Reagan

Reagan
Reagan 42


__ADS_3

Sopir keluar dari mobil dan menghampiri Bianca. “Ayo Nona pulang.”


“Bapak budek ya, Bianca bilang enggak mau pulang!” kukuh Bianca.


Sopir mengambil langkah cepat untuk menghubungi Fiona. “Halo, Nyonya ini nona Bianca ada di depan rumah Reagan. Nona Bianca bersikeras tidak mau pulang,” ucap sopir melapor.


[Katakan pada Bianca jika Ignazio mau berbicara sekarang juga]


“Baik Nyonya.”


Sopir menghadap pada Bianca. “Nyonya bilang Tuan Ignazio ingin berbicara di rumah, jadi nona Bianca harus segera pulang.”


Bianca tidak langsung percaya begitu saja, pasalnya teleponnya tidak di angkat Ignazio. Bianca mencoba menghubungi kembali Ignazio. “Halo Daddy,” sapa Bianca.


[Ada apa sayang?]


“Daddy mau berbicara dengan Bianca?” tanya Bianca memastikan.


[Iya, Daddy sedang dalam perjalanan pulang. Bianca pulang juga ya.]

__ADS_1


“Iya Daddy,” jawab Bianca dengan nada lesu. Pencarian Reagan kali ini gagal, tapi Bianca juga penasaran dengan topik yang akan di bicarakan Ignazio.


Bianca akhirnya memilih menurut dan masuk ke dalam mobil. Sesampainya di rumah Bianca melihat wajah serius Ignazio dan Fiona.


Bianca duduk di kursi yang berhadapan dengan orang tuanya, ia merasa seperti sedang berada dalam ruang interogasi.


“Bianca,” panggil Ignazio.


“Iya Daddy,” sahut Bianca. Ia meremas tangannya saat melihat wajah Ignazio yang sangat serius, tidak biasanya Ignazio terlihat serius seperti sekarang.


“Bianca dan Reagan itu saudara sayang, kalian harus saling mengasihi dan menyayangi sebagai adik kakak. Tidak sepantasnya kalian berpacaran seperti ini, apalagi-“


Ignazio mengangguk. “Daddy ingin Bianca mengakhiri hubungan pacaran kalian,” ucap Ignazio dengan nada pelan agar tidak menyinggung perasaan Bianca.


“Maksudnya Daddy menyuruh Bianca putus dengan Reagan?” tanya Bianca lagi.


Fiona yang gemas akhirnya angkat bicara. “Iya Bianca putuskan Reagan, kalian itu tidak pantas berpacaran. Mommy tidak suka karena Reagan membawa pengaruh buruk padamu.”


Bianca bangkit dari duduknya. “Reagan tidak membawa pengaruh buruk pada Bianca, yang harusnya kalian perhatikan itu kak Luisa. Dia berpacaran bahkan berci’uman juga dengan kekasihnya,” ucap Bianca dengan nada yang sedikit meninggi.

__ADS_1


“Kamu juga berci’uman dengan Reagan bahkan di depan umum!” jawab Fiona.


“Bianca tidak mau putus dengan Reagan,” kukuh Bianca.


“Apa hebatnya anak tidak berguna seperti itu, kamu akan kehilangan masa depanmu jika berpacaran dengan Reagan!”


Bianca tidak suka mendengar Omelan Fiona. “Mommy tidak tahu jika Reagan sudah mulai mau belajar dan masuk kelas lagi? Jangan seenaknya berbicara seperti itu tentang Reagan, Bianca tidak suka.”


“Tidak suka kenapa? toh memang itu kenyataan. Mau jadi apa murid yang tidak di terima di sekolah mana pun, kecuali di sekolah ayahnya sendiri.”


Ignazio yang sedari tadi diam mendengarkan perdebatan istri dan anaknya akhirnya mencoba menenangkan Fiona. “Sudah sayang,” pinta Ignazio. Ia tidak bisa terlalu keras pada Bianca, apalagi Bianca sudah dari kecil mereka berikan kasih sayang tanpa mengerti sebuah larangan. Mereka selalu mencari jalan lain agar Bianca senang dengan keinginan Ignazio dan Fiona. Namun sepertinya masalah kali ini sedikit berbeda.


Bianca memilih meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang masuk. Bianca yang kesal duduk di sofa dan melemparkan tas sekolahnya.


Bianca mencoba kembali untuk menghubungi nomor Reagan namun tidak kunjung di angkat, ia juga mencoba menghubungi nomor Tante Sahira namun tidak di angkat juga. Bianca tidak pantang menyerah ia mencoba menghubungi Filio namun hasilnya sama. Bianca termenung sejenak, merasa ada yang janggal dengan semua ini. Seolah keluarga Reagan menjauh, bahkan penjaga gerbang pun tidak memperbolehkan Bianca masuk.


Bianca mengabaikan ketukan pintu di kamarnya, ia memilih diam tanpa bersuara. Sampai malam tiba Bianca belum mengganti pakaiannya, ia hanya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bermain sosial media mencari cara menghubungi Reagan. Ia sudah mencoba menghubungi teman-teman Reagan tapi tidak ada yang memberitahu tentang keberadaan Reagan.


Bianca berganti pakaian. Ia memakai cardigan untuk melindunginya dari udara malam. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang, tidak lupa Bianca membawa kartu ATM dan uang cash. Bianca membuka jendela kamarnya. Di rumah Bianca tidak terlalu ketat penjagaan, Bianca keluar dari jendela. Ia naik ke atas dinding yang membentengi rumahnya. Namun tidak semudah bayangannya, Bianca melihat sebuah tangga lipat. Bianca menggunakannya dan dapat menaiki puncak dinding. Sampai di atas Bianca kebingungan caranya untuk turun. Akhirnya dengan susah payah Bianca turun dengan melompat membuat kakinya terasa ngilu. Namun tekad Bianca sudah bulat ia ingin menemui Reagan detik ini juga.

__ADS_1


Bianca memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat, Bianca meminta di antara menuju restoran Reagan. Sesampainya di sana Bianca hanya melihat sebuah mobil terparkir, dengan keadaan resto yang sudah tutup.


__ADS_2