Kamu tidak mengangkat teleponku.” Terdengar jelas di telinga Bianca bahwa itu suara wanita yang ada di depan Reagan, Jesica.
Bianca mengintip, ia melihat Jesica yang meraba dada Reagan. Namun Reagan menepisnya, bibir Bianca tersenyum melihat perlakuan Reagan.
“Jangan menggangguku lagi!”
Bianca menyembunyikan kepalanya. Suara Reagan terdengar sangat tegas, bahkan ini kali pertama Bianca mendengarnya.
“Aku hamil anak kamu Reagan. Seharusnya kita memikirkan janin yang ada di dalam tubuhku. Tapi kamu malah-“ ucapan Jesica terpotong karena tubuhnya di dorong hingga membentur dinding.
Mendengar suara benturan Bianca kembali mengintip, ia terkejut saat melihat Jesica yang terimpit tembok. Bianca menahan nafasnya saat melihat Reagan mencekik leher Jesica.
__ADS_1
“Jangan mengada-ada. Aku tidak pernah sudi tidur denganmu!”
Bianca menelan salivanya dengan susah payah saat tiba-tiba Reagan menengok ke arahnya. Bianca dengan cepat bersembunyi sebelum Jesica melihatnya. Dari yang Bianca dengan Jesica kerap melakukan bullying, dan Bianca tidak mau jadi target bully Jesica. ‘Mati aku, Reagan melihatku,’ batin Bianca