
“Bagus kan Mom? Ini cincin pemberian Reagan.”
“Untuk apa Reagan kasih kamu cincin?” tanya Fiona. Ia sangat penasaran mengapa Reagan memberikan cincin pada Fiona.
Bibir Bianca mengulum senyum. “Rahasia,” jawab Bianca lalu berjalan meninggalkan Fiona yang masih penasaran dengan maksud dari cincin yang di berikan Reagan.
“Ini tidak bisa di biarkan,” Ucap Fiona pelan, ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi suaminya.
“Sayang bisa pulang cepat?” tanya Fiona saat teleponnya tersambung.
[Ada apa?]
“Ada yang tidak beres dengan Bianca dan Reagan. Cepat pulang ya,” pinta Fiona. Ia merasa sedikit khawatir terlebih saat melihat wajah gembiranya Bianca menunjukkan cincin pemberian Reagan terasa sangat asing bagi Fiona, dapat Fiona pastikan Bianca menyembunyikan sesuatu.
[Baik, aku akan usahakan untuk pulang lebih cepat.]
Selesai berbicara dengan istrinya, Ignazio segera menghubungi orang yang ia khususkan untuk mengawal Bianca dari jarak jauh. “Apa yang di lakukan Bianca dan Reagan?” tanya Ignazio.
__ADS_1
[Mereka berci’uman di depan umum, dan Reagan membelikan Bianca sebuah cincin]
“Kirimkan buktinya,” titah Ignazio. Ia menutup teleponnya lalu mengecek hasil foto yang kirimkan orang suruhannya. Tangan Ignazio mengepal erat melihat foto Bianca yang di ci’um oleh Reagan.
Ignazio tidak bisa membiarkan hal ini lebih lama lagi, ia harus segera pulang dan menginterogasi Bianca. Jarak dari kantor cukup jauh, setengah jam lamanya ia di perjalanan dengan perasaan tidak tenang.
Sampai di rumah Ignazio segera menuju ke kamar Bianca. Ia mengambil nafas dalam-dalam, menenangkan perasaannya agar tidak terlalu kentara jika ingin menginterogasi. Ignazio mengetuk pintu kamar Bianca.
“Sayang,” panggil Ignazio.
Pandangan Ignazio tertuju pada kening Bianca. “Daddy dapat kabar kalau kening kamu terluka, jadi Daddy langsung pulang.”
Bianca membuka lebar pintu kamarnya. “Masuk Daddy,” pinta Bianca.
Ignazio mengikuti Bianca masuk ke kamar, Bianca duduk di sofa. Saat Ignazio ikut duduk di sofa Bianca menjadikan paha Ignazio sebagai bantalan. Melihat sikap manja Bianca sedikit menghilangkan rasa khawatir Ignazio, ia pikir akan kehilangan sikap manja putri kesayangannya.
“Kepala Bianca kenapa terluka seperti ini?”
__ADS_1
Bianca meraba keningnya. "Ini ulah Jesica Daddy, kepala Bianca di dorong ke kusen pintu. Dia tidak suka kalau Bianca dekat dengan Reagan. Malah Jesica mengancam Bianca," ujar Bianca bercerita dengan nada sedihnya.
Ignazio terdiam seketika, Bianca pasti mengalami hari yang sulit. Namun mengingat foto Bianca dan Reagan yang berciuman membuat interogasi harus di lanjutkan.
"Memangnya Jesica siapa, pacarnya Reagan?" Tanya Ignazio sengaja memancing.
"Bukan, orang pacarnya Reagan itu Bianca kok. Lagi pula Reagan tidak suka sama Jesica, bahkan Bianca melihat Reagan mencekik leher Jesica di belakang perpustakaan," ucap Bianca menjelaskan kejadian saat ia menguping pembicaraan Reagan dan Jesica.
Mendengar penuturan Bianca yang mengatakan bahwa mereka berpacaran tidak bisa Ignazio biarkan. Apalagi hal yang di lakukan Reagan terhadap Jesica membuat Ignazio memutuskan untuk memisahkan Reagan dari Bianca. Ignazio takut Reagan kehilangan kontrol dan mencekik Bianca seperti yang di lakukannya pada Jesica.
"Bianca Kenapa tidak pernah cerita pada Daddy jika kalian berpacaran?" Tanya Ignazio dengan nada sedihnya.
"Soalnya Anisa bilang kalau Bianca punya pacar tidak boleh bilang Daddy," ujar Bianca dengan polosnya.
Mendengar nama Anisa, sepertinya Ignazio harus berbuat sesuatu. Ia tidak akan membiarkan Bianca berada dalam pergaulan yang menjerumuskan.
Ignazio mengusap dengan lembut puncak kepala Bianca. ‘Daddy tidak akan membiarkanmu berada di dalam jalan yang nantinya akan merugikan masa depanmu,' batin Ignazio.
__ADS_1