Reagan

Reagan
Reagan 6


__ADS_3

Dikta memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus guru. Saat sebuah motor dengan suara khas milik kenalpot Reagan membuat Dikta sedikit berdecap kesal. Ia membuka pintu dan menatap ke arah Reagan.


“Ini tempat parkir khusus untuk guru,” ucap Dikta.


Reagan melepaskan helmnya dan menatap Dikta. “lapor aja sama Ayah,” jawab Reagan enteng. Ia berjalan meninggalkan tempat parkir.


Dikta menyesal menerima pekerjaan ganda dari Tuan Filio. Sekarang ia di buat pusing oleh tingkah Reagan. Andai saja ia tidak butuh uang untuk melanjutkan S2, dia tidak akan menerima tawaran untuk mengawasi dan melaporkan tingkah Reagan.


Dikta berjalan menyusul Reagan, dan mencegah laju langkah Reagan. Tangan Dikta mengambil rokok yang ada di saku kemeja Reagan. “Larangan Dari tuan Filio.”


Reagan tidak ingin berurusan lebih banyak dengan Dikta. Yang Reagan ingat ia pernah beberapa kali melihat Dikta bersama pria paruh baya selalu menemui Ayahnya di rumah.


Tobi siswa kelas sepuluh berjalan menghampiri Reagan dan Dikta. “Kak Reagan,” panggil Tobi.


“Helm yang kemarin Kak Reagan pinjam boleh Tobi ambil kembali?” tanya Tobi dengan nada hati-hati karena takut berhadapan dengan Reagan.


“Helmnya ada di Bianca, ambil saja,” jawab Reagan santai. Ia berjalan meninggalkan Dikta dan Tobi.


Dikta masih berdiri di sana karena penasaran dengan perbincangan Reagan dan Tobi. Setelah Reagan pergi Dikta juga ikut pergi menuju ruang guru meninggalkan Tobi sendirian.


Seingat Tobi ia kemarin melihat Reagan membonceng wanita, jadi wanita tersebut namanya Bianca. Kini Tobi harus mengambil helmnya pada Bianca. Tobi melangkahkan kakinya menuju kerumunan temannya untuk menanyakan kelas Bianca. Namun dari arah berlawanan Tobi melihat Bianca yang berjalan bersama seorang wanita di sampingnya. Tobi segera menghentikan langkahnya Bianca. “Kamu Biancakan yang kemarin pulang bersama Reagan?”

__ADS_1


Bianca menatap heran pada pria yang menghadang jalannya. “Iya.”


“Kembalikan helmku,” ujar Tobi tanpa basa-basi lagi.


“Helm apa?” tanya Bianca kebingungan. Ia merasa tidak memiliki urusan dengan pria di depannya, yang bahkan ini pertemuan pertama bagi Bianca.


“Helm yang kemarin kamu pakai itu helmku, jadi kembalikan.”


“Tidak ada, aku buang,” ketus Bianca. Ia sangat kesal jika di ingatkan pada kejadian kemarin.


“Apaa kamu buang?” pekik Tobi.


“Helm dua belas jutaku, kamu buang seenaknya saja. Kamu harus menggantinya!”


Sentakan keras dari Tobi membuat Bianca terkejut setengah mati, apalagi nominalnya sangat fantastis bagi Bianca. Dua belas juta uang jajan Bianca satu bulan. Belum lagi uang jajannya kali ini di potong setengahnya oleh Fiona karena ponsel barunya.


“Maaf,” ujar Bianca.


“Maaf saja tidak cukup, kamu harus segera menggantinya dalam waktu dua hari!”


“Apa dua hari?” tanya Bianca dengan nada terkejutnya.

__ADS_1


“Iya.”


Bianca rasanya mau pingsan mendengar tenggat waktu yang di berikan Tobi. Ia tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dua hari.


Melihat sahabatnya yang termenung meskipun Tobi sudah pergi membuat Anisa iba. Ia menepuk pundak Bianca. “Bianca,” panggil Anisa.


“Kamu bawa motor enggak Nis?” tanya Bianca.


Anisa menggelengkan kepalanya. “Di antar sopir tadi.”


Bianca memikirkan cara agar ia tidak perlu mengganti helm tersebut. Ia harus kembali ke tempat kemarin secepatnya, berharap helmnya masih ada di sana. Dari pandangannya Bianca melihat Reagan yang hendak masuk ke area belakang sekolah. Bianca berlari untuk menyusul Reagan, dari tempatnya berdiri ia melihat tubuh Reagan yang berdiri membelakangi sinar matahari membuat tubuhnya tampak seperti bercahaya. Bianca seperti melihat malaikat tampan dalam halusinasinya. Apalagi ketampanan Reagan sangat sempurna.


Regan mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celana. Ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Reagan fokus menyesap dan mengeluarkannya dengan perlahan langkah kaki yang terdengar mendekat membuat Reagan menoleh.


Bianca mengurungkan diri menyebut Reagan tampan. Dalam hidupnya Bianca tidak suka asap rokok, dan ia sangat benci pada pria perokok. “Reagan,” panggil Bianca begitu jarak dirinya dan Reagan sudah dekat.


Reagan menatap Bianca dengan tatapan tidak suka, kegiatan paginya terganggu karena kehadiran Bianca.


Bianca cukup kesal karena Reagan tidak menjawab panggilan darinya dan hanya membalas dengan tatapan. “Kamu harus bertanggung jawab mengantarku ke tempat kemarin. Tobi meminta helmnya di kembalikan.”


“Itu urusanmu, bukan urusanku.”

__ADS_1


__ADS_2