Reagan

Reagan
Reagan 19


__ADS_3

“Itu kak Luisa asal menuduh saja. Bianca kan menabrak pilar sekolah jadi waktu pulang bibir Bianca bengkak,” ucap Bianca menceritakan kejadian yang sama persis ia ceritakan pada Luisa.


Ignazio menyipitkan matanya. “Kenapa hanya bibir yang bengkak, jidat tidak kenapa-napa sepertinya?”


Bianca mengerucutkan bibirnya kala Ignazio sengaja memancing Bianca agar jujur. “Daddy,” panggil Bianca degan manja.


“Ayo cerita, Daddy ingin tahu kejadian yang sebenarnya.” Ignazio menyimpan mangkuk yang sudah kosong ke atas nampan. Bersiap untuk menyimak cerita Bianca.


Bianca terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang pas. “Bianca dan Reagan dorong-dorongan karena kesal Reagan merusakkan ponsel Bianca. Reagan dan Bianca kehilangan keseimbangan terus bibir Bianca dan Reagan bertabrakan. Jadi bengkak sudah itu saja.”


“Sudah itu saja, tidak ada adegan lain?” tanya Ignazio penasaran.


Bianca menggelengkan kepalanya. “Memangnya adegan lain seperti apa Daddy?”


Ignazio membalas ucapan Bianca dengan senyuman, ada rasa lega sekaligus khawatir karena Bianca terlalu polos di umurnya yang menginjak tujuh belas tahun.


“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Ignazio ia mengacak puncak rambut Bianca.


“Daddy, Bianca dapat tugas membantu Reagan yang tertinggal pelajaran. Karena selama masuk ke sekolah Reagan tidak ikut kelas. Reagan buat ulah terus, dan mendapatkan hukuman. Bahkan di hari pertama Reagan malah tiduran di UKS bukannya masuk ke kelas,” ucap Bianca menceritakannya.

__ADS_1


“Bianca setuju?”


Bianca mengangguk. “Maunya menolak tapi katanya hanya Bianca yang dapat melakukan tugas tersebut, jadi terpaksa Bianca terima.”


“Kalau nanti Bianca tidak sanggup, bilang pada wali kelas Bianca ya. Jangan sampai mengganggu waktu belajar kamu,” ujar Ignazio memberikan sedikit solusi untuk Bianca.


“Iya Daddy,” jawab Bianca patuh.


“Ini obatnya minum dulu.” Ignazio memberikan dua butir obat sesuai permintaan Fiona.


Bianca menerima obat tersebut dan segera meminumnya.


“Tidur ya,” pinta Ignazio mengakhiri kebersamaan mereka.


Bianca merebahkan tubuhnya, ia tersenyum saat Ignazio menyelimuti tubuhnya. “Terima kasih, Daddy.” Bibir Bianca tersenyum ke arah Ignazio.


Ignazio mengangguk. Tangannya menyalakan lampu tidur lalu berjalan mendekati stop kontak dan mematikan lampu utama. Ignazio menutup pintu kamar Bianca dengan perlahan.


Pagi harinya Bianca terbangun karena tepukan di pipinya. Mata Bianca terbuka lebar, dan langsung bertemu dengan wajah Fiona.

__ADS_1


“Bangun Bianca,” ucap Fiona.


“Ada apa Mom?” ucap Bianca dengan suara khas bangun tidurnya.


“Mandi lalu sarapan,” jawab Fiona. Ia berjalan menuju jendela kamar Bianca dan membukanya. Membiarkan cahaya mentari masuk ke dalam.


Bianca bangkit dari tidurnya, lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelannya.


“Pakai baju rumah saja, jangan sekolah dulu,” ucap Fiona. Ia tidak ingin terjadi hal-hal lain lagi jika Bianca pergi ke sekolah dengan keadaan yang belum pulih seutuhnya.


“Iya Mom,” jawab Bianca lalu meneruskan langkahnya masuk ke kamar mandi.


Bianca membersihkan tubuhnya dengan cepat, lalu berpakaian. Ia menatap kamarnya yang sudah rapi, buku-buku yang basah kemarin tertata di atas meja belajar dalam keadaan sudah kering.


Tidak ingin membuat keluarganya menunggu lama Bianca segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.


Luisa yang duduk dengan santai menunggu sarapan di mulai menengok ke arah Bianca yang berjalan. Adiknya itu terlihat sedikit lebih pucat. “Jadi kamu benar-benar sakit, aku kira hanya pura-pura,” ledek Luisa.


Bianca berjalan dan duduk di samping Luisa. “Kakak durhaka, adiknya sakit malah sibuk pacaran,” ketus Bianca. Ia kesal dengan ledekan Luisa.

__ADS_1


“Luisa, Bianca. Ayo kita mulai sarapannya,” ucap Ignazio.


__ADS_2