Reagan

Reagan
Reagan 28


__ADS_3

“Aku mencintaimu.”


Reagan mendengar dengan jelas ucapan Bianca. Namun kakinya tetap melangkah menjauh meninggalkan Bianca.


Anisa yang mendengar pernyataan Bianca sangat terkejut, ia tidak menyangka Bianca akan seceroboh itu mengungkapkan perasaannya, secepat ini dan di tempat umum.


Bianca menundukkan kepalanya, sepertinya dirinya tidak berarti bagi Reagan. Mungkin ucapan Anisa benar, Reagan menciumnya hanya untuk mempermainkan.


Rasanya Bianca sangat ingin menangis, hatinya terasa sakit. Tapi ia tidak mau menangis di sini, malu.


Anisa mendekat ke arah Bianca. Ia menarik tangan Bianca. Sementara Bianca mengikuti ke mana pun Anisa membawanya, kepala Bianca menunduk menyembunyikan wajahnya yang hampir menangis.


Anisa membawa Bianca ke toilet wanita. Mereka masuk ke dalam, beruntung toilet tersebut kosong.


Bianca menghapus air matanya yang jatuh, meskipun di depan Anisa dia tetap malu. “Jangan melihatku seperti itu Anisa,” keluh Bianca.


“Baiklah,” jawab Anisa. Ia menutup kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya.


Air mata Bianca tidak berhenti meskipun ia berusaha menghentikannya, rasa sakit di hatinya terasa sangat menyakitkan. Rasa malu, rasa di permainkan serta tidak di pedulikan membuat air mata Bianca semakin deras. Ia tidak tahu jika rasa cinta akan sangat menyakitkan seperti ini.

__ADS_1


Anisa melepaskan telapak tangannya yang menutupi arah pandangnya. Ia menatap Bianca yang menangis sambil menutup wajahnya. Ada rasa ingin tertawa melihat kelakuan Bianca, yang meminta Anisa menutup mata tapi Bianca sendiri menangis dengan menutupi wajahnya.


Anisa memeluk tubuh Bianca yang bergetar hebat. Ia tahu betul perasaan Bianca seperti apa. Anisa tidak pandai berkata-kata ia hanya memeluk Bianca tanpa berbicara.


Bianca merasakan kehangatan dari pelukan Anisa, membuatnya sedikit lebih tenang. Bianca berusaha untuk menghentikan tangisannya. “Anisa lepas,” pinta Bianca.


Anisa melepaskan pelukannya. Ia menatap Bianca yang berjalan ke wastafel dan mencuci wajahnya. Dari tempatnya berdiri Anisa hanya memperhatikan Bianca.


Bianca merasa wajahnya sedikit lebih segar, beruntung ia menangis hanya sebentar tidak membuat matanya bengkak. Meskipun sedikit memerah tapi tidak terlalu memalukan.


Bianca sudah selesai membersihkan wajahnya, ia menengok ke arah Anisa. “Kenapa menatapku seperti itu?” rajuk Bianca.


“Tapi sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku merasa malu Anisa,” tutur Bianca. Kejadian tadi memang tidak banyak di dengar oleh orang, namun rasanya Bianca tidak punya muka jika harus bertemu dengan Reagan.


Anisa menghampiri Bianca, ia menempatkan kedua tangannya pada bahu Bianca. “Kamu pasti bisa mendapatkan hati Reagan,” ucap Anisa menyemangati.


Bianca seolah mendapat kekuatan dari Anisa. Bibirnya tersenyum dan kepalanya mengangguk dengan keyakinan penuh bahwa ia bisa mendapatkan Reagan.


“Ayo kita kembali ke kelas,” ajak Anisa.

__ADS_1


Bianca mengangguk setuju, saat mereka berjalan menuju kelas berpapasan dengan wali kelas, Bu Indah.


“Bianca, “ panggil Bu Indah.


Bianca dan Anisa tersenyum ke arah wali kelas mereka.


“Iya Bu,” jawab Bianca.


“Ibu dengar pagi tadi Reagan ikut kelas ya?”


“Iya Bu.”


“Ibu senang mendengarnya, kamu memang hebat bisa membantu Reagan. Ibu menaruh harapan besar padamu, Ayah Reagan pasti ikut senang mendengar perubahan Reagan,” tutur Bu Indah.


Bianca hanya tersenyum mendengar penuturan wali kelasnya, meskipun di dalam benaknya ia masih ragu akan hal yang membuat Reagan ikut pelajaran Pertama. Namun Bianca tidak akan menyerah begitu saja, akan ada banyak orang yang ia bahagiakan jika berhasil membawa Reagan lebih baik lagi.


Anisa yang berdiri di samping Bianca memikirkan ucapan Bu Indah. Kepalanya mengambil kesimpulan, Reagan tidak serta merta masuk ke dalam kelas tanpa alasan. ‘Apa dia ingin melihat keadaan Bianca setelah kemarin berciuman?’ batin Anisa. Karena menurut Anisa sangat mustahil tiba-tiba Reagan masuk begitu saja. Belum lagi pernyataan Bianca yang mencintai Reagan tidak di tolak sama sekali, Reagan malah pergi begitu saja. Wajah Anisa sumringah, hasil pemikirannya dapat ia pasti kan bahwa Reagan juga memiliki perasaan pada Bianca.


Kalau memang tidak memiliki perasaan harusnya Reagan menolak Bianca secara terang-terangan. Mengingat Reagan yang tidak memiliki rasa iba sedikit pun, dengan teganya mendorong Bianca ke kolam dan mengusirnya. Harusnya Reagan melakukan hal Seperti itu, namun ia malah memilih pergi. Anisa menengok ke arah Bianca dengan senyuman penuh arti, ia sangat gembira dengan pemikiran briliannya.

__ADS_1


__ADS_2